Globalisasi menjadi kalimat yang mampu menghipnotis semua orang di seluruh dunia, setiap manusia ketika mendengar kata itu sudah memiliki beragam pendapat yang ujungnya melahirkan berbagai wacana utopis mengenai menyatunya dunia. Bagi sebagian orang Globalisasi seperti alat pemersatu dunia yang selama ini terpisah baik secara geografis maupun berbagai aturan, namun sebagian menganggap bahwa sistem ini dapat mengancam tatanan kehidupan masyarakat karena khawatir akan hilangnya nilai-nilai suatu identitas. Kedua perbedaan pendapat ini sejak lama menjadi bahan perbincangan di berbagai forum diskusi dan melahirkan wacana publik yang dinamis.
Di Indonesia, kata Globalisasi telah menjadi buah bibir oleh berbagai kalangan, jargonnya menimbulkan berbagai pandangan dan perdebatan publik. Beberapa kalangan di republik ini mulai dari masyarakat umum hingga kalangan akademisi dan politisi akan memiliki beragam interpretasi ketika membicarakan sistem ini. Penulis memandang perbedaan pendapat mengenai Globalisasi di Indonesia terbagi atas dua kelompok yakni kelompok optimis dan pesimis, kedua kelompok ini hingga sekarang masih terus berdebat dalam menyikapi sistem yang suka ataupun tidak secara alamiah akan mengalir masuk ke Indonesia meskipun tanpa regulasi ketat di beberapa tahun mendatang.
Globalisasi dan Perdebatannya di Indonesia
Secara umum Globalisasi dapat diartikan sebagai sebuah tatanan sistem global yang saling berjaringan dan berhubungan berkat dukungan teknologi informasi, perdagangan, budaya, politik dan ekonomi. Menurut Roland Robetson seorang Sosiolog Globalis, menyatakan bahwa Globalisasi dapat dimaknai sebagai “sebuah konsep yang mengacu kepada tindakan yang mendunia dan secara intens memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa dunia ini saling ketergantungan” (Robetson,1992:8). Tatanan ketergantungan ini akan membawa dampak yang cukup signifikan bagi kehidupan masyarakat maupun negara, di mana secara umum perubahan akan sangat dirasa dalam berbagai ranah institusi. Masyarakat Indonesia secara umum tentunya harus siap menghadapi sistem ini karena dari kacamata ekonomi sudah terikat melalui perjanjian internasional. Dengan semakin gencarnya perjanjian-perjanjian ekonomi internasional itu tentunya akan menimbulkan perdebatan yang cukup dinamis diantara masyarakat dengan berbagai sudut pandang yang telah penulis kelompokkan diatas.
Kelompok Optimis, memandang Globalisasi ini dari sudut pandang Ekonomi. Dimana secara sistematis harus diikuti karena dengan begini bangsa Indonesia akan dapat keuntungan dari berbagai perjanjian perdagangan dunia. Beberapa kalangan yang optimis ini berpandangan kompetisi global merupakan kesempatan bagi negara untuk terus memacu tingkat pertumbuhan ekonominya agar posisi bangsa dapat sejajar dengan negara maju. Pandangan ini kemudian tertanam di kalangan birokrat pemerintahan untuk mengikuti ritme dari perjanjian internasional itu dengan mengakomodir kepentingan investor luar negeri yang menjanjikan dan menguntungkan. Kelompok optimis melihat bahwa bergabungnya Indonesia di berbagai forum dan kelompok ekonomi internasional merupakan sebuah prestasi serta kesempatan guna mewujudkan kemajuan ekonomi bangsa. Bagi masyarakat umum yang optimis terhadap Globalisasi, berpandangan bahwa ini adalah momentum untuk dapat merasakan ikon, label, ataupun budaya global khususnya barat yang secara deras memasuki pangsa pasar Indonesia. Maka tidak mengherankan berbagai fasilitas pendukung situasi tersebut marak khususnya di perkotaan seperti Mall dengan konsep dunia & modern, waralaba internasional, perangkat teknologi versi terbaru, hingga pendidikan bertaraf internasional mulai dari Taman kanak-kanak sampai universitas. Semua fasilitas itu adalah untuk menunjang Indonesia menjadi sejajar dengan suasana dunia yang dikonstruksikan modern, maju, serta praktis.
Kelompok pesimis, adalah kelompok yang memandang bahwa globalisasi merupakan ancaman bagi kedaulatan negara, menghancurkan moralitas bangsa, dan menghilangkan identitas lokal. Mereka menganggap bahwa Globalisasi merupakan monopoli dari negara adidaya serta merusak sistem tata negara yang telah diperjuangkan oleh para pemikir bangsa dan para pejuang kemerdekaan. Kelompok ini memandang bahwa identitas nasional dan lokal akan tergerus oleh kebudayaan barat yang secara perlahan merusak nilai-nilai kebangsaan apabila paham Globalisasi dibiarkan mengalir deras masuk kedalam tatanan masyarakat. Kelompok ini membahasakan Globalisasi dengan kaca mata teori konspirasi dan terkadang Chauvinistik, menguatkan tradisi feodal, serta mengkultuskan kejayaan raja-raja nusantara adalah argumen yang selalu dikuatkan oleh mereka sehingga kita terjebak dengan perdebatan yang tak kunjung selesai. Kelompok pesimis melihat bahwa sumber daya manusia di Indonesia tidaklah mendukung akan hadirnya Globalisasi karena kalah bersaing dengan manusia-manusia dunia dan selalu membandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura yang sumberdayanya sudah lebih maju. Meski secara umum pandangan mereka terhadap sistem ini dan negara barat sangat pesimistis namun ketika melihat negara timur kelompok ini masih bertoleransi, banyak yang berkiblat kepada negara Cina dan India untuk melihat bagaimana negara berhasil mengalahkan dominasi barat. Esensi dari Globalisasi kemudian menjadi pertentangan antara barat dan timur ataupun.
Menyikapi Globalisasi
Sebagai sebuah sistem yang berlaku dan berjalan tanpa batas teritori negara yang implementasinya dapat berupa ekonomi, politik, budaya, sosial dan lain sebagainya Globalisasi telah menjadi fenomena abad ini yang memiliki berbagai makna interpretasi. Bagi penulis, perdebatan mengenai Globalisasi harus berdasar dengan tidak menjadikan sebuah disiplin ilmu sebagai sesuatu yang ajeg, karena sistem ini berjalan secara dinamis dan mengalir di berbagai bidang. Dengan konsep itu kita harus menyikapinya dengan cerdas dan terukur, karena Globalisasi hanyalah sebuah simbol dari ketergantungan antar negara dan masyarakat yang mencari titik penyatuan melalui berbagai pemikiran, ideologi, dan kepentingan. Sistem ini harus disikapi juga dengan tidak melupakan identitas kita sebagai manusia yang humanis dan berpandangan terbuka, karena kebanyakan dari kita terkadang salah dalam menyikapi ini dan terjebak oleh narasi-narasi besar yang menyempitkan pandangan kita. Namun juga harus berhati-hati karena ketergantungan antar bangsa dan masyarakat yang dikemas dalam ide Globalisasi ini dapat saja saling merugikan.
Tulisan ini dimuat dalam harian Suara Karya edisi 30 Mei 2013