Monday, February 09, 2009

Citra perempuan dalam film "kawin kontrak lagi"

Oleh : Meistra Budiasa


Fenomena kawin kontrak telah menarik bagi industri film untuk ditampilkan dalam layar lebar. Hal ini dilakukan karena isu kawin kontrak sudah bukan menjadi rahasia umum bahkan pemerintah sempat secara terbuka melalui wakil presiden Jusuf Kalla mengeluarkan pernyataan yang kontroversial mengenai kawin kontrak sebagai asset Negara, pernyataan ini sangat menyudutkan kaum perempuan. Bahkan setelah pernyataan itu disampaikan ramai – ramai berbagai LSM perempuan menentang keras pernyataan Jusuf Kalla tersebut, isu ini kemudian semakin ramai dibicarakan oleh banyak orang.


Setelah ramai dibicarakan maka seorang sutradara film mengangkat isu ini dalam sebuah film yang berjudul Kawin Kontrak, film ini mendapat respon yang cukup luas dari masyarakat banyak. Bioskop – bioskop yang memutar film tersebut selalu penuh dan laku keras meski tidak mencapai box office di Indonesia. Melihat kesuksesan itu film ini dibuat kembali dengan judul Kawin Kontrak lagi, jalan ceritanya masih seputar perkawinan kontrak di suatu desa sekitar Jawa barat namun pada sekuel kedua ini ada sisi perlawanan terhadap sistem kawin kontrak tersebut. Pada keseluruhan filmnya perempuan masih terus menjadi objek utama dari alur ceritanya dan sebagian besar menjadi korban dari kawin kontrak.


Dibalik sukses besar film tersebut ada beberapa catatan dan kritikan karena banyak mengandung beberapa aspek yang perlu dianalisis secara kritis. Karena film ini secara tersirat banyak mengandung unsur - unsur suku, gender, dan seks yang patut dikritisi sebab kalau kita melihat secara keseluruhan isi film tersebut tidak akan kita temui makna dari kawin kontrak tersebut. Film ini pada akhirnya hanya berisi hiburan yang mengandung unsur seks remaja dan petualangan seks itu sendiri, mungkin film – film bertema ini sekarang sedang mulai menjamur dalam industry film Indonesia. Penulis akan menganalisis isi, makna, dan kesimpulan dari film tersebut seusai dengan pandangan kritis.


A. Synopsis film kawin kontrak lagi

Film ini berdurasi sekitar 90 menit dan sepanjang ceritanya kita akan banyak disuguhi hal – hal sensasional dan seksi. Film diawali dengan kepusingan Jody seorang mahasiswa yang baru saja mengalami masalah karena orang tuanya tertangkap oleh KPK dengan kasus korupsi, ia anak seorang kaya yang sempat melakukan kawin kontrak bersama teman –temannya disuatu desa bernama Pakelonan. Ketika ia sedang menjalani masa – masa sulit tersebut tidak sengaja Jody bertemu dengan kang Sono seorang mantan makelar kawin kontrak yang beralih menjadi supir angkutan umum. Kedua orang tersebut dalam keadaan susah saat ini, namun kemudian semuanya berubah ketika teman – teman dari Jody meminta tolong kepadanya untuk diajari bagaimana menjalani kawin kontrak. Maka timbullah ide bersama kang sono untuk menjadi makelar kawin kontrak dengan pembagian hasil diantara keduanya membuat kang sono beralih profesi untuk kembali menjadi makelar dan Jody mengambil jalan demikian karena kebutuhan biaya kuliah semenjak bapaknya ditangkap. Sementara ketiga teman Jody yaitu Menfo, Hakim, dan Fredo yang ingin sekali ikut pengalaman seksualnya melalui kawin kontrak merupakan pria – pria yang masih perjaka atau belum pernah merasakan hubungan seksual.


Kang Sono kemudian mendatangi kembali ke kampungnya bersama Jody untuk mencari wanita yang diinginkan ketiga pemuda tersebut. Dikampung tersebut ada seorang raja dari makelar kawin kontrak bernama Bos Maung, pria ini bersosok seperti militer dan seluruh penghuni pondoknya adalah wanita – wanita yang ingin dijual untuk kawin kontrak. Bahkan seluruh penghuninya diwajibkan untuk melakukan upacara menghormati Bos Maung yang penampilannya selalu menggunakan baret merah dan tongkat komando. Kang sono dan Jody menemui bos maung tersebut untuk meminta diberikan wanita yang siap diajak kawin kontrak, dengan berbagai macam cara akhirnya harga disetujui untuk kemudian mereka kembali lagi bersama ketiga temannya tersebut.


Jody secara tidak sengaja bertemu kembali dengan Teh Euis wanita kontrakan yang pernah disewa oleh Jody pada masa dulunya, kemudian dengan situasi kangen antara keduanya maka Jody kembali tinggal dengan Euis. Sekaligus mengawasi temannya yang akan melakukan kawin kontrak dengan warga desa binaan Bos Maung. Akhirnya melalui negoisasi ketiga pemuda tersebut mendapatkan wanita untuk dikawinkan kontrak, dari tiga wanita tersebut ada satu orang yang masih lugu dan belum pernah mengikuti kawin kontrak namanya Sasi. Ia seorang wanita yang dalam film ini dijadikan objek harga tertinggi bagi Bos Maung karena dianggap sifat dan keadaan yang masih perawan, jalan cerita film ini kemudian berkembang berkat hadirnya Sasi sekaligus bentuk perlawanan Teh Euis kepada Bos Maung yang telah banyak menjual warga desanya menjadi wanita kawin kontrak.


Sampai pada akhirnya alur cerita semakin tegang ketika Sasi ingin dibawa oleh seorang wanita penyalur wanita untuk kota besar dan Jody bersama Teh Euis melakukan operasi bersama untuk menghentikan pengiriman Sasi, serta menyelamatkan seluruh penghuni pondok agar tidak menjadi korban penjualan Bos Maung. Sampai pada akhirnya terjadi mukzizat ketika Euis mendapatkan keajaiban ilmu silat yang kemudian dapat mengalahkan kekuatan pasukan Bos Maung. Pada akhirnya Bos Maung terkalahkan dan seluruh wanita pondok mengalami pembebasan, namun pertanyaan besar masih ada yaitu bagaimana Jody ternyata memiliki pacar dan mereka rujuk kembali dengan pengetahuan Euis dan nasibnya sendiri dalam film ini tidak terjawab.


B. Kekuatan maskulin dengan wajah feminis

Menyaksikan film kawin kontrak lagi akan sulit bagi kita untuk menemukan inti permasalahan dalam perkawinan itu. Film ini lebih cenderung menonjolkan sisi hiburan terutama hal – hal berbau seks dengan wanita – wanita berbaju seksi sebagai pelakunya, sehingga secara sepintas mata kita hanya bisa dihibur dengan hal – hal berbau seks terutama liukan tubuh wanita sebagai objeknya. Film ini memiliki kecenderungan melemahkan posisi wanita karena setiap adegannya selain penampilan seksi terungkap juga masalah – masalah domestik yang mesti dilakukan.


Sejak awal kita melihat bahwa film ini terlalu mengedepankan kepuasan laki – laki dan tergolong dari kelas atas mereka datang ke desa dengan uang banyak membeli perempuan untuk dijadikan istri kontrakan. Seperti dalam film edisi pertamanya Jody bersama teman – temannya melakukan petualangan seks ke sebuah desa di Jawa barat dengan modal uang yang dimiliki mereka kemudian mencari wanita dan penghulu untuk melakukan kawin kontrak. Setelah mereka disahkan maka mereka boleh tinggal bersama dan pada malam pertama para pria ini meminta wanita – wanita tersebut melakukan apa yang mereka mau. Sehingga kekuatan pria dalam urusan seks masih ditonjolkan sedangkan perempuan dengan bungkus ekonomi menuruti apa yang diinginkan oleh pria tersebut. Dalam film edisi keduanya alur ceritanya sama namun konstruksi yang ingin dibuat oleh sutradara ialah adanya nilai perlawanan dari kaum perempuan kawin kontrak tersebut. Tetapi esensi perlawanannya masih terbungkus oleh bayang – bayang dominasi lelaki karena hampir tokoh yang mengendalikan jalannya cerita didominasi mereka, hampir semua adegan film ini berkekuatan maskulinitas.


Maskulin disini bukan berarti kekuatan otot saja melainkan struktur sosial yang terbentuk dalam setiap adegan. Dari penonjolan tokoh banyak karakter pria lebih kuat dibandingkan wanitanya, sebagai contoh bagaimana Jody yang sudah memiliki pacar bisa melakukan hubungan kembali dengan istri kontrakannya yang dahulu walaupun pada akhirnya sang pacar mengetahui tetapi pertengkaran tidak begitu panjang melainkan bersatu untuk melawan kekuasaan Bos Maung. Kisah yang lain yaitu ketika Fredo, Hakim, dan Menfo tiga orang penyewa wanita kontrak meminta wanita – wanita tersebut melakukan adegan seks, dalam film diperlihatkan bagaimana wanita tersebut menservis pasangannya masing – masing dan pada akhiranya mereka meminta uang bayaran yang harus dibayar. Ini berarti mengembalikan kondisi bahwa pria dengan keinginannya dapat menggunakan uang untuk membeli seorang wanita. Teh Euis yang pada saat itu dengan kondisi hamil tinggal sendiri juga tidak luput dari bangunan konstruksi cara piker pria, yaitu ketika pada satu adegan ia merasa menyesal dengan kondisinya dan memimpikan kepala keluarga yang dapat menerimanya.


Secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa unsur maskulinitas masih mendominasi dalam film tersebut meski dengan wajah feminitas, konstruksi pria secara tidak langsung mendominasi alur cerita. Konstruksi ini diciptakan untuk lebih melegitimasi kedudukan pria dan juga memberikan pemakluman kepada kita bahwa kondisi kawin kontrak dikarenkan alas an ekonomi serta wanita dibentuk sebagai orang yang pada akhirnya kembali kepada kodratnya. Hal – hal yang bersifat kontruksi lelaki semakin jelas terlihat pada akhir cerita ketika Euis mendatangi markas Bos Maung kemudian melakukan perkelahian dengan pasukan pengawalnya, dari kejadian ini sangatlah jelas bahwa perempuan apabila ingin melakukan perlawanan terhadap kaum lelaki harus dengan cara – cara bela diri. Meskipun sutradara mungkin ingin memperlihatkan bahwa wanita itu sama dengan pria tetapi adegan bela diri bukan berarti cara yang tepat karena itu identik dengan kekerasan dan mayoritas yang menyukainya adalah mereka.


Kontruksi yang terbentuk tersebut merupakan cerminan dari budaya dan representasi keadaan realitas sosial. Meski tidak bisa disamakan namun apa yang terjadi dalam masyarakat pada umumnya didominasi oleh budaya patriaki. Sehingga bentuk – bentuk realitas lebih terlihat bersifat maskulinitas dengan berbagai macam situasinya, untuk kasus kawin ada sebagian orang mengatakan bahwa ini adalah bentuk prositusi terselubung. Pihak yang paling diuntungkan dalam praktek prositusi ini adalah lelaki dan posisi perempuan pada akhirnya hanya bersifat pasrah dengan keadaan tersebut apalagi didukung oleh struktur social yang ada dalam keluarga.


Media film merupakan bentuk tarik ulur dengan ideology kebudayaan dimana film itu diproduksi. Dengan demikian film tidak sepenuhnya bebas dari kepentingan atau ideology dibelakangnya. Pernyataan diatas merupakan sebuah kesimpulan mendalam dari Abdul Firman Ashaf dari suatu penelitiannya terhadap aspek gender dalam film Indonesia, pernyataan yang mungkin tidak bisa dibantah lagi. Karena ideologi atau kepentingan sangat mempegaruhi jalannya alur cerita dalam film, realitas yang dimunculkan dalam layar lebar tersebut sudah melalui proses seleksi dan tidak menutup kemungkinan adanya pesan terselubung yang ingin disampaikan. Dengan kata lain konstruksi maskulinitas semakin ingin dilegitimasikan oleh si pembuat film agar kedudukan kekuasaan patriaki masih bisa diterima, meski sudah tertulis diatas sutradara apakah sengaja atau tidak membuat alur cerita dalam film tersebut.


Dalam kekuatan maskulin pria di identikkan sebagai orang yang sangat kuat dan petarung sejati sedangkan posisi wanita lebih kepada pasrah serta menerima keadaan yang ada dengan mengurus keadaan rumah tangga. Dalam kawin kontrak kekuatan maskulin di gambarkan sebagai kekuasaan yang begitu penuh dari seorang lelaki dengan uang mereka dapat membeli seorang wanita untuk dijadikan pasangan hidupnya hanya sementara. Disini terlihat bahwa lelaki menggunakan relasi kuasanya untuk membentuk struktur sosial.


Apabila kita ingin melihat jauh kedalam bahwa kontruksi maskulinitas ini sangat behubungan dengan pembuat film tersebut yang didominasi oleh lelaki, sehingga apabila mereka belum terbuka dengan ide – ide gender maka kontruksi film yang diciptakan akan sedikit berbau maskulin. Michael R. Real dalam buku Exploring media culture mengungkapkan bahwa dalam dunia film pemiliknya dan dikuasai oleh pria sehingga tidak menguntungkan dan memarjinalisasi perempuan. Pernyataan tersebut merupakan pandangan dari penglihatannya terhadap peran gender dalam dunia film yang secara perlahan mengalami perubahan dari bentuk Hollywood lama ke yang baru. Dihubungkan dengan dunia film Indonesia maka bisa jadi pandangan Hollywood lama masih terlintas dalam sineas muda kita walaupun beberapa sineas muda mulai membongkar mitos – mitos tersebut.


Dari kontruksi maskulinitas ini bisa disimpulkan bahwa pandangan feminis untuk setara dengan lelaki bukanlah melalui cara – cara kekerasan atau identik otot melainkan bagaimana feminitas dilihat dari relasi gender apa yang terjadi dari alur cerita tersebut. Sehingga konsep feminitas yang didengungkan belakangan ini bukan konsep yang melahirkan maskulinitas denga baju feminis.


C. Seks, kekuasaan dan kelas

Dominasi seks dan tampilan seksi dalam film kawin kontrak lagi merupakan sebuah gambaran bahwa film Indonesia masih menampilkan perempuan sebagai objek imajinasi seks kaum pria. Dan selalu perempuan tersebut berasal dari kelas rendah atau pedesaan sehingga pria yang dapat menyelamatkannya adalah kelas atas dari perkotaan. Pemikiran tersebut sangat berhubungan dengan bagaimana dominasi kelas sangat dipengaruhi oleh bentuk – bentuk seksualitas yang kemudian kekuasaan menjadi sebuah dominan bagi kaum pria.


Seksual akhirnya menjadi sebuah konstruksi sosial yang dimunculkan dalam film dengan demikian legitimasi terhadap kekuasaan pria semakin kuat. Kemudian bagaimana kelas pada dasarnya menjadi faktor penyelesaian legitimasi tersebut terutama kelas atas, hubungan erat antara ketiga hal tersebut sangat kuat dan Foucault dalam histori of seksualitas menjelaskan hal – hal tersebut. Bahwa pada awalnya seksualitas hanya menjadi wilayah privat manusia namun menurut perkembangannya seks menjadi luas hingga keranah kekuasaan, Foucault mengatakan bahwa kita sebenarnya baru memiliki gagasan seksualitas sejak abad ke-18 dan seks sejak abad ke-19. Apa yang kita miliki sebelumnya adalah, tidak diragukan lagi, hanyalah daging. Karya Foucault ini memperlihatkan bahwa bagaimana pada abad ke-19 proses pelatihan dan regulasi tubuh manusia terjadi di lingkup lokasi institusional spesifik yang luas: di pabrik, penjara dan sekolah. Keseluruhan hasil praktik pendisiplinan ini adalah tubuh yang berguna dan jinak, produktif dan patuh. Dan kemudian, pada awal abad ke-20, wacana seks mulai menjadi kajian keilmuan. Contoh utama wacana seksualitas modern yang diajukan Foucault, pengakuan ilmiah baru, adalah psikoanalisis. Ia mengatakan dengan mengasumsikan insting seksual Freud membuka wilayah baru dominasi ilmu atas seksualitas. Dalam masyarakat modern seksual merupakan hasil dari formasi individu dan kolektif yang berhubungan dengan kekuasaan.


Legitimasi kuasa yang hadir dalam seksualitas saat ini ialah melalui media massa baik itu majalah, film, televisi dan iklan. Pembicaraan seksualitas yang dahulu sempat terbuka dan kemudian tertutup kembali oleh rejim penguasa kini terbuka luas melalui media, kalau dihubungkan dengan teori Foucault saat ini adalah ranah yang terbuka luas akan seksual akan menimbulkan kembali ranah kekuasaan pria. Sebab pada tahun – tahun dahulu seksualitas yang terbuka kemudian diatur oleh regulasi Negara dengan undang – undang kini bisa jadi seksualitas akan diatur melalui moralitas. Karena media saat ini menjadi konsumsi luas publik dan hukuman moral akan menjadi legitimasi baru dari publik. Wacana seksualitas yang terbentuk dari media sendiri lebih mendekati terhadap cara pandang lelaki dalam melihat seksualitas dan terdapat bias gender didalamnya. Kuasa yang terbentuk pada masa saat ini adalah kuasa yang diperoleh dari media dan legitimasi sturuktur sosial pun dapat dihasilkan melalui media tersebut.


Seksualitas dari setiap jamannya mendapat tekanan yang kuat dari kekuasaan hal ini diciptakan agar kelas dominasi tetap bertahan dan melanggengkan kapitalisme. Tidak dapat ditutupi bahwa peran kelas borjuasi sangat mempengaruhi posisi seksualitas karena pada akhirnya kekuasaan hanya akan menjadi suatu wacana bagi kelas dominan. Dalam suatu produksi perempuan selalu diposisikan dalam tingkatan paling rendah dari pria dan dari sinilah timbul kekuatan kapitalisme yang menguasai alat – alat produksi. Dan searah dengan perkembangannya maka patriaki muncul sebagai bentuk dominan dari system kuasa yang ada. Kebutuhan seksual akibat ekonomi kemudian menjadi legitimasi dari kapitalisme sehingga kelas bawah terutama perempuan akan menyerahkan tubuhnya sebagai alat produksi yang digunakan oleh kaum pria.


Film kawin kontrak lagi sangat menggambarkan hal – hal tersebut sebab bentuk pernikahan kontrak hanya dilihat dari sisi kepentingan ekonomi dan perempuan pedesaan yang digambarkan dalam film tersebut sangat jauh dari perkotaan dijadikan tempat pemuasan kebutuhan seksual kaum pria. Kemudian kaum pria dalam film tersebut digambarkan sebagai penjaja seksual yang sedang menjalani petualangnya dengan meminta kepada kaum perempuan yang dikontrak melalukan fantasi seksual, meskipun dalam film ini ada tokoh Euis yang ingin melawan system kawin kontrak ini namun penyelesaian secara maskulinitas dengan bentuk bela diri menjadi solusi akhir sehingga sosok maskulin menjadi tampil kembali meski secara tersirat namun ini sudah membentuk suatu wacana. Menurut Foucault bahwa setiap tindakan seksual mengandung unsur kekuasaan atau sebaliknya, sejauh mana setiap ekspresi kekuasaan mengandung unsur seks. Mekanisme kekuasaan dalam masyarakat kapitalis yang menindas muncul dari kekuatan wacana. Hubungan sosial tercipta salah satunya lewat praktik seksual melalui bentuk-bentuk tingkah laku sosial di mana di dalamnya individu mengakui dirinya sebagai subjek seksual sehingga kuasa sosial dapat mengontrol mereka secara seksual.


Dari sisi kelas sosial tergambarkan bahwa kebutuhan ekonomi menjadi alasan seseorang untuk melakukan penjualan diri dan masalah seperti ini lebih melihat bahwa kelas bawah dilegitimasi untuk melakukan tindakan tersebut. Dominasi kuasa yang berlebih dari kelas atas semakin terlegitimasi ketika banyak kaum prianya dengan menggunakan uang yang banyak melakukan pembelian terhadap perempuan untuk kebutuhan seksualnya. Kelas semakin terbentuk ketika hubungan domestic dalam keluarga didominasi oleh pria dan kaum perempuan hanya menjadi pekerja rumah tangga yang tidak dibayar, pandangan radikal ini tertuang dalam buku Frederick Engels mengenai asal usul keluarga. Dalam pandangannya kelas sosial tercipta dari lingkungan domestik keluarga dan pada masa sebelum manusia mengenal peradaban sistem sosial dalam hubungan antara pria dan wanita adalah komunal serta cenderung wanita mendominasi saat itu.


Seks, kekuasaan, dan kelas merupakan hubungan yang sangat erat dalam sebuah system. Ketiganya dibentuk untuk menegasikan kekuasaan yang ada dan bentuk – bentuknya bisa dapat dilihat secara simbolik ataupun langsung. Akhirnya legitimasi suatu rejim terbentuk karena dukungan unsur – unsur tersebut diatas, seks berhubungan dengan kesetaraan, kekuasaan berhubungan dengan kontrol kuasa dan kelas adalah yang dominasi atas alat produksi. Dalam film Kawin kontrak lagi ketiga unsur tersebut sangat mewarnai setiap cerita yang ada dan bisa jadi konstruksi perempuan dalam film tersebut terbentuk seusai dengan keinginan pria, karena permasalahan kawin kontrak yang telah menjadi kontroversi belakangan ini dimasyarakat Indonesia tidak secara penuh terjawab dalam film tersebut. Film ini cenderung hanya menampilkan keseksian tubuh wanita sebagai sisi hiburan saja dan komedi berbau seksual. Rasa penasaran penonton mengenai proses dan kehidupan dalam kawin kontrak tidak dijabarkan begitu banyak, sehingga film ini bisa dikatakan tidak memiliki nilai esensial dari kawin kontrak tersebut. Perempuan desa kelas bawah yang membutuhkan ekonomi dan melakukan praktek kawin kontrak untuk kebutuhan hidup dengan mengharapkan kehadiran laki – laki kelas atas untuk dapat memenuhi hidupnya disertai dengan komedi – komedi sensasional merupakan gambaran film kawin kontrak lagi. Relasi kuasa atas nama uang, kelas, dan usia secara tesirat dapat tergambarkan dalam film tersebut, dimana lelaki yang sudah memiliki kuasa yang sekiranya kuat dapat melakukan tindakan apa saja terhadaop perempuan. Melakukan kawin kontrak pada akhirnya hanya menjadi sebuah petualangan seksual untuk menambah kuat kuasa akan dirinya.


D. Kesimpulan

Pada akhirnya kita dapat melihat bahwa suatu produk film ternyata dihasilkan dari suatu fenomena yang ada dalam masyarakat, fenomena kawin kontrak yang menjadi bahan diskusi masyarakat luas merupakan salah satu produk realitas yang difilmkan. Kawin kontrak yang merupakan sebuah prositusi terselubung menjadi hal yang bersifat rekreasi seksual dalam tampilan sebuah film. Sehingga banyak pertanyaan besar dalam film tersebut yaitu bagaimana film tersebut melihat sisi kawin kontrak? Apakah hanya sebuah petualangan seks semata? Atau menggunakan fenomena masyarakat menjadi alat hiburan?. Kalau jawabannya hanya sebuah hiburan berarti pembuat film tidak melihat detail apa yang akan menjadi efek luas terhadap masyarakat. Karena persepsi yang tercipta akan sangat berbeda dalam massa karena dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk melakukan tindakan tersebut dengan dalil petualangan seks.

Secara tidak langsung gambaran film kawin kontrak menegasikan relasi kuasa dalam bentuk wacana seksual dimana peran – peran kelas yang berkuasa semakin dihambakan dan citra gender yang diciptakan dalam film tersebut cenderung merupakan bentukan maskulinitas. Dengan artian perempuan dapat melawan kuasa lelaki namun hanya dengan kekuatan fisiklah hal itu dapat terwujud. Citra gender bukan berarti harus mengikuti bayang – bayang maskulinitas tetapi bagaimana kesetaraan dalam relasi hubungan harus tetap imbang dan dominasi diantaranya tidak saling merugikan. Dapatkah film kawin kontrak menjelaskan hal tersebut atau hanya sebuah hiburan yang sebenarnya terbungkus dalam satu ideologi, jawaban yang masih ditunggu.





Daftar pustaka

Real, Michael R. (1996). Exploring Media Culture. Sage Publications, USA

Ashaf, Abdul firman (2004). Aspek Gender dalam film Indonesia. Univ Lampung

Ritzer, George (2003), Teori Sosial Postmodern. Kreasi Wacana. Yogyakarta


Saturday, March 15, 2008

Soeharto

Dictator General Soeharto died on the 28th of January 28. His death left many controversies from 1998 unsolved, the year when he was ousted after a mass movement of students and workers took to the streets. Many cases, like human rights abuses and corruption, has never been settled.

Suharto took power and became president in an anti-democratic military coup with the support of CIA in 1965. His mission was to take on the communist mass movement, led by the PKI – Communist Party of Indonesia, the biggest communist party outside of the Soviet Union. He replaced Sukarno, the former president, after a rigged coup on the 30th of September that year when six top generals were rounded up and brutally killed. Most evidence lead to the conclusion that this was an action carefully overseen by general Suharto himself as a part of a power struggle in the army. This was then used to blame the Communist party. Not just the PKI, but also militant organizations such as worker’s trade unions, women organizations, art groups, youth organization, and farmers organizations fell victim in the following terror unleashed by Suharto. During that time about million people were killed. CIA provided death lists and technology to seek, find and murder political opponents. This holocaust-like terror belongs to one of the 20th century’s worst atrocities. After this campaign of mass murder of Suharto, president Sukarno, who cooperated during the time, gave Suharto formal permission “to take the country out of national chaos”. Suharto used this letter to replace parliament without any elections what so ever.

Suharto received strong support from the imperialist powers that used the coup d’état to take the lions share of the country’s rich natural resources. In the 1960’s and 70’s neo-liberalism was introduced. Suharto took big loans from the IMF and the World Bank development bank which resulted in a monstrous debt, still swallowing the biggest part of Indonesia’s national income in re-payments. Multinational companies such as Exxon, Freeport Mining, and British Petrolium got lucrative contracts as a result of the slaughter in 1965, and they created ASEAN (Association of South East Asia Nations) to protect their interests. Suharto took part in the founding of this organization.

On 1975, Suharto, this time with the quiet support from the US and Australia among others, invaded East Timor and carried out a campaign of murder and terror sharing many similarities with aftermath of the coup in 1965. Thousands of people were killed in the military operation to seize power over the island. In the following campaign more than 200 000 people were killed and/or starved to death. For Suharto it was important to smash the dreams of independence in East Timor. Indonesia itself is a grouping of island with many different ethnical groups, of whom many have suffered oppression from the central government in Java. A victory for the independence movement in East Timor could have meant a boost for other movements against the national oppression from the Java government, which naturally would have meant a problem for the interests of imperialism. Once again therefore the big capitalist powers more or less happily oversaw the success of the regime in carrying out another campaign of mass murder.

In the 1980’s the pro-democracy movement was born in opposition to the Suharto regime. The government developed many strategies to weaken the mass movement. Snipers shot hundreds of people in the big cities with the pretext of fighting criminality. In another famous incident, the so called Tanjung Priok Cases, the army attacked political activity taking place inside a mosque, leaving hundreds of people gunned down. Another big atrocity in the same decade was the case of Kedung Gombo, a big village on central java that was sunk by water in an irrigation project supported by the World Bank. Many people in that village carried out resistance and hundreds of them were killed when they tried to defend their village. In the 1980’s Suharto was also carrying out disastrous military operations in Aceh and Papua, as a part of carrying out attacks on separatist movements in opposition to the national oppression by his regime. Thousands of people were killed in both provinces, and these crimes have created prolonged unsettled conflicts in these areas of Indonesia which last until today.

In the 1990’s the Suharto regime carried on his dictatorial rule. Human right’s abuses, such as kidnappings of activists in the pro-democracy movement, and huge corruption scandals (he made his family very rich), added to the regime’s decreasing popularity. The weakness of the regime became visible in the mass actions and protests on the 26th of July, 1996. In that time many people where arrested and kidnapped. A bloody attack on the office of the PDI (the old bourgeois Democratic Party, founded by Sukarno) by para-military forces left many people killed inside the building. This tragedy became the starting point for big offensive from the pro-democracy movement. In 1998, as the storm of the South East Asian economic crises did hit Indonesia, a mass movement led by the students launched a series of actions against the Suharto regime, leading to the occupation of the parliament building. Eventually, this led to his fall, as other parts of the ruling class saw the need for a less repressive form of ruling and decided to oust him before the masses did it themselves.
Now, after 10 years since then, and when he finally died, the establishment’s politicians keep debating about law cases. Most want to give him a title for his alleged “heroism” and forgive him for the atrocities he committed. This debate mostly occurred in mainstream media in Indonesia in private channels owned by the Suharto family and its supporters. The Golkar party, built by the army and supporting the Suharto regime for 32 years, has been one of the strong voices in this issue in parliament and media. The campaign is of course being driven by pure self-interest. Many criminals remain prominent members. Politicians from most of the parties have now got together to make a statement to forgive Suharto with the motivation that his death should mean the case should be closed. In addition they want to turn him into a national hero. Indonesian society is divided on this issue. The politicians and media have done what they can to stir up a campaign in support of Suharto, something they couldn’t have done during the revolt of 1998. Today, society is almost like caught in the jail of mainstream media. Every day during Suharto’s illness media have been broadcasting minute by minute in all tv-stations and channels, including state television. During his death all media covered his funeral and presented him and his family in a way as to create a good image.

People need to know what Suharto did during his period in power. The “economic development” during his years in power, often pointed to in order to legitimate his rule, was never in the interest of the poor. The rise in the economy and development in that time was solely created by taking huge loans leading to a burden of dept. Indonesia, as a result of this, is still not independent from the pressures of the big imperialist powers after his stepping down. The economic stability created by Suharto was also based on the super exploitation of the workers, with low paid jobs and the prohibition of any attempts to organise independent trade unions.

Suharto did take loads of money from the state, over billion dollar just for his family, cronies, and businessmen. His power rested on militarism, kidnapping, torture, killings, and repressive security. Altogether between 1965, after the initial massacre, and until 1998, around one million people was killed because of the brutal action from the military.
Suharto will never be seen as a hero by progressive people. Even now after his death, his family and cronies must be put before justice and be investigated. The theft of state property, human rights violations, corruption… all this should be dealt with. Bu then all the remaining rules in the law system that protects his family, laws remaining from his period in power, must be erased. In this way a process could be started, and therefore we should demand this. But the only real way of creating justice in Indonesia will be through a socialist revolution and, with it, the victory of the working class in Indonesia.

Tuesday, January 15, 2008

Suara Masyarakat sipil dalam konferensi perubahan iklim


Udara panas yang cukup menyengat seperti biasanya mewarnai pulau Bali, tempat para wisatawan mancanegara maupun local melakukan liburan ataupun istirahat di pulau yang penuh dengan aroma wisata ini. Di awal bulan desember 2007 tepatnya tanggal 3 hingga 15 pulau ini menjadi tuan rumah pertemuan PBB mengenai perubahan iklim, kondisi bumi yang memanas seperti halnya udara di pulau Bali tidak mengurangi antusias para peserta konferensi yang mencapai 10.000 orang ini. Delegasi yang hadir pun terdiri dari beberapa utusan seperti pemerintahan, bisnis, akademisi, NGO, dan kelompok – kelompok masyarakat dari berbagai belahan dunia. Konferensi yang berlangsung sudah ke 13 kalinya ini seperti biasa membahas mengenai dampak dari pemanasan global dan bagaimana para peserta konferensi menanggapi isu ini untuk kemudian dijadikan kebijakan mengurangi dampak besar dari perubahan iklim. Konferensi PBB yang bernama UNFCCC ( United Nations Framework Climate Change Conference) ini terbentuk dari inisiatif PBB melalui program lingkungannya, dengan sebelumnya pada tahun 1988 bersama WMO ( World Meteorological Organization ) membentuk The Intergovernmental Panel on Climate Change ( IPCC) yang pada setiap lima tahun mengeluarkan laporan mengenai keadaan meningkatnya suhu bumi. Dari perkembangan diataslah melalui berbagai pembahasan dan kesepakatan pada tahun 1992 tepatnya dalam konferensi Bumi ( Earth Summit ) di Rio De janeiro dibahas untuk pembentukan suatu konvensi khusus mengenai perubahan iklim karena ketika mereka memasukkan isu perubahan iklim ke dalam konvensi, negara – negara di dunia sadar bahwa tidak cukup hanya dituangkan ke dalam suatu ketetapan saja.

Pertemuan UNFCCC di Bali kali ini sebenarnya tidak begitu banyak perkembangan yang akan dibahas sebab komitmen Negara maju untuk meratifikasi Protokol Kyoto yang lahir pada pertemuan COP 3 di Jepang masih belum mencapai kata sepakat, hanya Australia yang membuat kejutan melalui perdana menterinya yang baru Kevin Rudd membuat gebrakan dengan meratifikasi protokol tersebut di awal – awal pertemuan Bali ini. Namun secara keseluruhan konvensi ini tidak banyak membahas hal – hal yang konkrit untuk penyelamatan bumi dari pemanasan global adapun pembahasan yang sering terdengar dan terliput dalam media massa utama adalah mengenai perdagangan karbon dan penyelamatan hutan sedangkan dari dalam areal konferensi isu – isu mengenai transfer teknologi, dana adaptasi, dan rencana pembentukan Bali roadmap menjadi santer terdengar di kawasan nusa dua Bali.

Ketatnya keamanan disekitar lokasi konvensi dan wilayah pulau Bali saat berlangsungnya UNFCCC membuat suasana pertemuan seperti halnya pertemuan tingkat tinggi dunia yang membicarakan hal – hal sangat krusial dan penting. Disepanjang jalan – jalan utama di Bali mulai dari bandara hingga kawasan nusa dua penuh dengan penjagaan polisi yang dilengkapi senjata lengkap, di dalam kawasan nusa dua juga demikian bahkan lebih ketat tidak semua orang bias memasuki kawasan areal hotel mewah di Bali ini. Penjagaan yang cukup berlebih ini membawa suasana seakan – akan pembicaraan didalam konvensi sangat dijaga agar hasil – hasilnya dapat dirasakan oleh para pebisnis yang ternyata banyak juga mengikuti konvensi ini.

Kegiatan dalam UNFCCC serta diluar konvensi juga berlangsung secara bersamaan dan banyak pula aktivitas – aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat sipil di Indonesia dan dunia untuk merespon pertemuan ini. Ajang pertemuan kali ini cukup mendapat banyak perhatian dari segala macam bentuk kelompok – kelompok social dari mulai masyarakat sipil, NGO, hingga komunitas – komunitas local. Tercatat ada banyak kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat sipil untuk menyuarakan nada protes kepada pertemuan ini beberapa kegiatan tersebut adalah CSO ( Civil Society Forum ), People’s protocol forum, Global day of action, Greed forum, WSF Asia Consult meeting, dan Solidarity for cool planet. Semua forum masyarakat diatas merupakan forum yang berlangsung diluar arena UNFCCC tempat dimana kalangan masyarakat sipil baik dari NGO, AKADEMISI, MASYARAKAT ADAT, BURUH, KAUM MUDA, PEREMPUAN, DAN PETANI berkumpul untuk menyuarakan suara protes mereka terhadap keadilan iklim. Masing – masing forum memiliki agenda dan pembahasan serta kesimpulan tersendiri namun suara mereka semua adalah suara yang benar – benar harus didengar karena mewakili kondisi dari sebagian masyarakat dunia. Forum ini juga merupakan sebuah tempat kritikan kepada UNFCCC dan para delegasi yang sedang bersidang agar lebih peka lagi terhadap nasib umat manusia dari dampak pemanasan global.

Seperti dalam CSO (Civil Society Forum) forum ini diselenggarakan untuk menghimpun suara – suara dari berbagai kelompok masyarakat sipil baik yang berada di dalam sidang konvensi maupun yang berada di luar sidang, kegiatan yang diselenggarakan didalam areal nusa dua ini terdiri dari beberapa workshop, seminar, testimony hingga hiburan cultural event. Jarak CSO yang dekat dari tempat pertemuan UNFCCC membuat banyak delegasi masyarakat sipil didalam konvensi selalu hadir dalam pertemuan civil society ini. Para selebritis Indonesia pun di ajak bergabung dalam forum yang mempunyai semboyan Climate Justice, bentuk areal seperti kampung dan dilengkapi gazebo – gazebo beratap jerami ini sedikit ramai ketika beberapa penyanyi terkenal Indonesia mengisi panggung utama setiap harinya.

Adapula people’s protocol forum atau deklarasi rakyat untuk perubahan iklim, forum ini merupakan lanjutan dari pertemuan Bangkok pada bulan Oktober 2007 yang dihadiri oleh beberapa kelompok masyarakat sipil dari belahan dunia yang mempunyai ide untuk menciptakan suatu deklarasi khusus untuk rakyat untuk perubahan iklim. Deklarasi ini mengartikulasikan nilai – nilai dan prinsip – prinsip yang seharusnya menjadi pedoman aksi dan perjuangan rakyat secara internasional melawan perubahan iklim dan berbagai dampak kehancuran ekologi global dan social ekonomi yang diakibatkannya kalimat demikian merupakan bagian dari isi draft deklarasi rakyat tersebut. Deklarasi yang berlangsung sehari menjelang day of action ini dihadiri oleh beberapa aktivis social local disekitar Bali dan beberapa aktivis internasional ini, hadir pula aktivis pembebasan Papua. Suasana deklarasi pun berlangsung cukup sederhana dengan terlebih dahulu penyelenggara mengadakan sebuah diskusi dengan narasumber dari beberapa aktivis yang telah disebut diatas, acara sempat diselingi dengan tarian Bali bertema puputan ( yaitu sebuah tarian yang bertema symbol perlawanan masyarakat Bali melawan penjajah ). Kegiatan diskusi yang diadakan oleh beberapa kelompok LSM diatas merupakan bentuk rangkaian kegiatan people’s protocol forum dengan sebelumnya mengadakan sebuah workshop dengan masyarakat adat asli Bali sekitar radius ratusan kilo dari kota Denpasar (ibukota bali). Sehabis kegiatan diskusi mereka mensosialisasikan protocol ini dalam aksi demonstrasi pada tanggal 10 Desember bertepatan dengan hari deklarasi hak asasi manusia seluruh dunia. Dengan harapan people’s protocol ini dapat menjadi acuan bagi gerakan social seluruh dunia dalam rangka menyikapi isu pemanasan global dan terus dibawa dalam pertemuan – pertemuan UNFCCC berikutnya.

Tanggal 8 Desember merupakan hari aksi solidaritas seluruh dunia dalam rangka memberikan suara dari akar rumput terhadap pertemuan UNFCCC Bali 2007, aksi yang telah disepakati dan diadakan oleh beberapa komunitas dunia yang peduli akan pemanasan global ini berlansung serentak pada tanggal yang sama diseluruh Negara dunia dari mulai benua Australia, Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika. Khusus di Bali aksi ini sangat special karena sebagian dari perwakilan kelompok gerakan social dunia sedang berkumpul di pulau ini dalam rangka mengikuti konferensi UNFCCC, sejak pagi sekitar pukul 10 kantor DPRD ( parlemen daerah ) sudah didatangi oleh ratusan kelompok massa untuk berkumpul disana. Sebab pemerintah local tidak memberikan izin melakukan aksi di dekat areal konferensi pada tanggal tersebut. Lokasi kantor DPRD ini berjarak sekitar 1,5 jam dari areal pertemuan UNFCCC di NusaDua, kelompok massa yang terlebih dahulu ada disana melakukan diskusi terbuka dengan perwakilan anggota parlemen daerah. Baru sekitar pukul 1 siang ribuan massa mulai berdatangan untuk kemudian melakukan longmarch mengelilingi areal lapangan renon Bali yang letaknya persis didepan gedung parlemen daerah. Aksi demonstrasi ini diawali oleh barisan kelompok massa dari Anand Krisna yaitu merupakan kelompok religi hindu yang berwawasan pluralism dan keindonesian, dengan diikuti oleh barisan massa dari Walhi, Foei, Perempuan, Perdagangan adil, partai buruh Korean,masyarakat adat, Anti hutang, Via Campesina, Mahasiswa, dan kelompok massa lainnya. Aksi dengan berkeliling lapangan puputan ini yang sebesar tiga kali lapangan sepak bola berlangsung kurang lebih selama 2 jam. Banyak dari yel yel yang keluar dalam demonstrasi bernada menentang pertemuan UNFCCC slogan – slogan dalam spanduk pun bernada mengkritisi keras pertemuan ini karena hanya pembicaraan mengenai bisni saja bukan tentang bagaimana keadilan iklim itu berjalan itulah salah satu kalimat dari satu spanduk yang dibawa oleh barisan massa. Berbagai macam kalimat – kalimat dan warna warni spanduk yang meramaikan aksi massa hari itu serasa semakin panas apalagi suasana udara sekitar lapangan juga terasa panas, sambil berkeliling dan berteriak2 ada juga yang menari2 dengan irama music india yang dibawakan oleh kelompok hindu Anand krisna serasa hari itu adalah pesta bagi masyarakat sipil untuk bersuara kepada UNFCCC yang sedang bersidang. Dalam barisan aksi massa banyak atribut2 yang digunakan seperti ada yang memakai pakaian adat Bali, pakaian ala india, memakai baju dari bahan2 plastik, bersepeda, boneka2 raksasa mengecam Amerika dan Bush, barisan gamelan Bali pada barisan belakang. Aksi hari itu menjadi sebuah suara besar masyarakat sipil kepada UNFCCC agar kepentingan rakyat harus diutamakan dibandingkan bisnis dalam membicarakan masalah perubahan iklim.

Forum lain yang ada dalam penggalangan masyarakat sipil melawan perubahan iklim ini adalah ‘Solidarity for the cool planet’, forum ini berlangsung didalam arena pertemuan CSO namun isu dan pesertanya ada pula dari luar kelompok2 dalam CSO sendiri. Forum ini kebanyakkan membahas mengenai dampak neoliberalisme dan perdagangan bebas dalam hubungannya dengan perubahan iklim, sehingga banyak figur dan tokoh2 yang sangat kritis dengan globalisasi menjadi penyelenggara dan pembicara dalam forum yang selalu ramai diikuti oleh peserta. Tokoh yang hadir sepert Walden Bello (Focus), Yoko Amimoto (ATTAC Japan), Henri Saragih (Via Campesina), Meena Menon (Focus India) dan diikuti pula oleh organisasi seperti MST Brazil, Globalization Monitor, Korean Confederation Trade Union. Topik yang sangat ramai dibicarakan dalam forum solidaritas tersebut sangat bervariatif ada yang memobilisasi persiapan aksi untuk G8 di Hokaido Jepang pada bulan Juni yang dikampenyakan oleh ATTAC dan ada juga membicarakan mengenai matinya pertanian dibawah rejim neoliberalisme. Atau berbicara mengenai dampak negatif dari perdagangan karbon terhadap kesejahteraan rakyat miskin dan relevansinya terhadap ekonomi neoliberalisme. Forum solidaritas yang berlangsung selama 3 hari ini sangat memberikan pencerahan bagi masyarakat sipil untuk memahami bahwa isu perubahan iklim sangatlah berdekatan dengan isu globalisasi karena mencakup isu perdagangan pula didalamnya serta bisnis baru utamanya yang tentunya merugikan seluruh rakyat miskin dan masyarakat adat.

Disela – sela forum pertemuan masyarakat sipil tersebut terdapat juga rapat mengenai persiapan Forum Sosial Dunia 2008, dalam rapat tersebut dibahas mengenai rencana aksi secara global dalam rangka merespon pertemuan tahunan masyarakat sipil seluruh dunia tersebut. Pertemuan yang telah berlangsung sejak tahun 2001 ini sudah pernah berlangsung antara lain di kota Porto Alegre, Mumbai, Nairobi, Caracas, Bamako, dan Karachi. Untuk tahun 2008 ini aktivis dalam forum social dunia akan mengadakan aksi secara serentak pada tanggal 26 Januari di seluruh dunia sehingga tidak akan ada pertemuan di satu tempat lagi untuk tahun ini namun forum akan kembali berlangsung pada tahun 2009 di Amazon Brazil. Dalam rapat pertemuan mereka dihadiri oleh beberapa perwakilan kelompok dari berbagai Negara asia seperti Thailand, India, Pakistan, Indonesia, dan Filipina dalam pertemuan tersebut mereka bersepakat untuk melakukan aksi bersama pada hari global day of action Forum Sosial Dunia dengan isu yang dimiliki masing – masing wilayahnya namun masih satu kerangka sama dalam nilai perjuangan dari deklarasi Forum Sosial Dunia.

Suara – suara masyarakat sipil tidak hanya terjadi dilluar arena UNFCCC melalui forum – forum yang mereka selenggarakan melainkan pula terjadi didalam areal konferensi UNFCCC. Puluhan orang bahkan beberapa orang setiap harinya melakukan aksi simpatik didepan pintu masuk BICC ( Tempat pertemuan berlangsung ) aksi yang diadakan biasanya berlangsung setiap pagi hari menjelang konferensi dibuka. Dengan menggunakan spanduk seadanya atau menggunakan perlengkapan seadanya mereka biasanya berteriak untuk menarik perhatian para delegasi yang melewatinya, pengawasan ketat pun dilakukan oleh polisi PBB yang berjaga sepanjang hari. Kelompok – kelompok yang aksi banyak dari NGO2, kaukus muda, individu dan beberapa organisasi2 lainnya.

Dalam areal konferensi UNFCCC sendiri tidak membawa hasil yang sangat signifikan para delegasi yang bersidang sangat lambat dalam mengambil keputusan maupun ketika bernegoisasi. Ajang pertemuan hanya dijadikan agenda bisnis baru bagi perusahaan2 besar dan kepentingan Negara maju untuk mempertahankan emisinya yang tidak mau dikurangi,nyaris pertemuan ini hanya jadi ajang basa basi politik dan dagang. Hal krusial mengenai bagaimana menyelamatkan bumi ini dari pemanasan global tidak disentuh sama sekali oleh para delegasi, Negara maju khususnya Amerika Serikat masih ingin bertahan untuk tidak tanda tangan protocol Kyoto dan mengurangi emisi, Negara – Negara berkembang tidak begitu banyak didengar oleh Negara maju tetapi malah diberi dana untuk pemyelamatan lingkungan hal ini sebenarnya tidak menyentuh langsung kepada isu penyelematan lingkungan. Banyak rapat2 yang berlangsung deadlock bahkan harus diselesaikan hingga dini hari dan pertemuan ini sendiri berakhir mundur dari jadwal sebenarnya.

Hasil - hasil selama pertemuan ini memang tidak begitu banyak kemajuan, beberapa isu menonjol selama pertemuan ini antara lain mengenai dana kompensasi Negara maju kepada Negara berkembang. Untuk isu ini memang menguntungkan bagi Negara berkembang sebab uang mengalir begitu banyak nantinya namun ini juga dapat menjadi jebakan sebab apakah uang tersebut dapat digunakan semestinya atau menjebak untuk korupsi kembali sedangkan Negara maju tidak ingin mengurangi emisi karbonnya jadilah Negara berkembang hanya jadi sapi perah emisi mereka. Selain isu dana kompensasi masalah transfer teknologi juga santer terdengar dalam pertemuan yang merupakan usaha dari PBB untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global ini, transfer teknologi mengalami kendala sebab Negara maju masih tidak ingin mentransfer teknologi majunya untuk Negara dunia ketiga. Permasalahan ini sempat mengemuka dalam setiap sidang – sidang yang berlangsung teknologi nampaknya masih menjadi barang mahal bagi Negara maju untuk dishare kepada Negara berkembang, kalaupun teknologi transfer ini bisa berjalan itupun harus melalui agen – agen mereka yang diwakili oleh perusahaan2 bisnis raksasa berskala besar. Isu terakhir yang mendapat perhatian besar dalam UNFCCC di Bali ini adalah Bali roadmap yaitu sebuah kesepakatan menuju 2009 untuk persiapan pengganti protocol Kyoto yang akan berakhir pada tahun 2012. Meskipun roadmap ini sangat penting sebagai masukan dalam pertemuan2 mendatang di Polandia dan Kopenhangen namun komitmen Negara-negara didalam UNFCCC juga bias dipertanggung jawabkan. Sebab masih banyak hal yang perlu disepakati untuk mewujudkan roadmap ini berhasil dan mencapai apa yang diinginkan oleh banyak pihak, hasil roadmap yang sudah keluar pada pertemuan Bali tidak menjamin keberhasilan ini. Sebab selain pembicaraan roadmap yang memakan banyak waktu hasil akhirnya pun hanya berupa konsesus bukan implentasi yang jelas, Amerika Serikat sebagai penghalang roadmap ini tetap bersikukuh untuk tidak ingin mengurangi emisinya sepeser pun. Hal ini menunjukkan pertemuan Bali dan pertemuan2 berikutnya hanya akan menjadi ajang pertemuan tidak jelas apabila semua Negara yang terlibat didalamnya tidak peduli akan nasib pemanasan global yang sudah didepan mata.

Pertemuan COP 13 Bali kali ini akhirnya hanya berhasil menjadi ajang menebar image antara beberapa figure politik, seperti Kevin Rudd dengan manuvernya menandatangi Australia untuk protocol Kyoto, terpilihnya sang broker karbon Al Gore sebagai peraih nobel perdamaian meskipun aneh dilihatnya, presiden Indonesia yang membagikan cd gratis ciptaan lagunya tentang pemanasan global.

Konsesus roadmap telah disetujui dalam UNFCCC Bali namun Amerika Serikat tetap tidak ingin mengurangi emisi sampai 2012, dan kepentingan perusahaan besar sangat dominan dalam konferensi ini. Sebagai catatan untuk UNFCCC bahwa sesungguhnya kepentingan rakyat dunia dan penyelamatan bumi harus didahulukan jangan sampai konferensi ini hanya menjadi ajang buang uang dari industri besar untuk memuluskan jalannya neoliberalisme, dunia kita ini bukan untuk diperdagangkan.


Tulisan Oleh : Meistra Budiasa


Wednesday, June 27, 2007

SUKSES BLOKADE G8, SELANJUTNYA?


We will we will block you!!! Itulah penggalan kalimat dari para demonstran pada saat mereka akan melewati barisan polisi untuk melakukan blockade jalan menuju heiligendamm 6 juni 2007 lalu, para aktivis anti globalisasi dari seluruh dunia ini ( mayoritas dari jerman ) berhasil menduduki akses jalan menuju tempat pertemuan G8 hingga beberapa delegasi G8 melewati jalur laut dan helicopter menuju lokasi pertemuan. Walaupun tidak bisa menghentikan pertemuan namun rencana para aktivis yang telah dipersiapkan bertahun – tahun berhasil tercapai, hal ini tidak lepas peran para gerakan sosial di Jerman dalam mengadakan persiapan – persiapan aksi ataupun mobilisasi – mobilisasi aksi menjelang KTT G8.

* Mobilisasi aksi anti G8 di Jerman
Mungkin tidak begitu banyak yang mengetahui bahwa persiapan aksi anti G8 ini sudah dimulai selama 2 tahun sebelum aksi puncak tahun 2007 ini. Mereka sudah mengadakan kontak baik lewat email, internet, dan juga leaflet – leaflet di kota – kota besar di Jerman. Bahkan pada aksi anti G8 di Gleanegles, Scotland 2005 kampanye untuk aksi Heiligendamm ini sudah dimulai. Ada beberapa grup yang mengkampanyekan aksi ini seperti Dissent ( network anarkis anti globalisasi ) , Intervionist left ( kelompok kiri baru yang terdiri dari berbagai organisasi gerakan sosial di Jerman ), ATTAC ( organisasi massa anti globalisasi ) dan beberapa kelompok serikat buruh dan NGO.
Banyak kegiatan yang mereka lakukan dalam mengkampanyekan aksi ini, di Jerman sendiri masing – masing grup mempunyai karakteristik sendiri dalam melakukan persiapan – persiapan aksi. Seperti biasanya selain melakukan aksi massa di hari – hari besar kelompok – kelompok ini seringkali membuka stand – stand di tempat keramaian sambil membagikan brosur dan berbicara banyak dengan orang – orang yang melewati stand mereka, “persiapan aksi kami sudah dilakukan sangat matang sejak jauh – jauh hari” seperti yang diungkapkan oleh seorang organisator aksi anti G8. Kelompok yang telah pula aktif dalam gerakan mobilisasi ini antara lain oleh gerakan mahasiswa, mereka selalu memasukkan isu anti G8 disetiap propaganda mereka dalam aksi seperti pembebasan biaya pendidikan. Perlu diketahui bahwa saat ini untuk kuliah di Jerman dieknakan biaya pendidikan yang berkisar antara 500 – 800 Euro per semester. Hal ini berlaku semenjak pemerintahan Angela Merkel yang akan memprivatisasi pendidikan dan isu ini menjadi utama dalam gerakan mahasiswa di Jerman. Kelompok lain yang aktif memobilisasi adalah para pecinta lingkungan, kelompok ini merupakan salah satu inisiator dari aksi blokade pertemuan G8. Dari berbagai macam pengalaman mereka dalam aksi anti nuklir kelompok ini banyak melakukan pelatihan – pelatihan bagaimana cara menghadapi polisi dalam aksi memblokade jalan ataupun menduduki jalan. Para aktivis lingkungan ini sangat tekun sekali dalam melakukan pelatihan dan memberikan instruksi dalam setiap latihannya dengan sangat bermanfaat. Organisasi massa anti globalisasi terbesar di Jerman yaitu ATTAC juga terlibat sangat aktif dalam mobilisasi ini, mereka banyak mengadakan diskusi – diskusi bersama gerakan sosial di jerman seperti serikat buruh, organisasi kiri, dan juga mahasiswa. Kelompok ini terkenal sangat aktif dalam persiapan aksi anti G8 kali ini, banyak aksi – aksi protes yang berhubungan dengan isu globalisasi ATTAC menurunkan massa yang cukup banyak dan juga dalam persiapan aksi anti G8 banyak seruan – seruan kepada massa untuk bergabung dalam aksi mereka.
Namun ditengah – ditengah ramainya organisasi massa tergerak bersatu mengadakan persiapan aksi tolak G8 perpecahan terjadi di serikat buruh Jerman. Perpecahan terjadi diantara sesama serikat buruh besar seperti IGM Metall dan VERDI kedua organisasi besar tersebut pecah akibat kuatnya control dari pimpinan serikat buruh mereka yang menjadi sangat birokratis dan kompromis dengan pemerintahan parlemen khususnya SPD ( sosial democrat ). Dalam suatu pertemuan antara serikat buruh beberapa minggu sebelum aksi G8 perdebatan sengit terjadi diantara mereka, ketika keluar satu pernyataan dari salah seorang peserta diskusi yang mengatakan bahwa links partie ( partai kiri di jerman ) yang saat ini duduk di bundestag jerman tidak mampu mengorganisir massa gerakan buruh kearah yang lebih radikal. Dan perdebatan terjadi lebih banyak kepada kampanye – kampanye mereka kepada gerakan massa pekerja di jerman sendiri yang dirasa sangat kurang hal ini terjadi utama dalam IGM Metall dimana selama ini mereka sangat kuat dan banyak dalam memobilisasi aksi namun pada G8 kali ini mereka tidak terlihat begitu kuat massanya meski dalam propaganda mereka menyerukan agar pekerja dan buruh bergabung dalam aksi menolak G8 kali ini. Sementara VERDI ( organisasi serikat buruh yang berhubungan dengan telekomunikasi ) juga mengalami hal yang sama namun mereka dalam hal isu saat ini memiliki relevan dengan pengaruh dari globalisasi, dimana puluhan ribu pekerja telekom salah satu perusahaan telekomunikasi milik negara akan di privatisasi dan eksesnya yaitu pekerja akan di phk. Verdi bersama serikat buruh lainnya melakukan aksi solidaritas untuk hal ini dan sekaligus mengkampayekan aksi mobilisasi menolak G8. Bagaimanapun perdebatan antara serikat buruh tersebut namun pada akhirnya tetap saja beberapa anggota dari serikat buruh tersebut terlihat dalam aksi menolak G8 meski jumlah massanya tidak sebesar aksi mereka setiap hari.

* Aksi anti G8 di Rostock dan provokasi polisi
Kota Rostock pada awal Juni 2007 ini mendadak menjadi sebuah kota yang ramai dipenuhi oleh ribuan orang anti kapitalis dari seluruh eropa dan dunia. Mereka datang melalui berbagai cara ada yang secara organisasi, individu, kelompok maupun undangan dari masyarakat sipil di Jerman. Berbagai aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan gerakan sosial terjadi disini, meski keamanan di Jerman menjelang KTT G8 sangat ketat. Polisi Jerman melakukan operasi besar – besaran dalam menjaga keamanan G8 sekitar jutaan euro dikeluarkan oleh pemerintah untuk fasilitas ini bahkan radius 5 kilometer dari Heiligendamm dipagari oleh kawat berduri. Meski polisi sempat melakukan tindakan agresif sebelum KTT G8 yaitu dengan melakukan sweeping ke berbagai sosial center di Jerman dan menggeledah flat – flat namun tidak menyurutkan semangat para aktivis yang semakin besar secara bergelombang datang ke Rostock.
Dalam menyambut aksi anti G8 ini banyak organisasi yang telah sejak lama mengkampanyekan aksi mereka membuat berbagai agenda aktivitas selama di Rostock dan berlangsungnya G8 di Heiligendamm. Kegiatan tersebut antara lain : kemah, pertemuan alternatif, konser musik, aksi protes, dan aksi blokade.
Seperti dikatakan diatas bahwa banyak berbagai macam cara para aktivis anti kapitalis datang ke kota Rostock, salah satunya seperti yang dilakukan oleh ATTAC yang mengorganisir perjalanan kereta api menuju kota Rostock dari kota – kota di Jerman. Ada tiga jalur kereta yang dilalui untuk menjemput aktivis – aktivis dari berbagai wilayah, jalur tersebut dimulai dari tiga kota yaitu Bonn, Frankfurt, Munich kemudian melewati berbagai wilayah yang dekat dari kota tersebut.
Tanggal 2 juni 2007 hampir semua aktivis anti kapitalis sudah hadir di kota Rostock, karena pada tanggal tersebut demonstrasi hari pertama menjelang G8 dimulai. Sekitar siang hari halaman depan stasiun kereta Rostock dipenuhi oleh lautan manusia dengan berbagai macam atribut dan warna warni bendera. Disini mereka berkumpul dan melakukan longmarch untuk mengatakan kepada warga kota menolak pertemuan G8, kebebasan ekspresi manusia untuk melawan dominasi G8 terlihat disini. Mereka melepaskan segala atribut keformalan kehidupan tidak ada rasisme disini, tidak ada fundamentalis agama disini, tidak ada patriaki disini, tidak ada dominasi disini, tidak ada eksploitasi disini, tidak ada kekuasaan disini yang ada adalah kebersamaan dalam satu suara anti kapitalisme dan anti G8. Barisan panjang massa terlihat di jalan utama kota dan yel yel anti kapitalis menyeruak di sekitar massa, kibaran bendera, baliho, spanduk berwarna warni meramaikan suasana aksi protes internasional anti G8 ini.
Sementara itu sederetan barisan blac bloc berjalan rapi di belakang, kelompok ini menggunakan pakaian serba hitam lengkap dengan masker dan meneriakkan slogan anti kapitalisme dan globalisasi. Barisan mereka nampak diawasi serius oleh polisi, sebab kelompok anarki ini biasa melakukan aksi yang cukup radikal dalam penyampaian pendapatnya. Lemparan botol, batu, dan cacian terhadap aparat terkadang muncul dari teriakan mereka. Gas air mata tidak menyurutkan militansi mereka untuk terus melakukan perlawanan sampai pada akhir long march kelompok ini tiba – tiba mendapatkan serangan dari polisi sehingga bentrokkan besar pun tidak dapat dihalangi, benturan ini terus terjadi hingga massa aksi kembali pulang dari aksi. Rusuh kelompok blac bloc ini menjadi sebuah topik pembicaraan hangat dikalangan organisasi – organisasi massa selama aksi anti G8, bahkan statement – statement politik banyak dikeluarkan oleh organisasi tersebut. Blac bloc menjadi fenomena opini selama aksi anti G8, ulah mereka sendiri yang selalu tanpa kompromi akhirnya menjadi sebuah ikon pembicaraan politik. Bukan hanya gerakan tapi juga masyarakat biasa, media mainstream, dan pemerintah membicarakan kelompok ini di setiap kesempatan. Meski menjadi sebuah opini besar kelompok blac bloc tetap saja selama aksi anti G8 tidak mengeluarkan pernyataan apapun atau melakukan dialog terbuka.
Berbagai aksi protes menolak pertemuan G8 terus berlangsung selama awal – awal minggu bulan Juni, demonstrasi setiap harinya terjadi sesuai dengan isu – isu yang lebih spesifik seperti agrikultur, imigran, anti perang dan aksi blokade. Setiap hari pula kota Rostock dijaga ketat oleh polisi yang lengkap memeriksa setiap orang yang dicurigai terutama ciri – ciri seperti blac bloc.

* Pertemuan alternatif
Salah satu gerakan sosial masyarakat sipil selain demonstrasi yaitu diadakannya pertemuan alternatif sebagai tandingan dari KTT G8. Pertemuan yang dinamakan G8 alternative summit ini dihadiri oleh beberapa pembicara yang terkenal dengan ide – ide kritis globalisasi seperti Walden Bello ( Focus Global South ), Susan George ( ATTAC ), John Holloway ( Open Space ), Alex Callinicos ( Prof. Kings College, London ), Vandana Shiva ( India ) dan pembicara lain dari kalangan akademis maupun aktivis pengkritisi globalisasi. Topik pembahasan yang dibicarakan dalam forum ini sangat beragam mulai dari isu gender, lingkungan, ide – ide baru, anti pangkalan Amerika, Venezuela dan berbagai isu global lainnya yang berhubungan dengan globalisasi maupun G8. Namun pertemuan alternatif ini tidak memiliki sedikit statement keras terhadap G8 karena liputan atau aksi demonstrasi massa lebih kuat dibanding forum ini, meski demikian pernyataan beberapa pembicara sangat varian dan cukup keras dalam merespon beberapa isu global. Seperti pada saat pembukaan forum alternatif Walden Bello mengeluarkan pernyataan yang cukup menarik yaitu mengenai tatanan badan dunia yang sudah akan hancur dimana “IMF, Bank Dunia, WTO, G8 saat ini diambang kehancuran maka kita masyarakat dunia akan melihat keruntuhan badan – badan ini”.
Topik lain dalam pertemuan alternatif yang cukup mendapat perhatian banyak aktivis yaitu mengenai ide pemikiran John Holloway mengenai merubah dunia tanpa berkuasa, dimana inti dari pemikiran beliau adalah bahwa perubahan besar yang akan terjadi di dunia ini akan lebih baik dengan cara- cara kolektif namun tidak untuk berkuasa atau secara kalimat yang lebih mudah adalah partisipasi antar manusia dalam melakukan segala kegiatan. Kemudian ia membuat forum diskusi yang dinamakan open space disini para hadirin dapat bertukar pikiran mengenai ide- ide yang bisa si share dan menjadi masukan bagi pemikiran baru ini, sebagai gambaran pemikiran beliau itu hampir sama apa yang diterapkan oleh kelompok Zapatista di Meksiko yaitu sebuah kelompok perlawanan bersenjata masyarakat adat Chiapas yang berperang melawan perjanjian pasar bebas di Meksiko tahun 1994 meski saat ini mereka tidak menggunakan senjata lagi dalam melakukan perlawanan dan menggunakan metode yang bisa jadi mirip dengan apa yang Holloway pikirkan.
Pertemuan alternatif ditutup dengan orasi yang dilakukan oleh Vandanan Shiva seorang tokoh feminis lingkungan dari India. Dan pertemuan ini pula tidak menghasilkan sebuah statement yang keras menentang G8 bahkan isu pertemuan alternatif tertutup oleh isu suksesnya blokade jalan oleh para aktivis gerakan sosial, karena pertemuan alternatif waktunya bersamaan dengan aksi blokade jalan untuk menghalangi rombongan delegasi dan logistic menuju Heiligendamm yang jaraknya 20 kilometer dari kota Rostock.

* Sukses Blokade G8
“Kami ingin memblokade akses jalan menuju Heiligendamm untuk menghadang para diplomat, translater, logistik, rombongan pimpinan negara, yang ingin menuju tempat pertemuan G8”. Inilah salah satu penggalan kata – kata dalam brosur kampanye blokade atau yang dikenal dengan Block G8, siapa saja bisa bergabung dengan aksi ini dan mengikuti aksi kolektif untuk blokade. Tujuan utama dari aksi blokade sebenarnya selain untuk menganggu jalannya rombongan yaitu sebagai simbol untuk mendelegitimasi G8 serta segera masyarakat sipil untuk mengatakan tidak kepada G8. Cukup banyak organisasi massa bergabung dan membentuk aliansi blok G8 ini antara lain kelompok gereja, radikal kiri, aktivis anti nuklir, aktivis lingkungan, serikat buruh, partai politik dan organisasi pemuda.
Berbagai kelompok tersebut telah lama dan banyak melakukan kampanye pelatihan kepada masyarakat umum serta aktivis gerakan yang ingin bergabung dalam aksi G8. Petunjuk – petunjuk untuk aksi blokade dan cara – cara taktik aksi blokade diberikan pada setiap latihan – latihan yang mereka lakukan, perlu diketahui bahwa aksi blokade sangat populer dikalangan aktivis anti nuklir yang sering melakukan aksi ini di berbagai tempat di Jerman dalam rangka menolak pembangunan pembangkit tenaga listrik tenaga nuklir beberapa tahun yang lalu. Sehingga tidak heran apabila aktivis anti nuklir paling banyak memberikan pelatihan kepada aktivis karena taktik dan pengalaman yang mereka alami jarang sekali yang gagal hal ini dapat terlihat dari cara – cara mereka melatih yang selalu menceritakan pengalaman mereka dan juga pemutaran film – film kesuksesan blokade.
Dalam aksi protes kali ini koalisi block G8 mempersiapkan secara matang taktik dan strategi blokade, tidak heran banyaknya selebaran, poster, buku kecil, dan informasi mengenai cara kita menghadapi blokade dan mengajak massa untuk bergabung. Informasi ini banyak dilakukan dalam kemah – kemah anti G8, kelompok – kelompok massa yang ada dalam aksi, dan individu yang ingin bergabung. Setiap hari sepanjang aksi anti G8 koalisi ini mengadakan pelatihan kepada para aktivis dan seluruh massa yang ada di kemah, pelatihan ini sama seperti yang mereka sempat lakukan diberbagai kota di Jerman sebelumnya. Banyak peserta dalam kemah yang tertarik untuk mengikuti latihan ini kebanyakkan dari mereka berasal dari luar Jerman terutama aktivis – aktivis dari luar negeri ( kebanyakkan dari sekitar eropa) tidak heran dalam setiap latihannya menggunakan berbagai bahasa seperti inggris, perancis, spanyol, Italia dan jerman sendiri.
Dalam latihan blokade diberikan instruksi untuk bagaimana menggunakan taktik aksi yang efektif dan berhasil mengelabui polisi, sebab dalam setiap aksi polisi Jerman memiliki prosedur untuk melakukan penangkapan maupun menghadapi aksi. Hal utama yang perlu dihadapi selama aksi blokade adalah tetap tenang dan jangan panic ketika polisi datang berusaha untuk menakuti dan membubarkan aksi blokade, posisi kita harus tetap duduk dengan santai dan jangan berbuat hal yang membuat rusuh meski terkadang polisi melakukan provokasi. Dipraktekkan pula bagaimana kita para demonstran yang sedang duduk diangkat oleh polisi secara satu persatu, tentu dalam latihan ini dibagi menjadi dua kelompok ada yang menjadi demonstran dan polisi. Latihan ini sangat efektif sehingga kita yang sudah mengikutinya akan bersemangat untuk langsung ikut kegiatan blokade. Satu hal yang paling penting dalam menghadapi aksi blokade kita berusaha untuk tidak membuat konfontasi terhadap polisi sebab hal ini akan melegalkan mereka untuk menangkap para demonstran dan aksi blokade akan berlangsung gagal.
Sistem massa atau organisasi yang berlaku dalam aksi blokade ini adalah membagi massa menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari beberapa kecil anggota sekitar 10 – 30an orang, kelompok ini dinamakan affinity group ( di indonesia sistem ini dikenal dengan per sel ) setiap sel group memiliki perwakilan di kelompok besar dalam koalisi block g8. Metode pemilihan perwakilan pun melalui diskusi dalam kelompok dan kemudian melakukan voting untuk memilih perwakilannya, maka itu apabila kita berada dilapangan pada saat aksi anti g8 ini akan terlihat para aktivis berjalan dengan grup – grup kecil. Siapa saja bisa bergabung dalam aksi blokade ini? Jawabannya semua orang bisa bergabung asalkan tidak rasis, seksis, fundamentalis, dan ikut pelatihan yang dibuat oleh koalisi. Untuk menemukan affinity grup para peserta individu akan mendapatkan kelompok pada saat mereka mendaftar dan mengikuti pelatihan, setelah itu affinity grup akan mendapat petunjuk setiap harinya dari para instruktur koalisi block g8.
Dalam aksi blokade di Heiligendamm kali ini diperkenalkan sebuah taktik baru, taktik ini menjadi bahan berita utama di berbagai koran lokal Jerman. Taktik tersebut dinamakan five finger ( lima jari ), yaitu petunjuk untuk melakukan penyebaran blokade dengan metode merenggakan kelima jari keatas ketika berhadapan dengan barikade polisi. Masing – masing jari memiliki arti warna sebuah bendera ketua regu, karena ketika kita berjalan bersama – sama menuju lokasi blokade para perwakilan affinity group akan diberi petunjuk berupa bendera berwarna warni yang itu merupakan simbol memecah barisan aksi untuk menipu barikade polisi. Karena pada saat aksi blokade para perwakilan affinity group akan dibriefing untuk ditentukan warna bendera yang harus diikuti dan untuk mengetahui bagaimana bendera itu diikuti taktik lima jari digunakan, masing – masing jari adalah warna dari bendera, sehingga ketika berhadapan dengan massa barisan akan berpencar menjadi lima barisan.
Pada tanggal 6 Juni 2007 aksi blokade G8 berlangsung, para aktivis blokade sudah melakukan persiapan lebih matang pada malam hari sebelumnya. Mereka antara lain ikut latihan, rapat koordinasi, dan panitia block G8 memberikan briefing bagaimana aksinya nanti. Malam sebelum hari H affinity group juga melakukan rapat dengan kelompoknya mereka membahas jalur yang akan dilewati oleh para aktivis blokade, persiapan yang serius ini terjadi di seluruh kemah anti G8 yang tersebar di tiga wilayah Roctosk.
Pada pagi yang cerah ketika aksi blokade dimulai para affinity group sudah mulai berkumpul di depan kemah mereka masing – masing, saat itu sekitar pukul 6 pagi mereka sudah mulai berjalan secara berkelompok dengan tujuan menuju titik sentral pertemuan mereka yang tersebar di beberapa wilayah. Dari titik sentral pertemuan ini kemudian seluruh affinity group berkumpul dan berjalan bersama menuju lokasi blokade, perlu diketahui jalan menuju lokasi blokade adalah persawahan dan peternakan yang sangat luas. Jadi ketika para aktivis selesai berkumpul di titik sentral mereka kemudian berjalan bersam –sama melewati rerumputan yang luas dan terkadang melewati tempat peternakan sapid dan kuda, ada empat wilayah titik sentral pada hari aksi blokade tersebut. empat wilayah blokade tersebut adalah : bandara udara Rostock laarge, Wittenbeck, Bad Doberan, dan Borgerende. Khusus di bandara Rostock laarge para aktivis tidak bergabung karena lokasi pertemuan berada di pusat kota, sedangkan aktivis yang menuju ke wilayah tiga wilayah diatas pada pukul 10 pagi menempuh perjalanan dengan halang rintang persawahan, ladang, perkampungan dan peternakan. Blokade di airport cukup berhasil menduduki jalan namun ketika rombongan kepala negara datang seperti Bush dan Putin datang polisi melakukan tindakan represif yang menyebabkan beberapa aktivis ditangkap, meski demikian semangat perlawanan untuk memblokade lokasi airport tetap ada. Sedangkan para aktivis yang berjalan menuju lokasi utama blokade di ketiga wilayah yang sudah ditentukan terus berupaya mencari celah agar perjalanan blokade mereka berhasil, sekitar 4 jam mereka melalui jalur – jalur yang penuh rintangan tersebut. Sampai pada akhirnya para aktivis blokade tersebut mendekati lokasi titik akhir blokade. Meskipun perjalanan cukup jauh akhirnya para aktivis ini tiba di ketiga wilayah tersebut, seperti di Bad Doberan dimana lokasi ini sangat dekat sekali dengan pagar pembatas kota Heiligendamm yang jaraknya hanya 3 kilometer dari lokasi mereka blokade. Setibanya mereka di lokasi tersebut polisi berusaha menghadang mereka dengan semprotan water canon terus menyemburkan kepada para demonstran, namun para aktivis tetap bertahan dan sembari duduk mereka berusaha tidak terpengaruh oleh air water canon tersebut. Kemudian polisi menyerah dan tidak melakukan penangkapan, hanya saja sempat terjadi provokasi yang dilakukan polisi dimana intel ( civil police ) membuat huru hara didalam massa demonstran blokade mereka melemparkan sesuatu kepada polisi untuk mengacaukan proses blokade sehingga melegalkan mereka melakukan tindakan kekerasan. Namun provokasi ini tidak berhasil sebab para aktivis sudah mengetahui ini karena kekuatan dari affinity group tersebut.
Di wilayah lain yaitu Borgerende hal yang sama juga dilakukan dan lokasi aksi di wilayah ini dipenuhi oleh padang rumput yang luasdan sebuah kampung kecil. Mereka menerapkan strategi five finger dengan cukup taktis dimana setelah mereka melakukan perjalanan sekitar 3 jam dari lichtenhagen ( tempat lokasi titik pusat pertemuan ) para aktivis ini dihadang oleh polisi dengan senjata lengkap dan diramaikan oleh terbang rendahnya helikopter dihadapan massa, namun strategi lima jari digunakan dan hamparan padang rumput yang luas menjadi lima jalur baru yang dibuat secara rapi oleh para aktivis. Hingga akhirnya mereka berhasil menduduki jalan raya di kampung tersebut bahkan warga disitu mendukung aksi blokade jalan tersebut dan memberikan makanan serta minuman kepada para aktivis blokade tersebut.
Aksi blokade G8 bisa dikatakan aksi paling berhasil dalam sepanjang aksi anti G8 sebelumnya, meski tidak seperti aksi Seattle namun proses keberangkatan para delegasi negara sempat terganggu dan para rombongan tersebut harus menggunakan helicopter ataupun kapal laut untuk berhasil mencapai Heiligendamm. Pagar pembatas yang dibangun jutaan euro meski tidak roboh namun para aktivis bisa mendekati dan menghadang pintu utama masuknya para delegasi ke lokasi pertemuan. Meski pertemuan G8 terus berjalan namun suara aktivis blokade ini perlu didengar dan diperhitungkan sebab suara mereka adalah mewakili suara di dunia ini yang termakan oleh jahatnya kapitalisme dan tidak adilnya globalisasi. Aksi blokade berlangsung lancar hingga akhir pertemuan G8 pada tanggal 8 Juni 2007.

* Analisis dan kritik
Aksi demonstrasi anti G8 tahun ini merupakan aksi protes yang kesekian kali dari para aktivis anti kapitalisme beberapa tahun ini, dan pada protes tahun ini gerakan sosial di Jerman telah cukup berhasil menerapkan metode blokade dalam rangkaian aksi utama mereka. Seluruh kegiatan masyarakat sipil pun sangat bervarian dan mempunyai karakteristiknya sendiri, bisa dikatakan proses gerakan sosial yang terjadi di Jerman selama aksi anti G8 tahun 2007 ini merupakan gambaran yang bisa dijadikan contoh bagi gerakan sosial di seluruh dunia. Institusi G8 secara garis besar haruslah dibubarkan sebab badan ini sama saja seperti IMF, BANK DUNIA, WTO yang hanya dikuasai oleh kaum kaya dan untuk kepentingan mereka namun secara esensial tidak memberikan keuntungan bagi kaum miskin di seluruh dunia. Mobilisasi massa secara konkret sangat dibutuhkan untuk membangun kesadaran massa akan ketidakadilan secara global ini dan untuk mengusir dominasi dari kekuatan capital yang telah menguasai seluruh dunia saat ini. Apa yang terlihat di Jerman merupakan hal nyata yang telah dilakukan bahkan pernyataan salah seorang organizer aksi dari ATTAC Bonn Oliver Pye yang mengatakan bahwa “dalam aksi blokade banyak diikuti juga oleh aktivis generasi baru” meski secara garis besar tidak tahu siapa saja mereka namun dari pernyataan ini terbukti bahwa massa yang tidak teorganisir atau spontanitas banyak yang bergabung. Dan saya yakin massa tersebut banyak berasal dari kaum muda atau mahasiswa yang saat ini hidup dalam cengkaraman besar dari kapitalisme sehingga membuat kamu muda di seluruh dunia harus tersiksa hidup dalam keadaan realita.
Secara umum juga bisa dikatakan para organisasi atau kelompok yang mengorganisir berbagai macam aksi, seminar, workshop, dan kegiatan – kegiatan menjelang dan selama aksi G8 berjalan lancar meski sempat mengalami sedikit gangguan ketika polisi Jerman melakukan sweeping terhadap tempat – tempat kumpulnya para aktivis dan flat – flatnya pada tanggal 9 Mei 2007.
Apa yang terjadi dalam aksi massa di Jerman ini hendaknya perlu diberikan penghargaan setinggi – tingginya, meski demikian mobilisasi besar – besaran untuk aksi menolak G8 ini tidak berhenti disini saja atau menjadi bahan jualan bagi politisi partai politik. Tetapi harus tetap dipertahankan dan dikembangkan ke seluruh dunia baik berupa isu ataupun taktik aksi seperti blokade agar gerakan sosial diseluruh dunia dapat memahami tujuan utama dari gerakan massa anti kapitalisme, terutama gerakan massa di dunia ketiga yang mempunyai potensi sama dalam kesadaran akan gerakan sosial hanya saja pengorganisasiannya harus lebih dikembangkan agar tidak menjadi monopoli sebagian kelompok borjuis, politisi, dan partai yang akhirnya menggeser isunya menjadi lebih kepada fundamentalis dan nasionalisme sempit.
Setelah aksi anti G8 ini apa yang bisa kita lakukan? Ini merupakan sebuah pertanyaan besar yang perlu jawaban yang besar pula. Sebab setelah sekian banyak aksi anti globalisasi di berbagai dunia terutama dalam merespon pertemuan – pertemuan para pemimpin industri kapitalisme selalu terjadi sedikit kebuntuan untuk mengarah aksi selanjutnya, paling tidak kembali ke tingkatan lokal di negaranya masing – masing untuk melanjutkan apa yang sudah terjadi pada aksi besar. Khusus untuk aktivis anti G8 di Jerman ini perlu dipikirkan rancangan agenda aksi kedepan baik ditingkatan lokal maupun regional, agar massa di Jerman dapat disadarkan dan tidak terjebak oleh permainan isu dari politisi borjuasi yang pro pasar. Suatu kritik besar juga saya sampaikan kepada pertemuan alternatif yang sama sekali tidak menghasilkan suatu resolusi konkrit terhadap massa maupun politik alternatif, pertemuan ini memang bagus untuk mengembangkan wacana kritis kita namun yang paling penting saat ini bagaimana gerakan sosial dapat berjalan secara kritis dan mempengaruhi kesadaran massa. Sehingga kedepan bagi kelompok yang ingin membuat suatu pertemuan alternatif haruslah secara konkrit menghasilkan keputusan atau resolusi yang jelas, tegas, dan kritis terhadap segala sesuatu isu yang ingin di responnya.

Monday, February 19, 2007

Realitas ala pasar bebas

Hidup dalam dunia yang semakin serba cepat saat ini harus dengan sangat selektif memilih waktu, ucapan tersebut dikatakan oleh seorang kolega saya pada saat kami berbicara di sela-sela waktu istirahat kampus. Pernyataan ini juga sering dikemukakan oleh beberapa orang ketika kita jenuh atau mencari topik pembicaraan sebagai bahan diskusi. Akhir-akhir ini secara individu mungkin sebagian dari kita carut marut dan kerja keras menghadapi realitas hidup yang semakin cepat dan dipaksa untuk mengikuti arus ini. Hampir seluruh kehidupan kita saat ini didominasi oleh kecepatan serta ketangkasan kita dalam melakukan perjuangan untuk survive hidup sebagai seorang manusia,tidak heran apabila kita lihat disekitar kehidupan kita sehari-hari banyak orang berjuang untuk dapat mempertahankan hidup, dengan bekerja keras dalam waktu yang tidak kenal lelah dan semua ini dilakukan demi memenuhi segala macam kebutuhan hidupnya. Sebab kebutuhan untuk memenuhi hidupnya makin meningkat di suatu era saat ini yang dimana konsumerisme sangat di jadikan oleh patokan ekonomi kapitalisme.
Secara sadar maupun tidak sadar bahwa kehidupan realitas yang seakan-akan terjadi saat ini kalau dilihat lebih dalam dan secara kritis maka akan terlihat terjadinya sebuah manipulasi maupun ilusi. Mengapa demikian? sebab apa yang kita lihat,dengar, rasakan disekitar kehidupan ini bisa jadi hanyalah kehidupan yang didominasi oleh rekayasa atau buatan ala monopoli kekuatan tertentu, apalagi karakter kehidupan disekitar kita sehari-hari dipenuhi oleh budaya latah atau ikut-ikutan dengan giat bergotong royong dalam kelompok-kelompok hobi, gang, arisan, keluarga feudal, dll. Banyak yang anggap hal – hal demikian merupakan sebuah realitas ataupun nyata didepan mata, namun sadarkah kita bahwa ini sebenarnya awal dari sebuah realitas rekayasa.

Realitas yang telah diciptakan dengan lebih dulu dilakukan pemetaan terhadap tren kehidupan dan karakter massa pada umumnya, apalagi karakter massa kita saat ini dalam posisi pasrah dan mengambang yang disebabkan oleh karena naiknya BBM, kebutuhan hidup yang meningkat, transisi perubahan yang dinodai oleh politisi korup, dll. Sehingga dari dasar itulah masyarakat saat ini pada umumnya pasrah dan nerimo dengan keadaan seperti ini. Dalam kondisi inilah masyarakat butuh sekali hiburan dan kegiatan yang dilakukan untuk mengisi kebosanan, tetapi bukan hanya sebuah hiburan melainkan juga sebuah kegiatan yang perlu dilakukan untuk menghapus kejenuhan kehidupan. Contoh hal-hal ini ialah dalam hiburan, masyarakat rela mengeluarkan cukup banyak uang untuk mengkonsumsi kebutuhan hidupnya baik yang penting maupun yang tidak seperti kegiatan makan dan nongkrong di café – café yang menyediakan suasana nyaman dilengkapi makanan kuliner dengan citarasa menakjubkan atau sekedar nongkrong makanan pinggir jalan sambil bercerita mengenai permasalahan kehidupan aktivitasnya. Pendeknya banyak hal yang dilakukan oleh masyarakat untuk mengisi waktu luang hidupnya yang selalu penat baik karena pekerjaan ataupun aktivitas lain, bahkan berbelanja pun bisa jadi salah satu pelariannya Berbelanja yang menurut seorang kolega saya merupakan suatu kebutuhan hiburan juga, seperti berbelanja pakaian, makanan, atau supermarket. Kesemuanya dianggap sebagai hiburan dari kejenuhan mereka sehari-hari dalam pekerjaan ataupun aktivitasnya.

Kejenuhan ini berhubungan dengan suatu kegiatan yang memakan waktu cukup padat dan ketat sehingga waktu-waktu kosong dijadikan hiburan bagi mereka. Kegiatan yang jenuh tersebut bisa kita lihat dari semakin padatnya jumlah jam kerja kantor bahkan hingga lembur begitu lama, menumpuknya jumlah kerjaan yang harus memakan deadline begitu cepat, belum lagi konflik-konflik di dalam kantor untuk mengejar kekuasaan seperti prilaku para politisi borjuis, hingga sibuk mencari pamor untuk promosi ke jenjang yang lebih tinggi di kantor. Intinya kegiatan yang padat tersebut tersedot hanya untuk mengejar keinginan mimpi kita apapun itu, kepadatan ini hampir sama dengan film asterix dan obelix ketika mereka membantu membangun istana bagi Cleopatra di Mesir dalam waktu 6 bulan. Namun sayangnya kegiatan kita sehari-hari ini tidak perlu memakai minuman ramuan ajaib agar kuat tetapi hanya butuh ketabahan kita dari berbagai serangan penyakit seperti tipus misalnya. Adapula orang yang melakukan kegiatan padat tersebut hanya untuk gengsinya biar dianggap tren atau diakui, adapula sebagai pelarian dari kepenatan hidup yang terjadi dalam rumah tangga sehingga harus menyalurkannya diluar rumah agar konflik terjadi bukan didalam rumah tetapi diluar rumah.



Kalau kegiatan dan hiburan diatas memiliki rantai yang berhubungan, maka perlu dicermati juga jenis kegiatan lain yang mungkin tidak berhubungan tetapi ada relasinya yaitu pengangguran resmi dan terselubung. Pada hakikatnya pengangguran terjadi bukan karena rakyat yang malas melainkan negara tidak memberi kesempatan yang luas bagi rakyatnya untuk bekerja, yang ini semua berdasarkan pada kesempatan bagi rakyat untuk mendapatkan pendidikan gratis dari TK,SD,SMP,SMA sampai Universitas tidak dimonopoli oleh kekuatan pengusaha dan swasta namun dikontrol sendiri oleh dewan pekerja pendidikan. Karena pekerjaan akan mudah didapat jika kesempatan kerja dan pendidikan dapat merata diciptakan. Kembali pada dua kegiatan pengangguran yang disebut tadi yaitu terselubung dan resmi, kalau pengannguran resmi biasanya kegiatan yang dilakukan lebih banyak mencari lamaran-lamaran pekerjaan. Sedangkan yang terselubung kegiatannya banyak dilakukan untuk survive mempertahankan hidup ataupun mengisi aktivitas seperti berkumpul-kumpul, menonton televisi, atau mencari proyek-proyek pragmatis dengan menongkrong di mal-mal dan hotel.
Fenomena lain lagi yang dapat kita lihat dalam alam realitas saat ini ialah polarisasi keluarga, banyak kita temui diberbagai tempat umum seperti mall, taman kota, dan berbagai tempat hiburan dapat terlihat banyak keluarga pergi bersama-sama untuk melakukan kegiatan hiburan. Kegiatan berkumpul tersebut tentu saja tidak dapat kita hindari dari mata kita sehari-hari ketika sedang berpapasan terlihat, mungkin saja keluarga menjadi salah satu tempat hiburan bagi sepasang suami istri melepaskan kelelahan dari kerja yang sangat padat setiap harinya. Namun mengapa saya menyebutnya polarisasi?? Jawabannya cukup simple, pernahkah anda semua membayangkan bahwa institusi keluarga bisa menjadi sumber awal dari tumbuh kembangnya Kapitalisme. Hal ini bisa dibuktikkan dari sistem yang berlaku dalam keluarga tersebut, saya beberapa waktu yang lalu mendengarkan siaran radio pagi hari di i radio ( salah satu radio yang selalu memutarkan lagu-lagu indonesia). Dalam siaran radio tersebut si penyiar sedang membahas tentang keluarga, salah seorang penyiarnya memberi ilustrasi bagaimana keluarga itu seperti sebuah perusahaan atau P.T. yaitu si suami sebagai direktur dan istri menjadi manajer, penyiar membahas ini mengenai pengaturan uang dalam keluarga. Apabila memang keluarga sebagai perusahaan maka bisa kita bayangkan apabila komunitas keluarga yang cukup banyak kita lihat disekitar kehidupan realitas sehari-hari itu adalah P.T atau perusahaan keluarga yang sedang melakukan tamasya, berarti bisa jadi kehidupan realitas kita adalah kehidupan yang telah dibentuk oleh sistem perusahaan itu.

Neoliberalisme dengan segala aturan –aturannya berusaha untuk menembus segala bentuk kehidupan mulai dari hal yang paling besar yaitu proses perdagangan bebas yang tidak mengenal batas negara dengan kemenangan kapitalisme, sampai yang paling kecil disekitar lingkungan kita. Kehidupan realitas disekitar kita saat ini bisa jadi adalah sebuah rekayasa untuk mewujudkan jalannya sistem ini. Sistem pasar yang mengandalkan pragmatisme uang untuk konsumerisme bukan kebutuhan, keutuhan keluarga dinilai dari segi perusahaan, kumpulan kelompok yang dilemahkan, pemerasan terhadap sistem kerja, kebudayaan pop yang didewakan. Nyaris sistem pasar bebas telah masuk dalam kehidupan nyata kita sehari – hari, maksud tulisan ini bukan untuk membuat kita menjadi orang yang menutup diri tetapi untuk lebih kritis terhadap lingkungan sekitar.

Pertanyaannya apa yang harus dilakukan?? Banyak hal bisa dilakukan dalam menghadapi sistem realitas pasar bebas yang makin mengakar ini, beberapa diantaranya ialah jiwa individu yang harus dibentengi dengan kuat. Artinya otonomi individu kita sebagai manusia harus lebih kokoh dan tidak terpengaruh oleh arahan ala pasar ini, kita harus bisa mewarnai situasi sekitar kita dengan pemikiran – pemikiran yang beda dan kritis namun penuh tanggung jawab. Tidak mudah terbawa arus polarisasi dalam kumpulan kelompok ataupun lingkungan kerja. Ini bukan sebuah tips namun alat penjaga bagi kemenangan hak – hak kita sebagai manusia sebab arus realitas disekitar kita sudah semu banyak yang mengklaim bahwa ini adalah realitas tapi kemudian pertanyaannya kenapa realitas yang ada sekarang juga hanya sebuah jargon dan mimpi….

Menulis Dengan Rasa

Menulis dengan rasa, inilah behind the scene dari proses menulis opini untuk Harian Kompas yang terbit (27/05/23).  Pagi itu saya sehabis la...