Sunday, February 02, 2014

Mcdonaldisasi Perjanjian Paket Bali WTO

Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke 9 WTO telah berakhir pada tanggal 7 Desember2013 dengan menghasilkan kesepakatan perjanjian yang tercantum dalam paket Bali. Konferensi ini sempat harus diundur penutupannya yang seharusnya pada tanggal 6 Desember 2013 dikarenakan alotnya suasana perundingan yang membuat  para delegasi harus melakukan lobi-lobi hingga dini hari. Kesepakatan di Bali ini membangkitkan kembali semangat perdagangan multilateral yang sejak WTO didirikan tidak pernah mengalami kesepakatan dan selalu terjadi kebuntuan. Kesepakatan perdagangan yang tertuang dalam paket Bali ini mencakup tiga bidang yakin Fasilitas PerdaganganPertanian, dan Kapasitas Negara Miskin (LDC). Pemerintah mengklaim bahwa ketiga poin kesepakatan tersebut telah mengakomodir permintaan negara berlembangsetelah sebelumnya India secara tegas menolak adanya perjanjian dalam KTM 9 WTO ini karena tidak ingin subsidi pertanian di intervensi oleh perjanjian WTO. Belakangan India melunak dengan disetujuinya permintaan agar petani di subsidi oleh pemerintahstrategi ini kemudian membuat kesepakatan Bali semakin mendapat legitimasi untuk di setujui. Secara ringkas isi perjanjian Paket Bali tersebut sebagai berikut :

Fasilitas Perdagangankesepakatan ini adalah perjanjian yang memberi peluang ke pada swasta agar arus logistik perdagangan baik ekspor dan impor dapat berjalan secara efisien serta mudah tanpa hambatanArtinya negara tidak banyak mengatur kelancaran arus logistic perdagangan karena semuanya dapat ditata secara teratur melalui peran swastamereka akan membangun banyak pelabuhanfasilitas penyimpanan logisitik yang dibangun secara mandiri dengan lebih meminimalkan peran dari negara ataupun pemerintah. Perjanjian di bidang fasilitas perdagangan ini akan melahirkan jumlah tenaga kerja baru namun bisa dipastikan sifatnyakontrak seperti (buruh panggulsupir kontainersatpam penyimpanan logistiktimer, pengatur kontainer di pelabuhandsb). Kesepakatan lain yang tertuang pada poin ini adalah penyederhanaan aturan untuk kelancaran arus logistik barang yakni dengan mengurangi serta mempelonggar berbagai prasyarat pengiriman maupun penerimaan barangAgar lebih efisien maka prosesnya menggunakan media internetdi mana demi kelancaran arus logistik barang tersebut setiap negara wajib mefasilitasi informasi dan pedaftaran arus barang melalui media internet.

Pertaniandi sektor ini proses kesepakatannya cukup dramatis. Sebelumnya India menolak keras bidang ini di agendakan menjadi perjanjian multilateral karena negaranya sangat kuat mensubsidi petaninya agar peran negara untuk melindungi rakyatnya bisa terjamin penuh.Namun karena begitu dinamisnya suasana perundingan akhirnya India melunak dan mensetujui perjanjian bidang pertanian ini. Dalam kesepakatan paket Bali, bidang pertanian disepakati setelah melalui kompromi bahwa negara berkembang dapat memberikan subsidi kepada pertanian agar melindungi para petani dari serbuan produk pangan impor. Negara berlembang dapat memberikan tariff tinggi ketika ada produk impor masuk ke negaranyasementara negara maju pun diharuskan untuk menerapkan tarif yang rendah agar bisa menerima produk dari negara berkembang sehingga ini peluang bagi petani untuk lebih banyak memproduksi agar dapat menjadi eksportir di bidang pertanian. Permasalahannya ketika pasar bebas benar-benar terjadi apakah tidak ada standarisasi produk pertanian? Dan bagaimana apabila serbuan produk impor yang memiliki standarisasi bisa dengan mudah masuk ke pasar Indonesia?. Pertanyaan besar itu harus dipikirkan oleh pemerintah sebab kita tidak bisa anggap ringan kemajuan negara berkembang lainnya dalam mengelola produksi pertaniannya. Apalagi petani di Indonesia khususnya buruh tani masih minim dalam pengetahuan standarisasi tersebut.

Komitmen Terhadap Negara kurang berkembang, kesepakatan lain yang dikeluarkan dalam paket Bali yakni mengenai fasilitasi perdagangan bagi negara kurang berkembang. Dalam isi perjanjiannya negara kurang berkembang ini akan mendapat kemudahan berupa transfer teknologi dan peningkatan sumber daya manusiaBahkan dengan sesumbarnya Wakil Menteri perdagangan Indonesia Bayu KrisnaMukti ketika berdialog dengan delegasi masyarakat sipil indonesia menyatakan bahwa bila negara kurang berkembang itu tidak mampu membangun fasilitas perdagangan maka Indonesia siap memberi bantuannya. Kesepakatan di klausul ini akan menjebak negara kurang berkembang ketika menghadapi era perdagangan tanpa batas ini. Lebih buruknya lagi negara kurang berkembang tersebut akan menjadi sapi perahan dari negara majuataupun berkembang.

 

Dampak Sosial Budaya. ..

Perjanjian paket Bali yang dihasilkan oleh WTO memiliki pengaruh yang cukup signifikan pada kehidupan sosial budaya di masyarakat. Karena badan perdagangan dunia ini merupakan motor terpenting dari sistem Globalisasi yang mengatur segala hal berhubungan dengan pasar bebasSosiolog GeorgRitzer mendefiniskan sistem globalisasi ini seperti restoran cepat saji yang melahirkan model McDonaldlisasi. Model ini memiliki empat karakter yakni EfisiensiKalkulasiStandarisasidan Kontrol (Ritzer, 2002:16). Efisiensidalam prakteknya seperti bekerja di restoran cepat saji yang meminimalisir waktu namun dapat memuaskan pelangganKalkukasiyakni bekerja hanya mengandalkan kuantitas artinya mengutamakan seberapa cepat pekerjaan selesai berdasarkan kemauan klienStandarisasimenyamakan jenisproduk ataupun pekerjaan sama seperti yang ada di negara yang lebih majudan Kontrol, adalah sistem kerja terseragamkan dengan mengandalakan teknologi non manusia. Kesepakatan WTO yang tertuang di Paket Bali akan semakin melegitimasi sistem Mcdonaldlisasi produksi dan konsumsi manusiaDi mana isi dari klausul perjanjian tersebut lebih mengarah kepada sistem bekerja secara massal dan efisienhal ini dibuktikkan pada beberapa poin kesepakatan Bali. Dalam fasilitas perdagangan misalnya akan banyak dibangun pelabuhan logisitik oleh swasta dengan syarat pengurangan biaya masuk, kecepatan pengiriman maupun penerimaan barangserta alur perijinan yang harus lebih dipermudah.Tranparansi alur perdagangan juga perlu ditampilkan dalam media internet sehingga para eksportir dan importir dapat melihatnya secara terbuka. Para buruh yang pekerjaannya termasuk dalam poin kesepakatan ini akan mengikuti ritme McDonaldisasi ketika bekerja seperti harus cepatefisien waktumengandalkan teknologidan menghasilkan kuantitas kerja yang bagus bukan kualitas.

Secara umum klausul perjanjian WTO yang ada dalam paket Bali memiliki implikasi sosial budaya yang cukup signifikan. Ketika berbicara kesepakatan dalam fasilitas perdagangan,maka akan banyak pelabuhan-pelabuhan dan fasilitas logistik perdagangan yang dibangun oleh pihak swasta dan ini bisa melahirkan konflik baru dimasyarakat khsususnya di bidang pertanahan karena akan terjadi banyak pembebasan lahan agar proses pembangunan fasilitas tersebut cepatterlaksana. Di bidang pertanianpara petani khususnya buruh tani akan semakin sulit mengejar target produksi apalagi kondisi alam saat ini mengalami perubahan akibat pemanasan global.Belum lagi petani harus berjuang mengejar standarisasi yang mungkin nantinya berlaku secara internasional bukan lagi secara lokal dan yang paling mengerikan mereka harus menghadapi serbuan produk impor yang bisa jadi lebih cepat datangnya sebelum panen terjadi. Buruh taniyang tidak memiliki lahan dan tidak mengenyam pendidikan yang memadai pasti akan kelelahan hadapi persaingan bebas tersebut sehingga mereka mengalihkan pekerjaannya menjadi buruhpanggul di pelabuhan atau industri tersebut.

Pemerintah sejak dini seharusnya sudah mendeteksi gejala-gejala tersebut karena ketika sudah berani dan siap membuka perjanjian perdagangan bebas maka ada konsekuensi –konsekuensi yang lebih memiliki dampak di masyarakat. Pemerintah sebaiknya lebih membuka dialog dengan masyarakat umum bukan dengan yang mengklaim mewakili masyarakat,kecenderungannya para pemangku kebijakan di negeri ini lebih mengandalkan kemampuan dirinya serta kelompok sosialnya tanpa harus melihat kondisi realitas sehari-hari masyarakat yang dialami.

Thursday, May 30, 2013

Melestarikan Status Elit Politik di Tayangan Berita TV

Menyaksikan tayangan berita di televisi sekarang ini kita disuguhkan oleh konflik politik yang melibatkan para elit negara. Semakin lama cenderung berita di televisi menayangkan beragam wacana kepada kita yang mungkin bertujuan untuk melibatkan secara aktif partisipasi publik serta secara terbuka memberikan informasi kepada masyarakat dalam menyikapi suatu permasalahan negara. Dalam era demokrasi, partisipasi publik dalam menentukan kebijakan ataupun menyikapi suatu persoalan negara sangatlah menentukan bagi jalannya roda pemerintahan. Apalagi diiringi dengan berkembangnya industri media khususnya televisi membuat informasi kepada publik semakin gencar ditayangkan, hal tersebut kemudian didukung dengan dijadikannya pers sebagai bagian dari pilar demokrasi.

Sebagai salah satu penopang demokrasi tentunya pers memiliki peran penting bagi jalannya sistem tersebut. Tidak mengherankan di Indonesia ketika hadir era reformasi yang dalam satu agendanya yakni pemerintahan yang demokratis posisi pers menjadi begitu penting untuk memberikan keterbukaan kepada publik. Berkembang pesatnya industri media merupakan salah satu bagian terpenting dari berjalannya demokratisasi di suatu negara, meskipun secara ekonomi politik masih menjadi perdebatan. Hadirnya berbagai media televisi yang secara khusus menayangkan program berita di Indonesia merupakan suatu fenomena yang berkembang pesat di era keterbukaan saat ini. Dengan semangat era keterbukaan informasi ini stasiun televisi bersaing dalam menayangkan suatu berita, dengan berbagai format informasi yang disampaikan kepada publik secara beragam dan variatif. Mulai dari berita hiburan sampai politik sajian informasi yang disampaikannya begitu menarik dan membuat masyarakat semakin penasaran dengan peristiwa beritanya, tidak mengherankan apabila informasi selebriti dan politik begitu banyak ditonton karena penyajiannya yang dramatis seperti tayangan sinetron yang penuh misteri di setiap akhir episodenya dan terus bersambung.
    
Episode Pemberitaan yang Bersambung

Kasus pembunuhan Nazarudin Zulkarnaen yang ketika itu berposisi sebagai direktur RNC (Rajawali Nusantara Indonesia) merupakan berita yang menghebohkan Indonesia bukan karena kejadiannya yang mirip film laga mafia melainkan alur peristiwanya yang cukup dramatis. Mantan ketua KPK Antasari Ashar adalah orang yang tersandung kasus pembunuhan tersebut yang terjadi pada tahun 2007. Peristiwa ini menjadi sorotan media begitu luas karena melibatkan pejabat negara yang dituduh melakukan perencanaan pembunuhan denngan membayar pembunuh bayaran untuk menembak direktur BUMN tersebut. Kejadian ini semakin menarik perhatian publik karena ternyata kasus ini terjadi salah satunya disebabkan karena cinta segitiga dengan wanita bernama Rani yang berprofesi sebagai caddy golf dan dari sinilah media kemudian memberitakan permasalahan ini dengan lebih mendalam serta direpresentasikan sebagai kasus yang dramatis dan kejadian ini seperti menjadi episode pembuka dari berbagai kasus skandal perpolitikan di Indonesia yang ditayangkan oleh televisi secara berseri dengan perkembangan-perkembangannya yang penuh sensasi. Pasca kasus pembunuhan Nazarudin Zulkarnaen tersebut tayangan berita di televisi semakin terbuka menginformasikan berbagai kasus skandal elit dengan bumbu narasi yang dramatik, publik kemudian dipertontonkan serial drama skandal pejabat negara.

Skandal demi skandal silih berganti menghiasi lacar kaca mulai dari kasus Anggodo yang rekaman penyuapannya dengan seorang jaksa dan pengacaranya dipertontonkan secara langsung kepada publik secara langsung di televisi dari Mahkamah Konstitusi, ini berlanjut pada kasus jenderal Polisi Susno Duadji yang berseteru dengan KPK kemudian menjadi ramai diperbincangkan publik karena kata-katanya tentang cicak buaya menjadi popular dalam pemberitaan media. Publik merespon pernyataan itu dengan ramai-ramai mendukung KPK yang saat itu dipimpin oleh Bibit & Chandra dengan menggelar dukungan melalui media sosial dan aksi massa, kasus perskandalan elit ini terus berlanjut hingga hari ini. Mulai dari pegawai pajak Gayus Tambunan yang buron ke Singapura dan kepergok media menonton tenis dengan rambut palsunya sampai kepada mantan bendahara partai Demokrat Nazaruddin yang buronnya ke luar negeri terhenti di Kolombia dengan episode pelariannya yang cukup panjang dan penuh dramatis. Episode demi episode skandal politik terus menerus dipertontonkan kepada publik dengan menghasilkan wacana yang diharapkan dapat menggugah kesadaran masyarakat dalam bernegara. Dalam hal ini penulis mengapresiasi kerja para insan pers yang melaporkan suatu berita penuh dengan dedikasi yang tinggi dan seusai koridor jurnalistik yang tepat sehingga keterbukaan informasi kepada publik semakin jelas.

Korupsi sebagai sebuah problema atau komoditas elit?

Pemberitaan skandal korupsi yang melibatkan elit negara ini telah menjadi wacana publik dan mereka memandang bahwa para penyelenggara negara sudah tidak menjalankan amanah rakyat. Sepertinya para elit itu beserta aparatus negaranya saling berkolaborasi untuk saling mencari untung demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Publik dibuat geram atas tingkah laku elit tersebut mereka mengutuk prilaku tersebut karena dalam benaknya korupsi merupakan salah satu masalah yang membuat bangsa Indonesia tidak mengalami kemajuan baik secara ekonomi maupun politik. Harapan masyarakat atas isu korupsi ini begitu tinggi mereka mendukung segala bentuk peraturan atau lembaga yang mengurusi permasalahan tersebut, maka tidak mengherankan pasca orde baru ini ada banyak peraturan serta lembaga yang secara khusus menangani korupsi ini. Namun permasalahan ini tidak kunjung terselesaikan bahkan semakin terpolarisasi kepada kasus-kasus besar seperti yang ditayangkan media massa. Masyarakat kemudian sampai kepada titik kejenuhan bukan karena tidak terungkapnya kasus-kasus itu secara tuntas serta dalam media pemberitaannya yang semakin tidak berujung.

Kasus-kasus korupsi yang dimunculkan media beberapa waktu ini dalam pandangan beberapa pihak tidak menyelesaikan akar permasalahan korupsi itu sendiri. Berita-berita mengenai kasus tersebut sudah mengarah kepada komoditi sekelompok elit yang menggunakan isu ini sebagai alat mereka menyerang kubu atau institusi tertentu, kecenderungan tersebut menyebabkan masyarakat semakin apatis dengan permasalahan negara. Pemberitaan korupsi dalam media massa mungkin bertujuan untuk memberikan wacana kepada publik bahwa permasalahan ini sudah mengakar di segala lini kehidupan politik namun bagi penulis konten dari pemberitaannya tidak menyentuh dengan keadaan masyarakat. Hal ini karena pemberitaannya cenderung kepada saling serang anta elit politik yang terlibat maupun tertuduh dalam kasus korupsi. Media tentu tidak bersalah dengan pemberitaan tersebut karena melaporkannya sesuai dengan fakta dan data yang didapat dari lapangan melalui para jurnalisnya yang bekerja keras mencari narasumber berita. Namun para elit memanfaatkan kasus-kasus tersebut untuk mencitrakan dirinya baik untuk kepentingan pribadi maupun kelompoknya sehingga pemberitaan yang didapat terkadang semakin membingungkan dan mungkin ini juga yang dialami oleh para jurnalis.

Berdasarkan itulah kita semua mungkin berpikir sampai di mana permasalahan korupsi ini dapat terselesaikan karena kasusnya yang terekspos media terlihat seperti hanya konflik antar elit yang saling serang karena ingin saling membuka aib keburukan prilaku mereka yang memang sudah buruk di mata masyarakat. Tetapi ada hal lain yang lebih dari permasalahan elit itu yakni adanya pelanggengan kehidupan elit politik yang terrepresentasikan melalui pemberitaan media massa. Secara tidak langsung berita korupsi yang berkutat hanya disekitaran pembunuhan karakter seseorang ini telah melestarikan status elit itu sendiri, di mana kita sebagai masyarakat hanya disajikan pertikaian yang secara nyata tidak dirasakan oleh masyarakat yang sudah semakin sulit dalam bertahan hidup. Kasus-kasus yang dipublikasikan dan melibatkan para koruptor ini juga kalau dirunut lebih jauh tidak menyentuh dengan rakyat, seperti kasus bank century misalnya. Memang benar negara merasa dirugikan sekian triliun tetapi yang memiliki dampaknya langsung hanya kepada para nasabahnya bukan masyarakat secara umum. Meski demikian publik juga berharap kasus ini dapat menyentuh orang besar di republik ini yang selama ini mungkin tidak pernah tersentuh oleh hukum, mungkin pesan ini yang ingin disampaikan dari kasus bank Century tersebut.


Habitus Elit dalam Pemberitaan Televisi

Publik telah dibuat bingung dengan pemberitaan televisi yang terkesan tidak mendalami suatu kasus  hingga tuntas. Sehingga publik memiliki persepsi bahwa beberapa kasus yang diberitakan tidak akan tuntas terselesaikan, problema ini kemudian menyebabkan pesimisme publik ketika melihat suatu permasalahan politik. Pada akhirnya menganggap bahwa berita televisi hanyalah tontontan informasi yang menghibur dan bahan tertawaan mereka melihat kehidupan elit negara yang tidak pernah berubah. Maka publik kemudian menyalurkannya dengan menonton program televisi yang bersifat menghibur meski dengan bumbu kekerasan fisik, candaan rasialis, atau tema-tema seks. Berita yang dikonsumsinya bertema kriminalitas dan kekerasan yang seakan-akan dekat dengan kehidupannya yang memang sudah keras, situasi demikianlah yang bagi Pierre Bourdieu melestarikan Habitus dari kelompok sosial masyarakat. Habitus sendiri dalam konsep pemikirannya dapat disimpulkan sebagai sebuah sistem persepsi, pikiran, dan tindakan yang diperoleh dan bertahan lama, kemudian melalui Agen-agen individualnya mengembangkan sistem ini sebagai tanggapan terhadap kondisi-kondisi obyektif yang dihadapinya.

Baginya pemetaan kelas sosial dalam masyarakat dapat terindentifikasi dengan pola atau gaya hidup yang dilakukannya. Menurutnya semakin tinggi kelas seseorang maka seleranya akan semakin elitis atau mencari sesuatu yang sulit dilakukan oleh kalangan umum, baginya kelas sosial tidak hanya berdasarkan ekonomi politik semata melainkan melalui praktek-praktek sosial yang meliputi selera dan beragam pilihan sosial sehari-hari (Bourdieu, 1984:103). Pembedaan tersebut dapat diketahui melalui kesukaan atau hobi yang dimiliki oleh kelompok sosial tertentu, misalnya kelas bawah lebih menyukai program televisi yang menghibur sedangkan kelas atas lebih menyukai acara televisi yang berkesenian tinggi dan ilmiah.  Melihat perbedaan selera tersebut maka kita bisa membaca bahwa berita yang disajikan televisi di Indonesia cenderung untuk melestarikan status sosial para elit politik dan semakin menjauhkan persoalan kebangsaan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Publik secara umum telah menjadi komoditas dari berita itu sendiri di mana perannya hanya menjadi penerima pasif dari suatu peristiwa kalaupun dilibatkan secara imteraktif hanya menjadi bumbu dari program tersebut. Kasus-kasus besar yang terekspos oleh media televisi khususnya yang melibatkan elit politik cenderung mengesampingkan pendapat publik dan lebih mengutamakan pendapat para elit itu dengan analisa dari para pakar yang tentunya sudah berpendidikan. Dengan demikian status elit masih terus dilestarikan artinya mereka masih menjauh dari harapan politik sejatinya yakni mengutamakan kepentingan masyarakat dibandingkan pribadi. Bukan bermaksud untuk menjustifikasi para politisi di negeri ini namun apa yang ditampilkan televisi selama ini mengesankan bahwa permasalahan politik hanyalah milik para ahli atau pelakunya saja. Publik hanya disajikan sebuah tontonan yang dramatis tanpa mengetahui lebih mendalam apakah kasus-kasus yang dibahas dalam televisi tersebut berhubungan secara lansung dengan kehidupan sehari-hari. Bagi para elit sebuah kasus yang diberitakan dapat menjadi ajang perkenalan dirinya kepada publik bahwa dirinya telah pantas mejadi pahlawan masyarakat.


Menyikapi Globalisasi



Globalisasi menjadi kalimat yang mampu menghipnotis semua orang di seluruh dunia, setiap manusia ketika mendengar kata itu sudah memiliki beragam pendapat yang ujungnya melahirkan berbagai wacana utopis mengenai menyatunya dunia. Bagi sebagian orang Globalisasi seperti alat pemersatu dunia yang selama ini terpisah baik secara geografis maupun berbagai aturan, namun sebagian menganggap bahwa sistem ini dapat mengancam tatanan kehidupan masyarakat karena khawatir akan hilangnya nilai-nilai suatu identitas. Kedua perbedaan pendapat ini sejak lama menjadi bahan perbincangan di berbagai forum diskusi dan melahirkan wacana publik yang dinamis.

Di Indonesia, kata Globalisasi telah menjadi buah bibir oleh berbagai kalangan, jargonnya menimbulkan berbagai pandangan dan perdebatan publik.  Beberapa kalangan di republik ini mulai dari masyarakat umum hingga kalangan akademisi dan politisi akan memiliki beragam interpretasi ketika membicarakan sistem ini. Penulis memandang perbedaan pendapat mengenai Globalisasi di Indonesia terbagi atas dua kelompok yakni kelompok optimis dan pesimis, kedua kelompok ini hingga sekarang masih terus berdebat dalam menyikapi sistem yang suka ataupun tidak secara alamiah akan mengalir masuk ke Indonesia meskipun tanpa regulasi ketat di beberapa tahun mendatang.

Globalisasi dan Perdebatannya di Indonesia

Secara umum Globalisasi dapat diartikan sebagai sebuah tatanan sistem global yang saling berjaringan dan berhubungan berkat dukungan teknologi informasi, perdagangan, budaya, politik dan ekonomi. Menurut Roland Robetson seorang Sosiolog Globalis, menyatakan bahwa Globalisasi dapat dimaknai sebagai “sebuah konsep yang mengacu kepada tindakan yang mendunia dan secara intens memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa dunia ini saling ketergantungan” (Robetson,1992:8). Tatanan ketergantungan ini akan membawa dampak yang cukup signifikan bagi kehidupan masyarakat maupun negara, di mana secara umum perubahan akan sangat dirasa dalam berbagai ranah institusi. Masyarakat Indonesia secara umum tentunya harus siap menghadapi sistem ini karena dari kacamata ekonomi sudah terikat melalui perjanjian internasional. Dengan semakin gencarnya perjanjian-perjanjian ekonomi internasional itu tentunya akan menimbulkan perdebatan yang cukup dinamis diantara masyarakat dengan berbagai sudut pandang yang telah penulis kelompokkan diatas.

Kelompok Optimis, memandang Globalisasi ini dari sudut pandang Ekonomi. Dimana secara sistematis harus diikuti karena dengan begini bangsa Indonesia akan dapat keuntungan dari berbagai perjanjian perdagangan dunia. Beberapa kalangan yang optimis ini berpandangan kompetisi global merupakan kesempatan bagi negara untuk terus memacu tingkat pertumbuhan ekonominya agar posisi bangsa dapat sejajar dengan negara maju. Pandangan ini kemudian tertanam di kalangan birokrat pemerintahan untuk mengikuti ritme dari perjanjian internasional itu dengan mengakomodir kepentingan investor luar negeri yang menjanjikan dan menguntungkan. Kelompok optimis melihat bahwa bergabungnya Indonesia di berbagai forum dan kelompok ekonomi internasional merupakan sebuah prestasi serta kesempatan guna mewujudkan kemajuan ekonomi bangsa. Bagi masyarakat umum yang optimis terhadap Globalisasi, berpandangan bahwa ini adalah momentum untuk dapat merasakan ikon, label, ataupun budaya global khususnya barat yang secara deras memasuki pangsa pasar Indonesia. Maka tidak mengherankan berbagai fasilitas pendukung situasi tersebut marak khususnya di perkotaan seperti Mall dengan konsep dunia & modern, waralaba internasional, perangkat teknologi versi terbaru, hingga pendidikan bertaraf internasional mulai dari Taman kanak-kanak sampai universitas. Semua fasilitas itu adalah untuk menunjang Indonesia menjadi sejajar dengan suasana dunia yang dikonstruksikan modern, maju, serta praktis.

Kelompok pesimis, adalah kelompok yang memandang bahwa globalisasi merupakan ancaman bagi kedaulatan negara, menghancurkan moralitas bangsa, dan menghilangkan identitas lokal. Mereka menganggap bahwa Globalisasi merupakan monopoli dari negara adidaya serta merusak sistem tata negara yang telah diperjuangkan oleh para pemikir bangsa dan para pejuang kemerdekaan. Kelompok ini memandang bahwa identitas nasional dan lokal akan tergerus oleh kebudayaan barat yang secara perlahan merusak nilai-nilai kebangsaan apabila paham Globalisasi dibiarkan mengalir deras masuk kedalam tatanan masyarakat. Kelompok ini membahasakan Globalisasi dengan kaca mata teori konspirasi dan terkadang Chauvinistik, menguatkan tradisi feodal, serta mengkultuskan kejayaan raja-raja nusantara adalah argumen yang selalu dikuatkan oleh mereka sehingga kita terjebak dengan perdebatan yang tak kunjung selesai. Kelompok pesimis melihat bahwa sumber daya manusia di Indonesia tidaklah mendukung akan hadirnya Globalisasi karena kalah bersaing dengan manusia-manusia dunia dan selalu membandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura yang sumberdayanya sudah lebih maju. Meski secara umum pandangan mereka terhadap sistem ini dan negara barat sangat pesimistis namun ketika melihat negara timur kelompok ini masih bertoleransi, banyak yang berkiblat kepada negara Cina dan India untuk melihat bagaimana negara berhasil mengalahkan dominasi barat. Esensi dari Globalisasi kemudian menjadi pertentangan antara barat dan timur ataupun.

Menyikapi Globalisasi 

Sebagai sebuah sistem yang berlaku dan berjalan tanpa batas teritori negara yang implementasinya dapat berupa ekonomi, politik, budaya, sosial dan lain sebagainya Globalisasi telah menjadi fenomena abad ini yang memiliki berbagai makna interpretasi. Bagi penulis, perdebatan mengenai Globalisasi harus berdasar dengan tidak menjadikan sebuah disiplin ilmu sebagai sesuatu yang ajeg, karena sistem ini berjalan secara dinamis dan mengalir di berbagai bidang. Dengan konsep itu kita harus menyikapinya dengan cerdas dan terukur, karena Globalisasi hanyalah sebuah simbol dari ketergantungan antar negara dan masyarakat yang mencari titik penyatuan melalui berbagai pemikiran, ideologi, dan kepentingan. Sistem ini harus disikapi juga dengan tidak melupakan identitas kita sebagai manusia yang humanis dan berpandangan terbuka, karena kebanyakan dari kita terkadang salah dalam menyikapi ini dan terjebak oleh narasi-narasi besar yang menyempitkan pandangan kita. Namun juga harus berhati-hati karena ketergantungan antar bangsa dan masyarakat yang dikemas dalam ide Globalisasi ini dapat saja saling merugikan.


Tulisan ini dimuat dalam harian Suara Karya edisi 30 Mei 2013


Tuesday, October 23, 2012

Skandal Perselingkuhan Para Pejabat Negara


Perkembangan dunia politik di Indonesia sangatlah menarik untuk diikuti , tidak hanya dunianya yang begitu dinamis tetapi juga kehidupan para politisinya yang kadang membuat sensasi dalam skandal perselingkuhan. Para pelakunya dari periode ke periode politik selalu ada dan bagi sebagian pelakunya berakhir dengan terbuang dari kancah politik itu sendiri. Skandal perselingkuhan yang dilakukan para pejabat negara kelihatannya sangat lumrah dalam dunia politik, namun apabila mereka terkena skandal tersebut maka secara otomatis dirinya mengalami character assasination(pembunuhan karakter). Pendapatan para pejabat negara yang cukup besar disertai fasilitas yang cukup menunjang kekuasaanya menyebabkan godaan terhadap kehidupan pribadinya semakin menguat, apalagi sorotan media terhadap dirinya sering ditayangkan. Berbagai kejadian perselingkuhan yang melibatkan pejabat negara dengan selebritis maupun lawan jenisnya sudah banyak yang terungkap dalam media massa saat ini, kasus skandal ini semakin terbuka dipertontonkan atau diberitakan kepada publik. Pernyataan para selebritis atau pasangan yang menjadi korban perselingkuhan pejabat ini selalu sering menjadi headline dalam media massa khususnya di program infotainment. Janji-janji kehidupan yang layak, menafkahi anak hasil hubungan gelapnya, rebutan harta warisan, sampai kepada pengakuan siapa yang paling sah mengurusi kematian pejabat itu adalah suatu gambaran nyata yang ditampilkan dalam tayangan televisi ketika menuntut haknya sebagai wanita idaman lain dari pejabat bersangkutan. Publik kemudian menginterpretasikan sendiri berita-berita yang menghebohkan itu dan sambil membayangkan bagaimana kehidupan politik itu yang kelihatan tidak bermoral serta menghalalkan segala cara.

Dalam UU no 43 tahun 1999 pasal 1 ayat 2 perubahan atas UU no 8 tahun 1974 tentang kepegawaian negara yang termasuk golongan pejabat negara itu adalah pimpinan dan anggota lembaga tertinggi/tinggi negara sebagaimana dimaksud dalam UUD 45 dan pejabat negara lainnya yang ditentukan undang-undang. Mereka yang termasuk dalam kategori pejabat ini adalah presiden, anggota DPR, menteri, gubernur, bupati, pimpinan lembaga tinggi negara, serta pejabat tingginya lainnya yang diatur dalam undang-undang. Fasilitas negara yang diberikan kepada pejabat tersebut tentu sangat baik dan melebihi apa yang diterima oleh keadaan pekerja biasa baik pns maupun swasta. Karena fasilitas yang begitu menjanjikan tersebutlah maka banyak pihak yang  ingin merasakan atau menjadi bagian dari kekuasaan pejabat itu dan hal ini menggoda para publik figur diluar struktur jabatan negara untuk bisa merasakan bagian nikmatnya gaya hidup tersebut. Dengan cara itulah maka kasus perselingkuhan sering terjadi pada suatu kekuasaan dan lebih banyak korbannya dari kalangan selebritis. Fenomena ini merupakan bagian dari gaya hidup kekuasaan yang penuh dengan sensasi dan kemewahan sehingga telah menjadi rahasia umum bahwa oknum pejabat telah menyalahgunakan jabatannya hanya untuk kenikmatan pribadi.

Gaya Hidup Pejabat dan Skandal Perselingkuhan

Menjadi pejabat negara di Indonesia bagi sebagian masyarakat merupakan suatu anugerah karena berbagai kesempatan dan fasilitasnya yang begitu banyak. Bagaimana tidak selain mendapatkan mobil berkelas mereka juga mendapat rumah beserta tunjangannya yang berlipat ganda, hal tersebut belum ditambah beberapa bonus-bonus yang terlihat maupun tidak. Posisi pejabat negara juga dihormati masyarakat karena pada setiap kesempatan bertemu mereka akan dilayani layaknya seorang abdi dalem kerajaan. Sebagai contoh ketika seorang pejabat negara ingin mengunjungi suatu daerah para aparatus daerah mulai dari tingkat muspida hingga kecamatan sibuk mengurusi kebutuhan para pejabat negara mulai dari penginapan hingga plesirannya. Plesiran yang dilakukannya juga berkelas seperti bermain golf, memesan ruang VIP karaoke, atau sekedar berkongkow di cafe hotel berbintang hingga beberapa hal yang sifatnya pribadi seperti spa dan membutuhkan hiburan wanita. Dengan pelayanan yang begitu berkelas tersebut maka tidak heran banyak pihak yang melirik untuk sekedar dapat merasakan dan menghiburnya ketika para penentu kebijakan itu sedang berada diluar jam keluarganya.
Seorang anggota partai politik besar di Indonesia menyatakan bahwa rumor perselingkuhan anggota partainya yang telah menjadi pejabat negara dengan sesama anggota partai maupun selebriti bukanlah rahasia umum lagi bagi organisasi. Hal itu sudah sering terjadi khususnya selama masa-masa kampanye politik dimana mereka berada di suatu wilayah pemilihan bersama dan di waktu luang mereka melakukan hubungan layaknya suami istri. Ironisnya, hubungan gelap itu dijadikan “alat” bagi lawan politik dalam partai tersebut untuk menjatuhkan politisi itu ketika sudah mendapatkan posisi kekuasaan.

Berbicara posisi politik kita tentunya masih ingat kasus video porno antara anggota DPR Yahya Zaini dan artis Maria Eva yang tersebar kepada publik dan secara tidak langsung menjatuhkan citra politisi tersebut. Kejadian itu menyebabkan politisi itu mengundurkan diri dari parlemen dan sedikit menjauh dari dunia politik yang telah membesarkan namanya. Kasus lain yang tidak kalah heboh adalah tersebarnya video porno antara anggota DPR Karolina Margaret dengan salah satu pengurus organisasi massa di Indonesia. Meski pelaku yang diduga dalam video itu membantah bahwa itu dirinya namun latar belakang masalah kenapa video itu tersebar sempat terungkap di mana ada motif penjatuhan nama baik bagi anggota DPR tersebut karena suatu proyek yang tidak disetujui. Kasus-kasus perselingkuhan antara pejabat yang melibatkan selebritis adalah kasus yang menarik perhatian banyak pihak terutama masyarakat luas karena keduanya merupakan publik figur yang seharusnya menjadi contoh bagi konstituenya dan masyarakat pada umunya.

Perselingkuhan yang terungkap dalam media mungkin selama era reformasi ini sudah mencapai puluhan atau mungkin ratusan. Itupun masih ada yang tidak terungkap oleh media massa, namun yang jelas permasalahan ini sudah menjadi rahasia umum di dalam internal partai itu sendiri. Salah satu faktor yang menyebabkan kasus perselingkuhan dapat terjadi dari sisi selebritis disebabkan oleh dunianya yang penuh kemewahan dan pencarian identitas yang eksklusif.  Para selebritis yang suka melakukan perrselingkuhan dengan pejabat bisa jadi karena ia kagum dengan kekuasaan, kekaguman itu bukan posisi yang dijabatnya namun nilai dari kuasa itu yang bagi mereka memiliki sensasi tersendiri. Jadi bagi selebritis berselingkuh bukan hanya karena nilai ekonomis tetapi bagaimana kekuasaan itu dapat mempengaruhi dirinya dalam bersosialisasi di kalangan orang-orang kelas atas dan ekslusif tersebut. Sedangkan dari sisi pejabat, berselingkuh itu karena aturan hukum yang menyulitkan dirinya untuk beristri lagi sehingga mengambil jalan dengan menikah siri dan berselingkuh. Karena dengan kekuasaan yang dimiliki ada semacam ketidakpuasan ketika mereka belum menguasai seluruh kehidupannya hingga ketingkat yang paling pribadi.

Skandal perselingkuhan antara pejabat dan artis telah menjadi sensasi bagi dunia kekuasaan di Indonesia karena keduanya memiliki daya pengaruh yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Keduanya mendapat ruang yang begitu luas dalam sorotan media maupun beragam akses kekuasaan sehingga mereka membutuhkan suatu sensasi lain dalam hasratnya mengekspresikan tubuhnya yakni melalu hubungan seksual. Hubungan seksual menjadi jembatan antara kuasa dan eksistensi, dimana bagi para pejabat seks sebagai bentuk hasrat untuk berkuasa penuh sedangkan bagi para selebriti hubungan seks merupakan bentuk dari sensasional dunia seleb untuk mencari kepuasan eksistensi diri dalam pergaulan yang penuh glamor.

Seksualitas dan Kekuasaan

Seksualitas dalam arti biologis dapat diartikan sebagai hubungan badan antara dua manusia namun bagi ilmu-ilmu sosial makna seksualitas dapat berupa suatu struktur dan konstruksi sosial. Seksual bagi kaum feminis bisa dijadikan analisa untuk melihat relasi kekuasaan antara perempuan dan lelaki, di mana dominasi maskulin biasanya terdapat pada hubungan badan antara kedua insan tersebut. Seks menjadi sebuah simbol kekuasaan terkecil dalam lingkup penguasaan terhadap tubuh karena pada hubungan intim tersebut kekuasaan tergambarkan melalui posisi dan dalam kenikmatan seksual.

Seorang pemikir posmodern asal Perancis yakni Michael Foucalt memandang bahwa seksualitas dalam sejarahnya adalah aturan perilaku yakni hasrat untuk melembagakan yang terkait dengan seks sebagai konsekuensi penting kekuasaan normatif (dalam Haryatmoko, 2011:1). Foucalt meneliti sejarah seksualitas mau mencari tahu bagaimana kekuasaan dikembangkan oleh wacana, di mana kekuasaan sebagai rejim wacana mampu menggapai dan mengontrol individu sampai pada kenikmatan yang paling intim. Cara yang dilakukannya dapat berupa pelembagaan hubungan dalam pernikahan ataupun undang-undang atau melalui rayuan dan intensifikasi (teknik kekuasaan yang memiliki banyak bentuk) seperti menggunakan uang dan pemberian fasilitas. Hal yang terakhir mungkin sangat tepat dilabelkan kepada para pejabat kita yang suka mengkoleksi dan berhubungan dengan para wanita idamannya. Dengan posisi serta jabatannya yang tinggi para pejabat ini mengontrol kekuasannya tidak hanya dalam hal yang struktural tetapi hingga lingkup tubuh wanita. Dalam kehidupan rumah tangganya mungkin para pejabat ini tidak memiliki kepuasan yang sempurna dalam hubungan seksualnya karena berbagai hal baik fisik ataupun lingkungannya sehingga mereka menjalin hubungan dengan selebritis bukan tanpa alasan selain melegitimasi kuasanya yang semakin kuat terhadap publik figur juga untuk melestarikan status sosialnya di masyarakat agar tetap eksis. Begitu juga para selebritis mereka mungkin memanfaatkan statusnya sebagai publik figur untuk mempertahankan eksistensinya di dunia yang glamour, mewah, dan menjanjikan tersebut. Para artis menikmati skandal tersebut karena sensasinya yang begitu menantang serta tidak jarang karena kebutuhan biologis dan ekonominya yang tinggi sehingga kasus perselingkuhan dengan pejabat semakin meningkat.

Meminjam istilah wacana kuasa Foucalt, para pejabat tersebut menguasai tubuh para selebritis tersebut dengan uang yang mereka miliki serta fasilitas yang mereka berikan. Dengan begitu kontrol kebebasan seksual yang dimiliki para elit tersebut berada pada wanita idaman lain yang mungkin secara tidak langsung dikontrolnya. Lalu bagaimana dengan rumah tangga pribadinya yang mungkin hancur akibat perselingkuhannya tersebut?, bagi kuasa wacana berbagai ranah sosial dapat menjadi kontrol sosial. Sehingga bisa dikatakan bahwa para pejabat dalam menjalin hubungan pribadi antara istrinya yang sah tidak berjalan begitu lancar atau bisa jadi ranah domestik rumah tangganya diberikan secara penuh kepada istri sehingga konsentrasi pasangan hanya di lingkungan domestik. Sedangkan pria berkuasa penuh bila berada diluar rumahnya dan makna ini di implementasikan melalui skandal dan perselingkuhan tersebut, cara pandang patriakis inlah yang mungkin masih terjadi dalam cara pandang masyarakat Indonesia.

Bentuk-bentuk patriaksi yang berada dalam sekeliling kehidupan kita antara lain dapat berupa aturan, norma, media, dan berbagai ruang visual yang melambangkan simbol-simbol pria sebagai bentuk kekuasaan. Sedangkan dalam prilaku seksual para pria kebanyakan memandang wanita sebagai suatu keindahan yang termanifestasikan dari bentuk tubuhnya sehingga kuasa pada diri lelaki terpandang dari konstruksi demikian. Gambaran demikianlah yang menyebabkan kekuasaan pejabat yang di dominasi oleh pria itu memiliki hasrat seksual yang tinggi terhadap wanita yang memiliki status model, artis, dan kalangan sosialita karena menganggap mereka sebagai hiburan dari rutinitas kerjanya yang padat dan penuh aturan yang protokoler. Kemudian mengapa dengan seksualitas hasrat mereka terbebaskan?, karena hanya dengan pencurahan hasrat seksual ruang pribadinya dapat terekpresikan sebab di mata publik wajahnya penuh dengan topeng dan pencitraan.