Ada suasana yang tidak kalah menarik dari berlangsungnya Forum Sosial Dunia di Mumbai, India 16-21 Januari 2004, yaitu situasi di youth camp atau dalam istilah umumnya tempat kemah para pemuda dari berbagai macam negara yang memiliki suatu ide yang sama mengenai gerakan anti neoliberalisme dan kapitalisme. Kemah ini bukanlah seperti hal yang kita bayangkan seperti tidur didalam tenda atau berada diatas bukit, melainkan camp ini berada masih didalam kota Mumbai yang jaraknya sekitar 1 jam dari nesco ground (tempat berlangsungya Forum Sosial Dunia) dengan mempergunakan kereta api.
Hari pertama saya memasuki area camp membutuhkan perjuangan yang cukup keras, karena saya harus menaiki kereta yang penuh sesak dan berdiri. Dengan membawa tas ransel saya berukuran besar disertai berat yang begitu terasa dipunggung saya turun dari kereta api, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 5 kilometer . Setibanya di camp saya masih harus menunggu sekitar 3 jam karena loket pendaftaran belum dibuka. Tempat youth camp sendiri berada di sekolah Don Bosco murid-murid di sini sengaja diliburkan selama berlangsungnya kemah pemuda ini.
Pada malam pertama saya di camp ditemani oleh keadaan dingin disertai nyamuk-nyamuk yang selalu menyentuh badan saya. Saat itu saya bersebelahan dengan petani dari filipina yang datang sendirian, dia hanya mendapat dana berangkat ke India tanpa memiliki dana untuk menginap sehingga ia harus tidur dalam camp.
Areal camp yang luas serta tenda-tenda berjumlah ratusan membawa situasi ini kepada kebersamaan pemuda dalam melawan neoliberalisme dan globalisasi, gebukan drum dari berbagai band, panggung yang didekor dengan kreatif, dan graffiti-graffiti bertuliskan berbagai penderitaan akibat kebijakan neolib. Di areal camp ini juga berlangsung berbagai macam workshop, diskusi, seminar dan pemutaran film yang berhubungan dengan permasalahan pemuda. Panitianya sendiri diambil dari mahasiswa dan pelajar dari sekolah, universitas di India.
Sekembalinya saya kembali dari areal FSD yang setiap harinya dipenuhi berbagai macam diskusi dan seminar, areal youth camp menjadi tempat beristirahat dan alternatif lain untuk berdiskusi dengan kaum muda, sekaligus menghilangkan rasa capai setelah melewati jalan-jalan Mumbai dan kereta api yang selalu penuh sesak penumpang
Dalam camp sendiri saya tidur bersama orang-orang dari berbagai macam gerakan sosial didunia, antara lain mahasiswa-mahasiswa dari Uruguay, Korea, Belanda, Inggris dll. Setiap pagi hari setelah bangun tidur saya selalu dihadapi oleh masalah air yang keluar sangat jarang sehingga kita harus mengantri untuk mendapatkannya. Lucunya saya harus mandi bersama-sama tanpa busana seakan kita bertelanjang untuk mengatakan tidak kepada kapitalisme. Bentuk kamar mandi yang kecil dan berpetak serta jumlah orang selalu mengantri air menambah pengetahuan saya bahwa masih banyak kejadian seperti ini didunia karena air selalu di kuasai oleh swastanisasi.
Setiap malam jalan-jalan di Matunga road, daerah berlangsungnya youth camp selalu dipenuhi oleh anak-anak muda dari tempat camp yang ingin mencari makan ataupun minum kopi, mereka saling berbicara dan bertukaran pikiran mengenai permasalahan yang terjadi di negaranya. Yang tidak nyamannya dalam camp ini adalah lokasinya yang dijaga ketat oleh polisi, apabila kita ingin masuk ke areal ini harus diperiksa dengan alat
Youth camp menjadi sebuah tempat yang sangat berarti bagi pemuda untuk mengeluarkan ide-ide baru dan mencari alternatif terbaik bagi permasalahan globalisasi saat ini. Kami yang berada disini bukanlah untuk mencari kemapanan seperti yang diidamkan pemuda pada umunya namun kami ingin menyelesaikan masalah ini dengan cara kami sendiri.
Hampir seluruh peserta camp berusia muda dengan bertiduran didalam camp-camp yang saling berdesakan. Sebelum tidur biasanya kami berdiskusi dalam satu tenda tersendiri yang pembahasannya berkisar mengenai agenda-agenda aksi kedepan dan perluasan jaringan antara kami agar dapat tetap saling berkomunikasi untuk bertukar informasi.
Youth camp berakhir dengan satu suara dan tujuan bersama bahwa globalisasi akan melindas kami semua, kaum muda, melalui pendidikan, kesehatan, budaya dan mesin-mesin teknologi. Bagi Indonesia camp ini sangat dapat menjadi inspirasi untuk membangkitkan gerakan kaum muda agar dapat menjadi lebih kritis atas kebijakkan globalisasi karena setelah berhasil menjatuhkan rejim soeharto kita seakan-akan mengalami kebuntuan gerakan terutama mengenai neoliberalisme.