Tuesday, September 11, 2012
Tuesday, August 14, 2012
Survey Politik dan Representasi Media
-->
Survey politik dalam negara demokrasi merupakan hal yang wajar guna
mengetahui elektabilitas calon pemimpin maupun partai politik.
Melalui survey maka para penggiat politik akan lebih bekerja keras
membangun basis organisasi dan merancang strategi jitu untuk
memenangkan pemilihan umum. Di berbagai belahan dunia survey menjadi
rujukan bagi semua kompetitor politik untuk mengetahui peta
kekuatannya dan kemudian dijalankan menjadi agenda kampanye. Survey
dilakukan oleh lembaga kredibel dan memiliki reputasi yang
berpengalaman dalam komunitas politik, tidak sedikit dari
lembaga-lembaga ini memiliki koneksi dengan para pemimpin politik
sehingga perannya dapat menjadi konsultan.
Di Indonesia, hiruk pikuk pemilihan umum nasional masih dua tahun
lagi, namun sudah diramaikan oleh berbagai hasil survey yang telah
menggambarkan beberapa tokoh untuk menjadi pemimpin pada 2014 yang
akan datang. Partai politik yang diperkirakan unggul pun sudah bisa
digambarkan melalui survey ini bahkan belakangan hasilnya banyak
menjadi rujukan bagi partai politik untuk bekerja keras mengambil
hati dan simpati masyarakat. Para lembaga survey tersebut biasanya
menggunakan pers sebagai institusi yang dianggap dapat menyebarkan
hasil kajiannya kepada khalayak umum sehingga persepsi atas seseorang
tokoh atau organisasi politik bisa lebih mengena. Saluran media
merupakan hal yang paling tepat untuk sosialisasi hasil polling dari
berbagai lembaga yang kredibel dibidangnya tersebut. Selanjutnya
dapat ditebak sendiri bahwa media massa (khususnya televisi) kemudian
memberitakan dengan berbagai kepentingannya.
Hasil dari survey politik ini menjadi perbincangan dan wacana dalam
media televisi dalam beberapa bulan ini, seperti yang terjadi
baru-baru ini ketika beberapa lembaga survey mengeluarkan hasil
kajiannya terhadap calon presiden RI 2014 mendatang. Beberapa nama
tokoh baik masa lalu maupun sekarang masuk dalam bursa capres dengan
elektabilitas pemilih yang bervariasi dan menariknya salah satu tokoh
yang mempunyai hasil survey tertinggi memiliki catatan masa lalu yang
kelam yakni penculikan aktivis dan pembungkaman demokrasi. Masyarakat
seakan dipersepsikan sudah melupakan tragedi kelam tersebut namun
berkat konstruksi media maka perbincangan dosa masa lalu telah
terpinggirkan oleh kontestasi antar lembaga survey yang saling
bersahutan mempublikasikan hasil kajiannya. Hasil survey ini kemudian
menjadi komoditas informasi bagi industri media televisi dengan
beragam kepentingan ekonomi politiknya, survey tersebut menjadi alat
kekuatan para pemilik media yang memiliki akses dan jaringan luas
terhadap berbagai kalangan. Hasil survey politik direpresentasikan
oleh media televisi melalui bermacam program baik berita, talkshow,
ataupun parodi politik. Sebagai ruang wacana bagi masyarakat mungkin
sah saja media massa menggambarkan hasil survey politiknya untuk
rujukan pemilih, namun yang menjadi permasalahan ketika menjadikan
hasil survey tersebut sebagai alat konstruksi berpikir kepada
masyarakat agar terfokus kepada salah satu calon ataupun partai
politik tertentu. Peran media yang seharusnya dapat mencerahkan
berubah menjadi tunduk kepada kepentingan politik tertentu, secara
umum mungkin tidak terlihat bagaimana media tersebut mendukung tetapi
hal ini terlihat dari representasi kontennya yang disampaikan kepada
khalayak.
Konsep representasi dalam media tidak sekedar
mereproduksi atau menampilkan kembali sesuatu fakta kepada khalayak,
tetapi melalui beragam konsepnya representasi menghadirkan makna
tertentu kepada kita. Konsep representasi Stuart Hall dengan
pendekatan konstruksionisnya memandang bahwa makna dibuat oleh
pembuatnya sehingga menghasilkan makna yang dikehendaki (Hall,
1997:25). Makna tersebut digunakan untuk merepresentasikan konsep
tertentu dalam masyarakat. Walaupun demikian, masyarakat dapat
menentukan maknanya sendiri berdasarkan budaya dan sistem
representasi yang mereka miliki. Sebagai contoh ketika seorang
presenter televisi mempertanyakan hasil survey terhadap suatu partai
yang sedang terpuruk dengan beragam pertanyaan yang lebih menyudutkan
partai tersebut. Melalui narasi yang disampaikannya itu maka secara
tidak langsung konstruksi makna telah tercipta dan audiens televisi
dapat memaknainya dengan tersendiri. Berdasarkan konsep inilah maka
survey politik ketika masuk kedalam ruang media televisi sangat rawan
akan manipulasi bahasa sehingga pemirsa dibawa kedalam permainan
kuasa bahasa yang muaranya mengarah kepada kekuatan tertentu.
Tentunya tidak seluruh media merepresentasikan hal demikian namun
melihat peta industri televisi yang saat ini dikuasai oleh para
politisi maka akan rawan manipulasi. Meski demikian masih ada
beberapa media massa yang menjadikan survey politik hanya untuk
wacana di masyarakat tanpa memiliki kepentingan pribadi politiknya.
Lembaga survey politik sendiri bagian yang cukup penting dalam
menentukan peta politik nasional namun mungkin lebih dituntut untuk
lebih independen dan bebas dari kekuatan politik sehingga hasilnya
benar-benar untuk pencerahan masyarakat. Masalahnya banyak lembaga
survey yang saat ini menjadi konsultan politik dan membutuhkan media
agar lebih mengena strategi kampanyenya sehingga lembaga tersebut
akhirnya hanya sebagai sebuah event organizer yang menjadi salonnya
para calon pemimpin maupun mencitrakan suatu partai politik.
Kolaborasi antara konsultan politik dan media inilah yang kini marak
dalam ruang politik Indonesia saat ini, seperti rahasia umum
lembaga-lembaga ini lahir dari situasi pasar yang memungkinkan di
negeri ini. Di mana para politisi memanfaatkan lembaga konsultan dan
riset politik sebagai alat ukur mereka memenangkan percaturan politik
dan menggarap media massa untuk mempromosikan isu-isu yang dibawanya.
Sehingga secara tersirat media massa tergiring isunya oleh kolaborasi
antara konsultan dan calon tersebut, membuat narasi yang
direpresentasikannya cenderung tidak objektif serta memanipulasi
kebenaran.
Berkembangnya industri konsultan dan riset di Indonesia hendaknya
dibarengi dengan penyadaran politik kepada masyarakat agar
partisipasi politik dalam bernegara lebih meningkat. Sementara media
sebaiknya berperan aktif dalam membahas maupun mengkritisi hasil
survei tersebut agar masyarakat mendapat informasi yang berimbang
serta dapat memilihnya dengan rasionalitasnya. Apabila survey politik
tetap berperan sebagai konsultan yang tidak konstrukstif dengan
representasi media yang juga tidak kapabel maka lahirlah sosok orang
pemimpin yang tidak terduga seperti yang terjadi pada pilkada DKI
saat ini. Semoga para konsultan dan pembuat survey politik menyadari
hal ini.
Sunday, July 08, 2012
Jakarta sebagai Arena Konsumerisme
Tulisan
Airlangga Pribadi tanggal 2 Juni 2012 berjudul “Jakarta Sebagai
Episentrum Perubahan” menarik untuk ditanggapi. Pandangan beliau
mengenai kota Jakarta yang butuh pemimpin yang dapat membawa
perubahan di era globalisasi patut dijadikan bahan refleksi bersama.
Kehidupan kota Jakarta yang sedang mengikuti irama kota-kota besar
dunia seperti New York, Hongkong, Singapura terkadang mengorbankan
kelompok yang lemah dalam praktek pembangunannya. Dalam paparannya
Airlangga Pribadi menggambarkan bagaimana Jakarta yang sekarang
berada di pusaran globalisasi membutuhkan sosok pemimpin yang peduli
dengan rakyatnya bukan hanya memikirkan kemajuan sebuah kota besar,
beliau kemudian menyebut nama Jokowi sebagai orang yang dianggap pro
dengan rakyat dan bisa menjadi pemimpin alternatif untuk Jakarta
karena keberhasilannya memodernisasi pedagang pasar tradisional di
Solo, Jawa Tengah. Penulis bermaksud untuk memberikan beberapan
tambahan dan mengkritisi pandangan beliau yang bagi penulis perlu ada
beberapa penjelasan khususnya mengenai konsep globalisasi berkeadilan
yang menjadi rujukan dari tulisan tersebut.
Terintegrasinya
dunia dalam satu tatanan sistem globalisasi adalah hal yang fenomena
pada awal abad 21 ini para politisi, ekonom, akademisi, masyarakat
perkotaan, anak sekolah dan hampir seluruh masyarakat mempunyai
argumentasi tersendiri dalam membicarakan kata globalisasi tersebut.
Paham ini membutuhkan penopang di suatu negara agar nilai-nilai dari
globalisasi tersebut diterima oleh masyarakat luas dan perkotaan
merupakan salah satu penopangnya. Kota menjadi ruang bagi pasar bebas
untuk mengimplementasikan aturan beserta nilai-nilai yang
dikandungnya, maka tidak mengherankan apabila ruang-ruang imajiner
dibangun dalam suatu kota besar. Berdirinya mall, galeri, kafe dengan
brand luar negeri, dan restoran cepat saji begitu pesat dibangun
dengan suasana urban seperti di kota-kota besar negara barat sehingga
masyarsakat perkotaan memiliki persepsi bahwa gaya hidupnya sudah
sesuai dengan global. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila
Jakarta telah dipersiapkan sebagai kota yang mengikuti arena tersebut
sehingga tidak jarang orang banyak mengatakan bahwa ibu kota negara
ini menjadi sarang konsumerisme karena seluruh gaya hidup yang
terkesan global tersebut tersedia dalam berbagai bentuk. Masyarakat
perkotaan kemudian menyimbolkan suasana global tersebut dengan brand
atau merk yang terpampang mulai dari fashion hingga kuliner.
Dalam
hal berdemokrasi masyarakat perkotaan lebih banyak mempelajarinya
melalui ruang perdidikan, representasi media elektronik baik berupa
talk show televisi, diskusi radio dan lain sebagainya. Demikian juga
yang terjadi dalam ruang demokrasi jalanan Jakarta di mana semua
aliran politik hingga agama mempertunjukkan aksinya untuk
memperjuangkan haknya dengan bentuk yang beraneka macam. Ruang publik
kota mempersilahkan aksi-aksi tersebut dengan dalil demokrasi karena
selera pasarlah yang menentukan aksi tersebut bermanfaat atau tidak,
hal ini menyebabkan isu-isu yang dibawa demonstran terkadang menjadi
bahan komoditas politisi.
Ruang
publik yang ada dalam kota Jakarta pun lebih di dominasi oleh media
luar ruang seperti baliho, papan reklame, hingga mural-mural yang
merepresentasikan modernitas masyarakat perkotaan sehingga identitas
bersama yang dirasakan oleh warga Jakarta adalah berbentuk hal-hal
yang telah termaterialkan dan berhasil tergambarkan oleh media
sehingga kembali lagi mata masyarakat menjadi komoditas suatu produk.
Dengan ruang yang sarat dengan situasi pasar tersebut muncul juga
benih-benih kemarahan masyarakat yang hal ini tercermin dari
kefrustasian masyarakat perkotaan menghadapi permasalahan seperti
mudah marah ketika bersenggolan kendaraan bahkan perkelahian pelajar
yang tak kunjung berhenti dari masa ke masa. Inilah potret kota
Jakarta yang dikonstruksikan oleh para pemimpinya sebagai wilayah
modern yang ingin disejajarkan dengan kota-kota besar di seluruh
dunia, sehingga urbanisasi menjadi harapan bagi banyak orang di
pedesaan karena kota menawarkan hal impian yang begitu luas. Impian
tersebut ternyata hanyalah sekedar pemanis saja karena penguasa akses
ekonomi di perkotaan masih dikuasai oleh para pemilik modal atau
hanya orang-orang kaya saja sedangkan masyarakatnya diberikan terus
impian akan nikmatnya hidup di perkotaan. David Harvey dalam buku
terbarunya berjudul Rebel Cities (2012) menyatakan bahwa
kualitas kehidupan perkotaan telah menjadi komoditas bagi mereka
dengan uangnya, karena rasa memiliki perkotaan itu di mana
konsumerisme, pariwisata, budaya, dan pengetahuan industri menjadi
tontonan ekonomi dan telah menjadi aspek utama ekonomi politik.
Dari
gambaran ini sangat sulit mencari sosok pemimpin Jakarta yang
memikirkan benar kebutuhan dasar masyarakatnya karena akan berhadapan
dengan kepentingan modal yang begitu besar. Sosok Joko Widodo yang
menurut Airlangga Pribadi mampu mengatasi serangan globalisasi
tersebut karena sudah teruji di kota Solo itu masih perlu
diperdebatkan. Bagi penulis sosok Jokowi tidaklah mampu untuk
mengurusi permasalahan kota Jakarta. Karena kota ini sarat dengan
banyak kepentingan ekonomi politik sehingga bisa saja sosok pemimpin
yang bersih dan idealis akan terbawa arus kepentingan atau malah
terus diganggu oleh beragam persoalan. Momentum pilkada DKI kali ini
hanya menjadi ajang perebutan modal untuk menguasai wilayah ibu kota,
karena dengan APBDnya terbesar di Indonesia yakni mencapai 36 triliun
rupiah maka perlu pengelolaan keuangan yang transparan agar tidak
terjadi korupsi baik yang dilakukan oleh individu maupun partai
politik pendukungnya. Yang dibutuhkan Jakarta saat ini adalah
kenyamanan bagi warganya yang beraktivitas baik di dalam rumah maupun
di luar rumah, karena masyarakat merasa terancam oleh berbagai
permasalahan kota seperti kemacetan, kriminalitas, demonstrasi,
konflik sosial, standar kehidupan dan lain sebagainya. Pilkada DKI
harus melahirkan pemimpin yang dapat menyadarkan masyarakatnya
semangat kebersamaan dan menghapus ilusi konsumerisme yang melanda
warga Jakarta. Semoga ini dapat menjadi bahan catatan kita semua.
Monday, July 02, 2012
Memudarnya Politik Pencitraan
Politisi
saat ini mendapat penurunan popularitas di mata masyarakat, ini
terbukti pada survey dari berbagai lembaga yang mengindikasikan hal
tersebut. Masyarakat mengalami kekecewaan yang begitu besar dengan
kiprah para politisi dan partainya yang semakin menjauh dari
problematika kehidupan sehari-hari, anggota partai maupun elit
politik di kekuasaan tidak pernah membahas hal-hal yang krusial di
masyarakat. Elit politik lebih banyak membahas kasus-kasus yang lebih
membela kepentingan partai, kelompok, maupun institusinya. Sehingga
di media kita dipertontonkan suatu pertikaian elit yang tak kunjung
henti tanpa mengetahui maknanya bagi khalayak umum meski para
politisi berdalil bahwa ini bagian dari demokrasi dan perdebatan
terjadi akibat regulasi yang tidak pro rakyat. Para politisi lebih
menampilkan performa dirinya baik dalam bicara, sikap tubuh, dan
mungkin berpakaian ketika berhadapan dengan media sehingga kita tidak
pernah melihat isi pemikiran sosok politisi tersebut. Bila kondisinya
demikian adalah wajar jika masyarakat saat ini mempertanyakan kiprah
para penggiat politik di lembaga negara tersebut karena tidak seperti
yang diharapkan oleh masyarakat.
Persoalan
diatas merupakan buah dari model kampanye politik yang lebih
mengedepankan jargon dibandingkan gagasan yang konseptual, pernyataan
ini bisa dibuktikkan ketika berlangsungnya pemilihan umum dan kepala
daerah. Di mana para calon pemimpin lebih banyak mempromosikan
dirinya melalui berbagai bentuk media seperti poster, selebaran,
baliho dan lain sebagainya yang memenuhi hampir seluruh ruang publik.
Dalam iklan di ruang publik tersebut mereka hanya menampilkan sosok
dirinya dan kalaupun ada tagline politik itu pun hanya sebuah slogan
yang lebih mudah diingat oleh masyarakat. Sehingga publik mengingat
kandidat hanya dari performanya di media atau ketika tampil dengan
karakter yang sudah dikonstruksikan sebagai sosok yang cakap. Esensi
dari program politik yang ditawarkan juga tidak begitu menyetuh
realita, mereka lebih menyukai dengan jargon-jargon yang sekiranya
mudah dimengerti sehingga masyarakat hanya disuguhkan sebuah image
yang semu seperti mereka membeli suatu barang yang belum tentu ada
manfaat bagi dirinya.
Para
pelaku politik baik pemimpin daerah maupun nasional banyak
menggunakan strategi berkomunikasi tersendiri agar dirinya mendapat
dukungan luas di masyarakat. Bentuk-bentuk komunikatif seperti terjun
langsung bertemu konstituen, mengadakan lomba, pengajian hingga
menghadiri pesta pernikahan merupakan bentuk komunikasi politik yang
sering dilakukan oleh para calon pemimpin tersebut. Dengan tujuan
untuk membuat citra di masyarakat bahwa calon tersebut dekat dengan
konstituen serta memiliki basis massa yang nyata. Sarana lain sebagai
penunjang hal tersebut yaitu dengan spanduk dan umbul-umbul yang
turut meramaikan suasana kehadiran para calon pemimpin tersebut. Para
calon pemimpin ini terkadang menggunakan cara-cara beriklan ketika
berkampanye seperti menjual suatu produk dipasaran kemudian dengan
bentuk kemasan yang menarik maka produk tersebut dapat di konsumsi
oleh masyarakat, meskipun begitu massa hanya dapat merasakannya
secara semu karena tidak memahami secara benar apakah produknya itu
sesuai dengan kebutuhannya.
Iklan
merupakan suatu bentuk promosi suatu barang atau jasa untuk menarik
masyarakat memilih produknya sehingga laku terjual. Perkembangan
industri periklanan yang cukup pesat saat ini membuat cara – cara
berpromosi iklan semakin dibutuhkan, bentuk yang dipromosikannya bisa
cukup beragam salah satunya berupa sosok individu yang mempromosikan
dirinya demi kepentingan sosial maupun politik. Bila dalam promosi
suatu produk citra yang ditampilkan berupa barang yang disesuaikan
dengan kebutuhan manusia maka pada promosi individu sosok dari orang
tersebut yang dicitrakannya agar masyarakat dapat memilihnya dalam
kontes demokrasi baik pemilu maupun pilkada. Dunia periklanan adalah
sebuah arena yang semu karena apa yang ditampilkan kepada kita
terkadang tidak berdasarkan sesuai kenyataan, bagi Judith Williamson
dalam “Decoding Advertisements” (1978) iklan tidak hanya memiliki
fungsi untuk menjual produk kepada kita tetapi iklan menciptakan
suatu struktur-strukur makna. Struktur tersebut adalah ideologi di
mana perwujudannya
berupa cara mengemas iklan tersebut bermakna sesuatu bagi kita (1978:
51). Sebagai contoh suatu produk perhiasan di maknai sebagai
kemewahan dan kemegahan atau sosok seseorang digambarkan sebagai
figur yang merakyat, keduanya memiliki konsep pemikiran yang sama
yaitu pencitraan.
Pencitraan
merupakan suatu hal yang umum dalam dunia promosi karena hanya dengan
cara demikian maka suatu produk dapat populer. Namun apa jadinya bila
ini terjadi pada dunia politik yang notabene membutuhkan efek nyata
untuk masyarakat bukan ilusi-ilusi yang dikemas sedemikian rupa oleh
para tim sukses. Pencitraan dalam dunia politik bagi sebagian elit
partai merupakan suatu hal yang biasa dan menjadi simbol bagi dirinya
di masyarakat luas. Tetapi bagi masyarakat politik itu harus dapat
menjadi pilar perubahan bagi kondisi kehidupannya bukan sekedar janji
manis yang membuai atau sekedar memanfaatkan mereka untuk mendulang
suara. Jangan jadikan masyarakat seperti konsumen yang dimanfaatkan
oleh iklan untuk membeli suatu produk karena cara demikianlah yang
membuat politik uang semakin besar sehingga berujung dengan korupsi
ketika sudah terpilih hal inilah yang kemudian menyebabkan politik
kini mendapatkan citra yang buruk.
Memburuknya
citra politik ini tidak hanya hanya karena prilaku dari sebagian
indvidunya yang hanya mementingkan dirinya tetapi kondisi demikian
didukung oleh model kampanye politiknya yang memandang massa sebagai
komoditas atau konsumen. Sedangkan para politisi ditampilkan seperti
suatu produk yang harus dibeli dengan jaminan bahwa produknya adalah
nomor satu. Para calon dan politisi sekarang yang sebentar lagi akan
mulai berkampanye baik pemilu legislatif maupun eksekutif mendatang
harus lebih mendekatkan diri dengan masyarakat bukan dengan cara-cara
seperti beriklan. Karena pendekatan dengan masyarakat itu lebih
penting selain itu para calon pemimpin di negeri ini juga harus
berpikir bagaimana menjadi bagian dari masyarakat bukan memandang
bagaimana masyarakat dapat memilih dirinya. Dalam sejarahnya pemimpin
lahir karena mereka merasa bahwa dirinya adalah bagian dari
masyarakat dan melalui proses alamiah mereka lahir sebagai pemimpin
yang dicintai rakyatnya.
Tuesday, March 06, 2012
Presiden SBY dan Sorotan Media
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belakangan ini seperti terjebak oleh slogan dan jargon kampanye politiknya mengenai pemberantasan korupsi. Partai yang didirikannya menghadapi badai dugaan korupsi yang dashyat sehingga menjadi polemik dalam perpolitikan internal maupun eksternal, kadernya seperti Nazaruddin, Angelina Sondakh telah dijadikan tersangka dalam kasus korupsi Wisma Atlet. Sedangkan beberapa nama lainnya seperti Ketua Umum Anas Ubaningrum diduga tersangkut pula dalam kasus ini.
Kasus korupsi tersebut menjadi semakin seksi dibicarakan oleh media karena partai ini dalam salah satu iklan kampanye politiknya menggunakan jargon anti korupsi dengan menampilkan sosok petinggi partai tersebut. Permasalahan ini kemudian menjadi sangat ramai dibicarakan dalam media massa, bukan hanya karena Partai Demokrat sebagai pemenang pemilu melainkan juga sosok SBY yang menjadi ikon berdirinya partai tersebut.
Sejak Pemilu 2004, pemberitaan mengenai sosok Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mewarnai beragam media di Indonesia. Koran, radio, dan televisi tidak berhenti memuji dirinya yang terlihat memiliki kecakapan dalam memimpin, apalagi beliau berasal dari kalangan militer. Media kemudian merepresentasikan SBY melalui beragam foto ataupun kegiatan yang melegitimasi bahwa beliau sudah pantas memimpin Indonesia yang kala itu masih mengalami kebimbangan dalam kehidupan transisi demokrasi.
Momentun pemilihan presiden secara langsung yang pertama kali diadakan sejak reformasi tahun 2004 membuat sosok SBY semakin populis dan berhasil memimpin negeri ini bersama wakilnya saat itu, Jusuf Kalla. Kebijakan pemerintah kemudian menjadi sorotan media, secara berkesinambungan media mencitrakan bahwa Presiden SBY telah berhasil membawa Indonesia menuju perubahan.
Kritikan media kemudian mulai berkembang ketika Istana mewajibkan para jurnalis yang ingin meliput kegiatan kepresidenan harus mengenakan pakaian jas dan blazer. Namun, yang tidak kalah menariknya yaitu ketika tindakan Jusuf Kalla dalam beberapa kebijakan dan kesempatan lebih cepat dari dirinya, media pun saat itu mulai membahas karater presiden yang lambat laun terlihat seperti bergerak lamban.
Di saat itulah media mulai membandingkan SBY dengan wakilnya yang bergerak lebih cepat apalagi saat itu banyak bencana alam yang terjadi seperti tsunami Aceh, gempa Jogja dan Padang.
Sorotan media yang begitu aktif memberitakan pemerintahan SBY membuat segala tindakannya mendapat perhatian dari berbagai kalangan, bukan hanya sebagai sosok seorang presiden, melainkan juga karena sejak awal media telah mencitrakan dirinya sebagai sosok pemimpin yang hangat dan menjadi harapan masyarakat.
Tetapi, satu per satu permasalahan di sekitar dirinya mulai menjadi komoditas media mulai dari kasus korupsi yang menimpa besannya, Aulia Pohan, kasus Antasari Azhar, Bank Century dan yang paling terbaru adalah skandal korupsi di tubuh partainya. Selama 8 tahun pemerintahan SBY berjalan baik bersama Jusuf Kalla ataupun Boediono, media sangat detail dan begitu mendalam memberitakan jalannya roda pemerintahan.
Ada yang mendukung serta tidak sedikit yang mengkritisi secara terbuka dalam beragam ruang media. Sosok SBY pun seperti menjadi tontonan dalam media karena setiap tindakannya selalu menarik untuk menjadi bahan berita. Meski ini mungkin adalah kerja dari para konsultan media di sekitarnya, tetapi yang jelas beliau telah menjadi konsumsi media dalam ranah politik.
Televisi, radio, film, serta produk budaya media lainnya merupakan sarana bagi seseorang merepresentasikan identitas, kedirian, gagasaan atau bahkan kelas, ras, kebangsaan dan etnisitasnya. Media kemudian membantu untuk membentuk pandangan kita terhadap sesuatu hal yang baik atau buruk, positif atau negatif serta bermoral dan tidak bermoral.
Dengan media pula, kita dipertontonkan hal-hal di atas sehingga persepsi terhadap sosok seseorang tergantung dari bagaimana media itu merepresentasikannya. Para jurnalis mungkin hanya menyajikan sebuah fakta yang ada atau mungkin para konsultan komunikasi mempunyai akses yang luas kepada media sehingga wartawan disuguhkan sebuah konsumsi informasi yang telah dikonstruksi sebelumnya.
Budaya media menurut Douglas Kellner (1996), menunjuk pada suatu keadaan di mana tampilan audio dan visual atau tontonan-tontonan telah membantu merangkai kehidupan sehari-hari, mendominasi hiburan, membentuk opini politik, dan perilaku sosial, hingga memberi suplai materi untuk membentuk identitas seseorang. Kellner juga menyatakan bahwa budaya media merupakan area konstestasi di mana kelompok-kelompok sosial yang kuat dan ideologi politik saling bersaing berjuang untuk menjadi yang dominan, sedangkan masyarakat bisa ikut merasakan perjuangan identitas ini melalui imaji-imaji, wacana, mitologi, dan tontonan yang diketengahkan oleh media. Kemudian, lewat narasi, adegan, dan gambar yang ditampilkan, sosok seseorang akan terlihat akan lebih dekat dengan masyarakat atau bahkan menjadi sensasi tersendiri bagi audiens yang menontonnya.
Pernyataan di atas sepertinya terjadi pada diri SBY, di mana melalui media beliau mencoba mencitrakan dirinya sebagai sosok yang layak memimpin negeri ini. Namun, di sisi lain, media dengan segala kepentingan ekonomi politiknya juga menyerang gaya kepemimpinannya.
Sedangkan audiens hanya menjadi penonton yang menikmati sensasi-sensasi narasi yang ditampilkan dalam media khususnya televisi. Sementara banyak pekerjaan rumah dalam negeri ini yang masih belum terselesaikan hingga membuat permasalahan semakin menumpuk dan masyarakat juga semakin berteriak karena kebutuhan hidupnya yang makin mahal.
Thursday, February 16, 2012
Demokrasi dalam Media Internet
Internet telah menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan diri, menggali informasi, bahkan memobilisasi massa. Hal ini terbukti pada gerakan sosial di Tunisia pada tahun 2011 yang lalu ketika internet menjadi penggerak mobilisasi massa yang kemudian menjadi pemicu bagi munculnya demonstrasi besar di Mesir, Libya, dan Syria yang secara tidak langsung mempengaruhi kondisi sosial politik di Timur Tengah
. Selain di dunia Arab tersebut, aksi protes juga terjadi di negara Eropa seperti Yunani, Inggris dan negara lainnya akibat krisis ekonomi yang melanda negara-negara tersebut. Sementara di Rusia juga terjadi aksi menentang Putin kembali menjadi presiden dan Amerika Serikat dengan aksi pengepungan wall street yang menginspirasi gerakan occupy di seluruh dunia untuk menduduki pusat-pusat ekonomi. Aksi protes yang terjadi di belahan dunia tersebut merupakan buah dari keterbukaan informasi yang terdapat dalam media internet, sehingga media ini menjadi ruang baru bagi demokrasi rakyat. Peran internet dalam era demokrasi
Internet bukanlah hal baru dalam dunia komunikasi, jenis media ini masuk kedalam kategori new media yang salah satu definisinya berupa pesan informasinya melalui media internet berupa email, live streaming, mailing list, ataupun telepon genggam. Salah satu karakteristik dari new media adalah kecepatannya dalam menyampaikan informasi dibandingkan media cetak ataupun elektronik. Melalui salah satu definisinya yaitu media jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter serta dukungan telepon pintar membuat orang kapan saja dan dimana saja dapat mengakses serta menyebarkan informasi secara lebih cepat. Kehadiran media sosial tersebut beserta dukungan kecanggihan alat komunikasi membuat interaksi masyarakat di dunia semakin cepat dan up to date sehingga memiliki makna tersendiri dalam arus demokrasi
Demokrasi perwakilan yang selama ini dianut oleh banyak negara adalah interaksi antara elit dan massa, di mana melalui perwakilannya baik eksekutif maupun legislatif masyarakat mengharapkan suaranya dapat didengar atau menjadi salah satu masukan bagi kebijakan negara. Komunikasi yang terjalin pun berlangsung secara lateral atau lebih kepada pemimpin yang bersifat aktif menyuarakan suara massa. Sedangkan massa sendiri terkadang merasa suaranya tidak terwakili dan cenderung di monopoli oleh pemimpin negaranya. Sebagai contoh yang terjadi di Tunisia, Mesir, dan Libya di mana ekspresi masyarakat cenderung dibungkam oleh elit kuasa yang tidak mau mendengar asipirasi massa. Dengan demikian massa mencari saluran lain untuk mengekspresikan suaranya melalui internet dengan beragam fasilitas pendukung yang canggih.
Benjamin Barber dalam “Which Technology and Which Democracy” mengungkapkan bahwa net menawarkan sebuah alternatif komunikasi untuk massa saling berkomunikasi dan bersuara tanpa perantara elit politik sehingga ada wacana menentang pola komunikasi hirarkis dalam politik dengan demikian new media mendorong demokrasi secara langsung. Melalui pesannya yang begitu cepat tersebar melalui telepon pintar membuat dialog antara massa yang terjalin begitu kuat sehingga institusi politik terkadang terlewatkan oleh proses ini. Secara demokratis proses ini mungkin sangat efektif untuk menjalin relasi yang kuat antara masyarakat sipil sehingga peran institusi politik yang terkadang korup dan elitis tersebut terlimitasi oleh komunitas virtual. Dalam komunitas ini massa bisa saling berinteraksi satu sama lain tanpa takut ekspresi dirinya tidak diakomodir oleh politisi atau pemangku kebijakan.
Beralihnya massa menggunakan media internet sebagai suara alternatif dari instrumen demokrasi yang ada sebagai tanda bahwa ada ketidakharmonisan komunikasi antara lembaga negara dan masyarakat. Hal tersebut juga terjadi dunia barat di mana gerakan sosial termediasi melalui saluran media sosial. Meskipun telah menjadi konsumsi media konvensional namun digunakannya media alternatif seperti jejaring sosial dan lain sebagainya telah menandakan bahwa adanya kebuntuan saluran komunikasi antara elit dan massa. Sehingga internet menjadi media alternatif untuk memberikan informasi kepada massa apalagi dengan dukungan telepon pintar membuat informasi dan pesan kepada massa semakin cepat tersampaikan.
Pelajaran untuk Indonesia
Bagi Indonesia, fenomena demonstrasi yang termediasi oleh media internet serta peran media sosial yang mempengaruhinya bisa menjadi peringatan bagi para elit di negeri ini. Karena sudah ada bukti internet telah menjadi ruang alternatif demokrasi bagi masyarakat yakni ketika pengumpulan koin untuk Prita ketika menghadapi masalah dengan rumah sakit Omni, dukungan ini mendapat partisipasi luas di masyarakat. Ada banyak lagi kasus dan kejadian di Indonesia yang menggunakan saluran internet sebagai ruang ekspresinya, karena ada sebagian yang menganggap bahwa melalui ruang media ini maka terjalin komunikasi yang partisipatif antara masyarakat dan ini merupakan suatu tantangan bagi para elit politik di Indonesia. Para elit politik hendaknya lebih menyentuhkan hatinya kepada masyarakat yang saat ini mulai merasakan dampak dari krisis global seperti ancaman pangan, ekspor yang mulai berkurang, kenaikan harga minyak dunia, dan lain sebagainya. Karena apabila pemipin dan elit negeri ini tidak eling serta mempunyai nurani niscaya partisipasi masyarakat dalam media internet termanifestasikan dalam sebuah gerakan jalanan yang mungkin kejadian Tunisia, Mesir, dan Libya menghampiri Indonesia.
Tuesday, December 27, 2011
Sebuah ironi akibat iklan
Jumat, 25 November 2011 ribuan orang rela mengantri berdesak-desakan hanya untuk peluncuran sebuah produk telepon pintar Blackberry. Hari itu banyak orang pingsan dan beberapa diantaranya patah tulang, kejadian ini merupakan bagian dari ritual masyarakat sekarang yang sedang demam berkonsumsi.
Masyarakat yang mencari identitasnya dengan mengkonsumsi sebuah benda kemudian mencari referensinya melalui iklan-iklan yang terpampang dalam billboard, majalah, Koran, serta media elektronik. Dengan demikian iklan seperti penyampai pesan berantai yang pesannya begitu cepat diterima massa untuk kemudian cepat pula massa melalukan ritual konsumsinya. Namun kejadian diatas membuat iklan berada pada posisi yang sangat ironis karena dampak dari pesannya menyebabkan sebuah tragedi dan menyebabkan kecelakaan.
Periklanan merupakan bagian dari bentuk komunikasi pemasaran yang setiap pesannya bertujuan untuk memperkenalkan atau mendekatkan suatu produknya kepada masyarakat. Pesatnya perkembanghan industri media dan derasnya produk-produk konsumsi luar negeri yang membanjiri Indonesia saat ini membuat dunia periklanan dituntut lebih kreatif lagi dalam menciptakan image suatu produk. Sehingga kondisi demikian sangat dibutuhkan oleh massa yang saat ini sedang memandang identitas sosialnya dengan berkonsumsi produk-produk yang berlabelkan global dan modern. Meningkatnya jumlah masyarakat yang berkonsumsi saat ini sangat erat kaitannya dengan proses ekonomi politik Globalisasi yang sedang berproses dalam pusaran dunia saat ini. Di mana dalam proses tersebut untuk mempertahankan kondisi perekonomian suatu negara maka diperlukan daya konsumsi yang kuat dari masyarakatnya, hal inilah yang terjadi pada kondisi sekarang ketika daya beli masyarakat dimanfaatkan oleh produsen untuk melanggengkan konsumerisme. Kemudian media massa dalam hal ini iklan menggunakan situasi ini untuk merangsang pola pikir masyarakat agar terus mengkonsumsi suatu produk dan tidak hanya itu saja tetapi menciptakan suatu fenomena histeria karena massa menjadikan suatu produk sebagai berhalanya dengan menganggungkan sebuah label atau brand dari produk tertentu. Keadaan inilah yang menjadi fenomena bagi sebagian masyarakat terutama di wilayah perkotaan, ketika identitas global tercerminkan dengan produk-produk modern dan global apa yang mereka kenakan. Sehingga membuat suatu pandangan bahwa ukuran untuk menjadi masyarakat global adalah dengan mengkonsumsi suatu produk.
Fenomena histeria massa yang terjadi dalam antrian untuk mendapatkan produk Blackberry merupakan sebuah suatu ironi bagi negeri ini ketika masyarakat berada dalam suatu kebimbangan akibat ulah para elitnya yang tidak berhasil memberikan contoh teladan dan sibuk dengan pertarungan untuk kepentingan dirinya beserta politiknya. Masyarakat kemudian mencari ruang yang dapat memenuhi kenyamanan dalam kehidupannya, di mana rutinitas sehari-harinya terasa tidak mendapatkan imbalan berarti dari para pemangku kebijakan sehingga melalui berkonsumsilah salah satu caranya. Konsumsi merupakan hak bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya namun apabila telah menjadi sebuah ritual yang melebihi dari kebutuhannya maka sifatnya berubah menjadi konsumerisme dan iklan menjadi alat bagi pendukung tradisi tersebut.
Iklan merupakan bentuk promosi yang paling efektif untuk menyebarkan suatu produk kepada masyarakat dan sekaligus menciptakan suatu brand yang sekiranya dapat mengena dalam pikiran manusia. Dengan dorongan iklan inilah maka suatu produk dapat dikenal atau melekat dengan masyarakat sehingga mendorong massa untuk mengkonsumsi produknya tersebut. Namun iklan sendiri tidak hanya memiliki fungsi untuk menjual suatu produk kepada kita tetapi menciptakan suatu struktur – struktur makna. Perwujudan struktur makna tersebut yaitu dengan cara mengemas iklan tersebut bermakna sesuatu bagi kita dan sebuah makna tersebut berhubungan dengan sebuah ideologi di mana ketika sebuah iklan berbicara kepada kita. Judith Williamson dalam bukunya Decoding Advertisement menyatakan bahwa “ ketika sebuah iklan berbicara kepada kita, kita secara serentak menciptakan pembicaraan tersebut (yang berarti ditujukan kepada kita), dan kita diciptakan olehnya sebagai pencipta-penciptanya (iklan berasumsi bahwa itu ditujukan kepada kita) sehingga kita dibentuk oleh iklan itu sebagai penerima aktif” (Williamson, 2001:51). Ideologi sendiri berperan hadir dalam menghubungkan makna suatu produk, sehingga masyarakat secara tidak sadar telah menjadi korban dari bujuk rayuan sebuah industri pasar yang menjadikan massa hanya sebagai komoditas bagi produknya.
Kehadiran massa yang begitu antusias demi memuja konsumerisme seperti yang terjadi dalam antrian untuk mendapatkan produk telepon pintar tersebut merupakan keberhasilan dari iklan yang menghipnotis massa dari kesadarannya. Produk Blackberry sendiri merupakan satu rangkaian dari ideologi pasar bebas atau neoliberalisme yang menggunakan beragam cara untuk terus meraup keuntungan demi segelintir orang kemudian memanfaatkan massa untuk menjadi pendukungnya. Kalau sudah seperti ini sangatlah ironi bagi dunia periklanan karena apa yang mereka promosikan kemudian menjadi suatu malapetaka, iklan yang hanya menjual image atau brand suatu produk tidak memiliki daya mengontrol efek dari promosinya. Sementara masyarakat akhirnya memanfaatkan iklan sebagai pelarian dari ketidakjelasan negara dalam menghadapi globalisasi neoliberal tersebut karena dengan cara persuasif ini iklan lebih dipercaya oleh masyarakat sebagai kita suci identitasnya. Semoga dengan kejadian antrian untuk mendapatkan Blackberry tersebut menjadi bahan refleksi untuk kita semua bahwa konsumerisme telah menjadi bahaya laten nasional.
Masyarakat yang mencari identitasnya dengan mengkonsumsi sebuah benda kemudian mencari referensinya melalui iklan-iklan yang terpampang dalam billboard, majalah, Koran, serta media elektronik. Dengan demikian iklan seperti penyampai pesan berantai yang pesannya begitu cepat diterima massa untuk kemudian cepat pula massa melalukan ritual konsumsinya. Namun kejadian diatas membuat iklan berada pada posisi yang sangat ironis karena dampak dari pesannya menyebabkan sebuah tragedi dan menyebabkan kecelakaan.
Periklanan merupakan bagian dari bentuk komunikasi pemasaran yang setiap pesannya bertujuan untuk memperkenalkan atau mendekatkan suatu produknya kepada masyarakat. Pesatnya perkembanghan industri media dan derasnya produk-produk konsumsi luar negeri yang membanjiri Indonesia saat ini membuat dunia periklanan dituntut lebih kreatif lagi dalam menciptakan image suatu produk. Sehingga kondisi demikian sangat dibutuhkan oleh massa yang saat ini sedang memandang identitas sosialnya dengan berkonsumsi produk-produk yang berlabelkan global dan modern. Meningkatnya jumlah masyarakat yang berkonsumsi saat ini sangat erat kaitannya dengan proses ekonomi politik Globalisasi yang sedang berproses dalam pusaran dunia saat ini. Di mana dalam proses tersebut untuk mempertahankan kondisi perekonomian suatu negara maka diperlukan daya konsumsi yang kuat dari masyarakatnya, hal inilah yang terjadi pada kondisi sekarang ketika daya beli masyarakat dimanfaatkan oleh produsen untuk melanggengkan konsumerisme. Kemudian media massa dalam hal ini iklan menggunakan situasi ini untuk merangsang pola pikir masyarakat agar terus mengkonsumsi suatu produk dan tidak hanya itu saja tetapi menciptakan suatu fenomena histeria karena massa menjadikan suatu produk sebagai berhalanya dengan menganggungkan sebuah label atau brand dari produk tertentu. Keadaan inilah yang menjadi fenomena bagi sebagian masyarakat terutama di wilayah perkotaan, ketika identitas global tercerminkan dengan produk-produk modern dan global apa yang mereka kenakan. Sehingga membuat suatu pandangan bahwa ukuran untuk menjadi masyarakat global adalah dengan mengkonsumsi suatu produk.
Fenomena histeria massa yang terjadi dalam antrian untuk mendapatkan produk Blackberry merupakan sebuah suatu ironi bagi negeri ini ketika masyarakat berada dalam suatu kebimbangan akibat ulah para elitnya yang tidak berhasil memberikan contoh teladan dan sibuk dengan pertarungan untuk kepentingan dirinya beserta politiknya. Masyarakat kemudian mencari ruang yang dapat memenuhi kenyamanan dalam kehidupannya, di mana rutinitas sehari-harinya terasa tidak mendapatkan imbalan berarti dari para pemangku kebijakan sehingga melalui berkonsumsilah salah satu caranya. Konsumsi merupakan hak bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya namun apabila telah menjadi sebuah ritual yang melebihi dari kebutuhannya maka sifatnya berubah menjadi konsumerisme dan iklan menjadi alat bagi pendukung tradisi tersebut.
Iklan merupakan bentuk promosi yang paling efektif untuk menyebarkan suatu produk kepada masyarakat dan sekaligus menciptakan suatu brand yang sekiranya dapat mengena dalam pikiran manusia. Dengan dorongan iklan inilah maka suatu produk dapat dikenal atau melekat dengan masyarakat sehingga mendorong massa untuk mengkonsumsi produknya tersebut. Namun iklan sendiri tidak hanya memiliki fungsi untuk menjual suatu produk kepada kita tetapi menciptakan suatu struktur – struktur makna. Perwujudan struktur makna tersebut yaitu dengan cara mengemas iklan tersebut bermakna sesuatu bagi kita dan sebuah makna tersebut berhubungan dengan sebuah ideologi di mana ketika sebuah iklan berbicara kepada kita. Judith Williamson dalam bukunya Decoding Advertisement menyatakan bahwa “ ketika sebuah iklan berbicara kepada kita, kita secara serentak menciptakan pembicaraan tersebut (yang berarti ditujukan kepada kita), dan kita diciptakan olehnya sebagai pencipta-penciptanya (iklan berasumsi bahwa itu ditujukan kepada kita) sehingga kita dibentuk oleh iklan itu sebagai penerima aktif” (Williamson, 2001:51). Ideologi sendiri berperan hadir dalam menghubungkan makna suatu produk, sehingga masyarakat secara tidak sadar telah menjadi korban dari bujuk rayuan sebuah industri pasar yang menjadikan massa hanya sebagai komoditas bagi produknya.
Kehadiran massa yang begitu antusias demi memuja konsumerisme seperti yang terjadi dalam antrian untuk mendapatkan produk telepon pintar tersebut merupakan keberhasilan dari iklan yang menghipnotis massa dari kesadarannya. Produk Blackberry sendiri merupakan satu rangkaian dari ideologi pasar bebas atau neoliberalisme yang menggunakan beragam cara untuk terus meraup keuntungan demi segelintir orang kemudian memanfaatkan massa untuk menjadi pendukungnya. Kalau sudah seperti ini sangatlah ironi bagi dunia periklanan karena apa yang mereka promosikan kemudian menjadi suatu malapetaka, iklan yang hanya menjual image atau brand suatu produk tidak memiliki daya mengontrol efek dari promosinya. Sementara masyarakat akhirnya memanfaatkan iklan sebagai pelarian dari ketidakjelasan negara dalam menghadapi globalisasi neoliberal tersebut karena dengan cara persuasif ini iklan lebih dipercaya oleh masyarakat sebagai kita suci identitasnya. Semoga dengan kejadian antrian untuk mendapatkan Blackberry tersebut menjadi bahan refleksi untuk kita semua bahwa konsumerisme telah menjadi bahaya laten nasional.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Menulis Dengan Rasa
Menulis dengan rasa, inilah behind the scene dari proses menulis opini untuk Harian Kompas yang terbit (27/05/23). Pagi itu saya sehabis la...