Politisi
saat ini mendapat penurunan popularitas di mata masyarakat, ini
terbukti pada survey dari berbagai lembaga yang mengindikasikan hal
tersebut. Masyarakat mengalami kekecewaan yang begitu besar dengan
kiprah para politisi dan partainya yang semakin menjauh dari
problematika kehidupan sehari-hari, anggota partai maupun elit
politik di kekuasaan tidak pernah membahas hal-hal yang krusial di
masyarakat. Elit politik lebih banyak membahas kasus-kasus yang lebih
membela kepentingan partai, kelompok, maupun institusinya. Sehingga
di media kita dipertontonkan suatu pertikaian elit yang tak kunjung
henti tanpa mengetahui maknanya bagi khalayak umum meski para
politisi berdalil bahwa ini bagian dari demokrasi dan perdebatan
terjadi akibat regulasi yang tidak pro rakyat. Para politisi lebih
menampilkan performa dirinya baik dalam bicara, sikap tubuh, dan
mungkin berpakaian ketika berhadapan dengan media sehingga kita tidak
pernah melihat isi pemikiran sosok politisi tersebut. Bila kondisinya
demikian adalah wajar jika masyarakat saat ini mempertanyakan kiprah
para penggiat politik di lembaga negara tersebut karena tidak seperti
yang diharapkan oleh masyarakat.
Persoalan
diatas merupakan buah dari model kampanye politik yang lebih
mengedepankan jargon dibandingkan gagasan yang konseptual, pernyataan
ini bisa dibuktikkan ketika berlangsungnya pemilihan umum dan kepala
daerah. Di mana para calon pemimpin lebih banyak mempromosikan
dirinya melalui berbagai bentuk media seperti poster, selebaran,
baliho dan lain sebagainya yang memenuhi hampir seluruh ruang publik.
Dalam iklan di ruang publik tersebut mereka hanya menampilkan sosok
dirinya dan kalaupun ada tagline politik itu pun hanya sebuah slogan
yang lebih mudah diingat oleh masyarakat. Sehingga publik mengingat
kandidat hanya dari performanya di media atau ketika tampil dengan
karakter yang sudah dikonstruksikan sebagai sosok yang cakap. Esensi
dari program politik yang ditawarkan juga tidak begitu menyetuh
realita, mereka lebih menyukai dengan jargon-jargon yang sekiranya
mudah dimengerti sehingga masyarakat hanya disuguhkan sebuah image
yang semu seperti mereka membeli suatu barang yang belum tentu ada
manfaat bagi dirinya.
Para
pelaku politik baik pemimpin daerah maupun nasional banyak
menggunakan strategi berkomunikasi tersendiri agar dirinya mendapat
dukungan luas di masyarakat. Bentuk-bentuk komunikatif seperti terjun
langsung bertemu konstituen, mengadakan lomba, pengajian hingga
menghadiri pesta pernikahan merupakan bentuk komunikasi politik yang
sering dilakukan oleh para calon pemimpin tersebut. Dengan tujuan
untuk membuat citra di masyarakat bahwa calon tersebut dekat dengan
konstituen serta memiliki basis massa yang nyata. Sarana lain sebagai
penunjang hal tersebut yaitu dengan spanduk dan umbul-umbul yang
turut meramaikan suasana kehadiran para calon pemimpin tersebut. Para
calon pemimpin ini terkadang menggunakan cara-cara beriklan ketika
berkampanye seperti menjual suatu produk dipasaran kemudian dengan
bentuk kemasan yang menarik maka produk tersebut dapat di konsumsi
oleh masyarakat, meskipun begitu massa hanya dapat merasakannya
secara semu karena tidak memahami secara benar apakah produknya itu
sesuai dengan kebutuhannya.
Iklan
merupakan suatu bentuk promosi suatu barang atau jasa untuk menarik
masyarakat memilih produknya sehingga laku terjual. Perkembangan
industri periklanan yang cukup pesat saat ini membuat cara – cara
berpromosi iklan semakin dibutuhkan, bentuk yang dipromosikannya bisa
cukup beragam salah satunya berupa sosok individu yang mempromosikan
dirinya demi kepentingan sosial maupun politik. Bila dalam promosi
suatu produk citra yang ditampilkan berupa barang yang disesuaikan
dengan kebutuhan manusia maka pada promosi individu sosok dari orang
tersebut yang dicitrakannya agar masyarakat dapat memilihnya dalam
kontes demokrasi baik pemilu maupun pilkada. Dunia periklanan adalah
sebuah arena yang semu karena apa yang ditampilkan kepada kita
terkadang tidak berdasarkan sesuai kenyataan, bagi Judith Williamson
dalam “Decoding Advertisements” (1978) iklan tidak hanya memiliki
fungsi untuk menjual produk kepada kita tetapi iklan menciptakan
suatu struktur-strukur makna. Struktur tersebut adalah ideologi di
mana perwujudannya
berupa cara mengemas iklan tersebut bermakna sesuatu bagi kita (1978:
51). Sebagai contoh suatu produk perhiasan di maknai sebagai
kemewahan dan kemegahan atau sosok seseorang digambarkan sebagai
figur yang merakyat, keduanya memiliki konsep pemikiran yang sama
yaitu pencitraan.
Pencitraan
merupakan suatu hal yang umum dalam dunia promosi karena hanya dengan
cara demikian maka suatu produk dapat populer. Namun apa jadinya bila
ini terjadi pada dunia politik yang notabene membutuhkan efek nyata
untuk masyarakat bukan ilusi-ilusi yang dikemas sedemikian rupa oleh
para tim sukses. Pencitraan dalam dunia politik bagi sebagian elit
partai merupakan suatu hal yang biasa dan menjadi simbol bagi dirinya
di masyarakat luas. Tetapi bagi masyarakat politik itu harus dapat
menjadi pilar perubahan bagi kondisi kehidupannya bukan sekedar janji
manis yang membuai atau sekedar memanfaatkan mereka untuk mendulang
suara. Jangan jadikan masyarakat seperti konsumen yang dimanfaatkan
oleh iklan untuk membeli suatu produk karena cara demikianlah yang
membuat politik uang semakin besar sehingga berujung dengan korupsi
ketika sudah terpilih hal inilah yang kemudian menyebabkan politik
kini mendapatkan citra yang buruk.
Memburuknya
citra politik ini tidak hanya hanya karena prilaku dari sebagian
indvidunya yang hanya mementingkan dirinya tetapi kondisi demikian
didukung oleh model kampanye politiknya yang memandang massa sebagai
komoditas atau konsumen. Sedangkan para politisi ditampilkan seperti
suatu produk yang harus dibeli dengan jaminan bahwa produknya adalah
nomor satu. Para calon dan politisi sekarang yang sebentar lagi akan
mulai berkampanye baik pemilu legislatif maupun eksekutif mendatang
harus lebih mendekatkan diri dengan masyarakat bukan dengan cara-cara
seperti beriklan. Karena pendekatan dengan masyarakat itu lebih
penting selain itu para calon pemimpin di negeri ini juga harus
berpikir bagaimana menjadi bagian dari masyarakat bukan memandang
bagaimana masyarakat dapat memilih dirinya. Dalam sejarahnya pemimpin
lahir karena mereka merasa bahwa dirinya adalah bagian dari
masyarakat dan melalui proses alamiah mereka lahir sebagai pemimpin
yang dicintai rakyatnya.