Tuesday, January 15, 2008

Suara Masyarakat sipil dalam konferensi perubahan iklim


Udara panas yang cukup menyengat seperti biasanya mewarnai pulau Bali, tempat para wisatawan mancanegara maupun local melakukan liburan ataupun istirahat di pulau yang penuh dengan aroma wisata ini. Di awal bulan desember 2007 tepatnya tanggal 3 hingga 15 pulau ini menjadi tuan rumah pertemuan PBB mengenai perubahan iklim, kondisi bumi yang memanas seperti halnya udara di pulau Bali tidak mengurangi antusias para peserta konferensi yang mencapai 10.000 orang ini. Delegasi yang hadir pun terdiri dari beberapa utusan seperti pemerintahan, bisnis, akademisi, NGO, dan kelompok – kelompok masyarakat dari berbagai belahan dunia. Konferensi yang berlangsung sudah ke 13 kalinya ini seperti biasa membahas mengenai dampak dari pemanasan global dan bagaimana para peserta konferensi menanggapi isu ini untuk kemudian dijadikan kebijakan mengurangi dampak besar dari perubahan iklim. Konferensi PBB yang bernama UNFCCC ( United Nations Framework Climate Change Conference) ini terbentuk dari inisiatif PBB melalui program lingkungannya, dengan sebelumnya pada tahun 1988 bersama WMO ( World Meteorological Organization ) membentuk The Intergovernmental Panel on Climate Change ( IPCC) yang pada setiap lima tahun mengeluarkan laporan mengenai keadaan meningkatnya suhu bumi. Dari perkembangan diataslah melalui berbagai pembahasan dan kesepakatan pada tahun 1992 tepatnya dalam konferensi Bumi ( Earth Summit ) di Rio De janeiro dibahas untuk pembentukan suatu konvensi khusus mengenai perubahan iklim karena ketika mereka memasukkan isu perubahan iklim ke dalam konvensi, negara – negara di dunia sadar bahwa tidak cukup hanya dituangkan ke dalam suatu ketetapan saja.

Pertemuan UNFCCC di Bali kali ini sebenarnya tidak begitu banyak perkembangan yang akan dibahas sebab komitmen Negara maju untuk meratifikasi Protokol Kyoto yang lahir pada pertemuan COP 3 di Jepang masih belum mencapai kata sepakat, hanya Australia yang membuat kejutan melalui perdana menterinya yang baru Kevin Rudd membuat gebrakan dengan meratifikasi protokol tersebut di awal – awal pertemuan Bali ini. Namun secara keseluruhan konvensi ini tidak banyak membahas hal – hal yang konkrit untuk penyelamatan bumi dari pemanasan global adapun pembahasan yang sering terdengar dan terliput dalam media massa utama adalah mengenai perdagangan karbon dan penyelamatan hutan sedangkan dari dalam areal konferensi isu – isu mengenai transfer teknologi, dana adaptasi, dan rencana pembentukan Bali roadmap menjadi santer terdengar di kawasan nusa dua Bali.

Ketatnya keamanan disekitar lokasi konvensi dan wilayah pulau Bali saat berlangsungnya UNFCCC membuat suasana pertemuan seperti halnya pertemuan tingkat tinggi dunia yang membicarakan hal – hal sangat krusial dan penting. Disepanjang jalan – jalan utama di Bali mulai dari bandara hingga kawasan nusa dua penuh dengan penjagaan polisi yang dilengkapi senjata lengkap, di dalam kawasan nusa dua juga demikian bahkan lebih ketat tidak semua orang bias memasuki kawasan areal hotel mewah di Bali ini. Penjagaan yang cukup berlebih ini membawa suasana seakan – akan pembicaraan didalam konvensi sangat dijaga agar hasil – hasilnya dapat dirasakan oleh para pebisnis yang ternyata banyak juga mengikuti konvensi ini.

Kegiatan dalam UNFCCC serta diluar konvensi juga berlangsung secara bersamaan dan banyak pula aktivitas – aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat sipil di Indonesia dan dunia untuk merespon pertemuan ini. Ajang pertemuan kali ini cukup mendapat banyak perhatian dari segala macam bentuk kelompok – kelompok social dari mulai masyarakat sipil, NGO, hingga komunitas – komunitas local. Tercatat ada banyak kegiatan yang berhubungan dengan masyarakat sipil untuk menyuarakan nada protes kepada pertemuan ini beberapa kegiatan tersebut adalah CSO ( Civil Society Forum ), People’s protocol forum, Global day of action, Greed forum, WSF Asia Consult meeting, dan Solidarity for cool planet. Semua forum masyarakat diatas merupakan forum yang berlangsung diluar arena UNFCCC tempat dimana kalangan masyarakat sipil baik dari NGO, AKADEMISI, MASYARAKAT ADAT, BURUH, KAUM MUDA, PEREMPUAN, DAN PETANI berkumpul untuk menyuarakan suara protes mereka terhadap keadilan iklim. Masing – masing forum memiliki agenda dan pembahasan serta kesimpulan tersendiri namun suara mereka semua adalah suara yang benar – benar harus didengar karena mewakili kondisi dari sebagian masyarakat dunia. Forum ini juga merupakan sebuah tempat kritikan kepada UNFCCC dan para delegasi yang sedang bersidang agar lebih peka lagi terhadap nasib umat manusia dari dampak pemanasan global.

Seperti dalam CSO (Civil Society Forum) forum ini diselenggarakan untuk menghimpun suara – suara dari berbagai kelompok masyarakat sipil baik yang berada di dalam sidang konvensi maupun yang berada di luar sidang, kegiatan yang diselenggarakan didalam areal nusa dua ini terdiri dari beberapa workshop, seminar, testimony hingga hiburan cultural event. Jarak CSO yang dekat dari tempat pertemuan UNFCCC membuat banyak delegasi masyarakat sipil didalam konvensi selalu hadir dalam pertemuan civil society ini. Para selebritis Indonesia pun di ajak bergabung dalam forum yang mempunyai semboyan Climate Justice, bentuk areal seperti kampung dan dilengkapi gazebo – gazebo beratap jerami ini sedikit ramai ketika beberapa penyanyi terkenal Indonesia mengisi panggung utama setiap harinya.

Adapula people’s protocol forum atau deklarasi rakyat untuk perubahan iklim, forum ini merupakan lanjutan dari pertemuan Bangkok pada bulan Oktober 2007 yang dihadiri oleh beberapa kelompok masyarakat sipil dari belahan dunia yang mempunyai ide untuk menciptakan suatu deklarasi khusus untuk rakyat untuk perubahan iklim. Deklarasi ini mengartikulasikan nilai – nilai dan prinsip – prinsip yang seharusnya menjadi pedoman aksi dan perjuangan rakyat secara internasional melawan perubahan iklim dan berbagai dampak kehancuran ekologi global dan social ekonomi yang diakibatkannya kalimat demikian merupakan bagian dari isi draft deklarasi rakyat tersebut. Deklarasi yang berlangsung sehari menjelang day of action ini dihadiri oleh beberapa aktivis social local disekitar Bali dan beberapa aktivis internasional ini, hadir pula aktivis pembebasan Papua. Suasana deklarasi pun berlangsung cukup sederhana dengan terlebih dahulu penyelenggara mengadakan sebuah diskusi dengan narasumber dari beberapa aktivis yang telah disebut diatas, acara sempat diselingi dengan tarian Bali bertema puputan ( yaitu sebuah tarian yang bertema symbol perlawanan masyarakat Bali melawan penjajah ). Kegiatan diskusi yang diadakan oleh beberapa kelompok LSM diatas merupakan bentuk rangkaian kegiatan people’s protocol forum dengan sebelumnya mengadakan sebuah workshop dengan masyarakat adat asli Bali sekitar radius ratusan kilo dari kota Denpasar (ibukota bali). Sehabis kegiatan diskusi mereka mensosialisasikan protocol ini dalam aksi demonstrasi pada tanggal 10 Desember bertepatan dengan hari deklarasi hak asasi manusia seluruh dunia. Dengan harapan people’s protocol ini dapat menjadi acuan bagi gerakan social seluruh dunia dalam rangka menyikapi isu pemanasan global dan terus dibawa dalam pertemuan – pertemuan UNFCCC berikutnya.

Tanggal 8 Desember merupakan hari aksi solidaritas seluruh dunia dalam rangka memberikan suara dari akar rumput terhadap pertemuan UNFCCC Bali 2007, aksi yang telah disepakati dan diadakan oleh beberapa komunitas dunia yang peduli akan pemanasan global ini berlansung serentak pada tanggal yang sama diseluruh Negara dunia dari mulai benua Australia, Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika. Khusus di Bali aksi ini sangat special karena sebagian dari perwakilan kelompok gerakan social dunia sedang berkumpul di pulau ini dalam rangka mengikuti konferensi UNFCCC, sejak pagi sekitar pukul 10 kantor DPRD ( parlemen daerah ) sudah didatangi oleh ratusan kelompok massa untuk berkumpul disana. Sebab pemerintah local tidak memberikan izin melakukan aksi di dekat areal konferensi pada tanggal tersebut. Lokasi kantor DPRD ini berjarak sekitar 1,5 jam dari areal pertemuan UNFCCC di NusaDua, kelompok massa yang terlebih dahulu ada disana melakukan diskusi terbuka dengan perwakilan anggota parlemen daerah. Baru sekitar pukul 1 siang ribuan massa mulai berdatangan untuk kemudian melakukan longmarch mengelilingi areal lapangan renon Bali yang letaknya persis didepan gedung parlemen daerah. Aksi demonstrasi ini diawali oleh barisan kelompok massa dari Anand Krisna yaitu merupakan kelompok religi hindu yang berwawasan pluralism dan keindonesian, dengan diikuti oleh barisan massa dari Walhi, Foei, Perempuan, Perdagangan adil, partai buruh Korean,masyarakat adat, Anti hutang, Via Campesina, Mahasiswa, dan kelompok massa lainnya. Aksi dengan berkeliling lapangan puputan ini yang sebesar tiga kali lapangan sepak bola berlangsung kurang lebih selama 2 jam. Banyak dari yel yel yang keluar dalam demonstrasi bernada menentang pertemuan UNFCCC slogan – slogan dalam spanduk pun bernada mengkritisi keras pertemuan ini karena hanya pembicaraan mengenai bisni saja bukan tentang bagaimana keadilan iklim itu berjalan itulah salah satu kalimat dari satu spanduk yang dibawa oleh barisan massa. Berbagai macam kalimat – kalimat dan warna warni spanduk yang meramaikan aksi massa hari itu serasa semakin panas apalagi suasana udara sekitar lapangan juga terasa panas, sambil berkeliling dan berteriak2 ada juga yang menari2 dengan irama music india yang dibawakan oleh kelompok hindu Anand krisna serasa hari itu adalah pesta bagi masyarakat sipil untuk bersuara kepada UNFCCC yang sedang bersidang. Dalam barisan aksi massa banyak atribut2 yang digunakan seperti ada yang memakai pakaian adat Bali, pakaian ala india, memakai baju dari bahan2 plastik, bersepeda, boneka2 raksasa mengecam Amerika dan Bush, barisan gamelan Bali pada barisan belakang. Aksi hari itu menjadi sebuah suara besar masyarakat sipil kepada UNFCCC agar kepentingan rakyat harus diutamakan dibandingkan bisnis dalam membicarakan masalah perubahan iklim.

Forum lain yang ada dalam penggalangan masyarakat sipil melawan perubahan iklim ini adalah ‘Solidarity for the cool planet’, forum ini berlangsung didalam arena pertemuan CSO namun isu dan pesertanya ada pula dari luar kelompok2 dalam CSO sendiri. Forum ini kebanyakkan membahas mengenai dampak neoliberalisme dan perdagangan bebas dalam hubungannya dengan perubahan iklim, sehingga banyak figur dan tokoh2 yang sangat kritis dengan globalisasi menjadi penyelenggara dan pembicara dalam forum yang selalu ramai diikuti oleh peserta. Tokoh yang hadir sepert Walden Bello (Focus), Yoko Amimoto (ATTAC Japan), Henri Saragih (Via Campesina), Meena Menon (Focus India) dan diikuti pula oleh organisasi seperti MST Brazil, Globalization Monitor, Korean Confederation Trade Union. Topik yang sangat ramai dibicarakan dalam forum solidaritas tersebut sangat bervariatif ada yang memobilisasi persiapan aksi untuk G8 di Hokaido Jepang pada bulan Juni yang dikampenyakan oleh ATTAC dan ada juga membicarakan mengenai matinya pertanian dibawah rejim neoliberalisme. Atau berbicara mengenai dampak negatif dari perdagangan karbon terhadap kesejahteraan rakyat miskin dan relevansinya terhadap ekonomi neoliberalisme. Forum solidaritas yang berlangsung selama 3 hari ini sangat memberikan pencerahan bagi masyarakat sipil untuk memahami bahwa isu perubahan iklim sangatlah berdekatan dengan isu globalisasi karena mencakup isu perdagangan pula didalamnya serta bisnis baru utamanya yang tentunya merugikan seluruh rakyat miskin dan masyarakat adat.

Disela – sela forum pertemuan masyarakat sipil tersebut terdapat juga rapat mengenai persiapan Forum Sosial Dunia 2008, dalam rapat tersebut dibahas mengenai rencana aksi secara global dalam rangka merespon pertemuan tahunan masyarakat sipil seluruh dunia tersebut. Pertemuan yang telah berlangsung sejak tahun 2001 ini sudah pernah berlangsung antara lain di kota Porto Alegre, Mumbai, Nairobi, Caracas, Bamako, dan Karachi. Untuk tahun 2008 ini aktivis dalam forum social dunia akan mengadakan aksi secara serentak pada tanggal 26 Januari di seluruh dunia sehingga tidak akan ada pertemuan di satu tempat lagi untuk tahun ini namun forum akan kembali berlangsung pada tahun 2009 di Amazon Brazil. Dalam rapat pertemuan mereka dihadiri oleh beberapa perwakilan kelompok dari berbagai Negara asia seperti Thailand, India, Pakistan, Indonesia, dan Filipina dalam pertemuan tersebut mereka bersepakat untuk melakukan aksi bersama pada hari global day of action Forum Sosial Dunia dengan isu yang dimiliki masing – masing wilayahnya namun masih satu kerangka sama dalam nilai perjuangan dari deklarasi Forum Sosial Dunia.

Suara – suara masyarakat sipil tidak hanya terjadi dilluar arena UNFCCC melalui forum – forum yang mereka selenggarakan melainkan pula terjadi didalam areal konferensi UNFCCC. Puluhan orang bahkan beberapa orang setiap harinya melakukan aksi simpatik didepan pintu masuk BICC ( Tempat pertemuan berlangsung ) aksi yang diadakan biasanya berlangsung setiap pagi hari menjelang konferensi dibuka. Dengan menggunakan spanduk seadanya atau menggunakan perlengkapan seadanya mereka biasanya berteriak untuk menarik perhatian para delegasi yang melewatinya, pengawasan ketat pun dilakukan oleh polisi PBB yang berjaga sepanjang hari. Kelompok – kelompok yang aksi banyak dari NGO2, kaukus muda, individu dan beberapa organisasi2 lainnya.

Dalam areal konferensi UNFCCC sendiri tidak membawa hasil yang sangat signifikan para delegasi yang bersidang sangat lambat dalam mengambil keputusan maupun ketika bernegoisasi. Ajang pertemuan hanya dijadikan agenda bisnis baru bagi perusahaan2 besar dan kepentingan Negara maju untuk mempertahankan emisinya yang tidak mau dikurangi,nyaris pertemuan ini hanya jadi ajang basa basi politik dan dagang. Hal krusial mengenai bagaimana menyelamatkan bumi ini dari pemanasan global tidak disentuh sama sekali oleh para delegasi, Negara maju khususnya Amerika Serikat masih ingin bertahan untuk tidak tanda tangan protocol Kyoto dan mengurangi emisi, Negara – Negara berkembang tidak begitu banyak didengar oleh Negara maju tetapi malah diberi dana untuk pemyelamatan lingkungan hal ini sebenarnya tidak menyentuh langsung kepada isu penyelematan lingkungan. Banyak rapat2 yang berlangsung deadlock bahkan harus diselesaikan hingga dini hari dan pertemuan ini sendiri berakhir mundur dari jadwal sebenarnya.

Hasil - hasil selama pertemuan ini memang tidak begitu banyak kemajuan, beberapa isu menonjol selama pertemuan ini antara lain mengenai dana kompensasi Negara maju kepada Negara berkembang. Untuk isu ini memang menguntungkan bagi Negara berkembang sebab uang mengalir begitu banyak nantinya namun ini juga dapat menjadi jebakan sebab apakah uang tersebut dapat digunakan semestinya atau menjebak untuk korupsi kembali sedangkan Negara maju tidak ingin mengurangi emisi karbonnya jadilah Negara berkembang hanya jadi sapi perah emisi mereka. Selain isu dana kompensasi masalah transfer teknologi juga santer terdengar dalam pertemuan yang merupakan usaha dari PBB untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global ini, transfer teknologi mengalami kendala sebab Negara maju masih tidak ingin mentransfer teknologi majunya untuk Negara dunia ketiga. Permasalahan ini sempat mengemuka dalam setiap sidang – sidang yang berlangsung teknologi nampaknya masih menjadi barang mahal bagi Negara maju untuk dishare kepada Negara berkembang, kalaupun teknologi transfer ini bisa berjalan itupun harus melalui agen – agen mereka yang diwakili oleh perusahaan2 bisnis raksasa berskala besar. Isu terakhir yang mendapat perhatian besar dalam UNFCCC di Bali ini adalah Bali roadmap yaitu sebuah kesepakatan menuju 2009 untuk persiapan pengganti protocol Kyoto yang akan berakhir pada tahun 2012. Meskipun roadmap ini sangat penting sebagai masukan dalam pertemuan2 mendatang di Polandia dan Kopenhangen namun komitmen Negara-negara didalam UNFCCC juga bias dipertanggung jawabkan. Sebab masih banyak hal yang perlu disepakati untuk mewujudkan roadmap ini berhasil dan mencapai apa yang diinginkan oleh banyak pihak, hasil roadmap yang sudah keluar pada pertemuan Bali tidak menjamin keberhasilan ini. Sebab selain pembicaraan roadmap yang memakan banyak waktu hasil akhirnya pun hanya berupa konsesus bukan implentasi yang jelas, Amerika Serikat sebagai penghalang roadmap ini tetap bersikukuh untuk tidak ingin mengurangi emisinya sepeser pun. Hal ini menunjukkan pertemuan Bali dan pertemuan2 berikutnya hanya akan menjadi ajang pertemuan tidak jelas apabila semua Negara yang terlibat didalamnya tidak peduli akan nasib pemanasan global yang sudah didepan mata.

Pertemuan COP 13 Bali kali ini akhirnya hanya berhasil menjadi ajang menebar image antara beberapa figure politik, seperti Kevin Rudd dengan manuvernya menandatangi Australia untuk protocol Kyoto, terpilihnya sang broker karbon Al Gore sebagai peraih nobel perdamaian meskipun aneh dilihatnya, presiden Indonesia yang membagikan cd gratis ciptaan lagunya tentang pemanasan global.

Konsesus roadmap telah disetujui dalam UNFCCC Bali namun Amerika Serikat tetap tidak ingin mengurangi emisi sampai 2012, dan kepentingan perusahaan besar sangat dominan dalam konferensi ini. Sebagai catatan untuk UNFCCC bahwa sesungguhnya kepentingan rakyat dunia dan penyelamatan bumi harus didahulukan jangan sampai konferensi ini hanya menjadi ajang buang uang dari industri besar untuk memuluskan jalannya neoliberalisme, dunia kita ini bukan untuk diperdagangkan.


Tulisan Oleh : Meistra Budiasa


Wednesday, June 27, 2007

SUKSES BLOKADE G8, SELANJUTNYA?


We will we will block you!!! Itulah penggalan kalimat dari para demonstran pada saat mereka akan melewati barisan polisi untuk melakukan blockade jalan menuju heiligendamm 6 juni 2007 lalu, para aktivis anti globalisasi dari seluruh dunia ini ( mayoritas dari jerman ) berhasil menduduki akses jalan menuju tempat pertemuan G8 hingga beberapa delegasi G8 melewati jalur laut dan helicopter menuju lokasi pertemuan. Walaupun tidak bisa menghentikan pertemuan namun rencana para aktivis yang telah dipersiapkan bertahun – tahun berhasil tercapai, hal ini tidak lepas peran para gerakan sosial di Jerman dalam mengadakan persiapan – persiapan aksi ataupun mobilisasi – mobilisasi aksi menjelang KTT G8.

* Mobilisasi aksi anti G8 di Jerman
Mungkin tidak begitu banyak yang mengetahui bahwa persiapan aksi anti G8 ini sudah dimulai selama 2 tahun sebelum aksi puncak tahun 2007 ini. Mereka sudah mengadakan kontak baik lewat email, internet, dan juga leaflet – leaflet di kota – kota besar di Jerman. Bahkan pada aksi anti G8 di Gleanegles, Scotland 2005 kampanye untuk aksi Heiligendamm ini sudah dimulai. Ada beberapa grup yang mengkampanyekan aksi ini seperti Dissent ( network anarkis anti globalisasi ) , Intervionist left ( kelompok kiri baru yang terdiri dari berbagai organisasi gerakan sosial di Jerman ), ATTAC ( organisasi massa anti globalisasi ) dan beberapa kelompok serikat buruh dan NGO.
Banyak kegiatan yang mereka lakukan dalam mengkampanyekan aksi ini, di Jerman sendiri masing – masing grup mempunyai karakteristik sendiri dalam melakukan persiapan – persiapan aksi. Seperti biasanya selain melakukan aksi massa di hari – hari besar kelompok – kelompok ini seringkali membuka stand – stand di tempat keramaian sambil membagikan brosur dan berbicara banyak dengan orang – orang yang melewati stand mereka, “persiapan aksi kami sudah dilakukan sangat matang sejak jauh – jauh hari” seperti yang diungkapkan oleh seorang organisator aksi anti G8. Kelompok yang telah pula aktif dalam gerakan mobilisasi ini antara lain oleh gerakan mahasiswa, mereka selalu memasukkan isu anti G8 disetiap propaganda mereka dalam aksi seperti pembebasan biaya pendidikan. Perlu diketahui bahwa saat ini untuk kuliah di Jerman dieknakan biaya pendidikan yang berkisar antara 500 – 800 Euro per semester. Hal ini berlaku semenjak pemerintahan Angela Merkel yang akan memprivatisasi pendidikan dan isu ini menjadi utama dalam gerakan mahasiswa di Jerman. Kelompok lain yang aktif memobilisasi adalah para pecinta lingkungan, kelompok ini merupakan salah satu inisiator dari aksi blokade pertemuan G8. Dari berbagai macam pengalaman mereka dalam aksi anti nuklir kelompok ini banyak melakukan pelatihan – pelatihan bagaimana cara menghadapi polisi dalam aksi memblokade jalan ataupun menduduki jalan. Para aktivis lingkungan ini sangat tekun sekali dalam melakukan pelatihan dan memberikan instruksi dalam setiap latihannya dengan sangat bermanfaat. Organisasi massa anti globalisasi terbesar di Jerman yaitu ATTAC juga terlibat sangat aktif dalam mobilisasi ini, mereka banyak mengadakan diskusi – diskusi bersama gerakan sosial di jerman seperti serikat buruh, organisasi kiri, dan juga mahasiswa. Kelompok ini terkenal sangat aktif dalam persiapan aksi anti G8 kali ini, banyak aksi – aksi protes yang berhubungan dengan isu globalisasi ATTAC menurunkan massa yang cukup banyak dan juga dalam persiapan aksi anti G8 banyak seruan – seruan kepada massa untuk bergabung dalam aksi mereka.
Namun ditengah – ditengah ramainya organisasi massa tergerak bersatu mengadakan persiapan aksi tolak G8 perpecahan terjadi di serikat buruh Jerman. Perpecahan terjadi diantara sesama serikat buruh besar seperti IGM Metall dan VERDI kedua organisasi besar tersebut pecah akibat kuatnya control dari pimpinan serikat buruh mereka yang menjadi sangat birokratis dan kompromis dengan pemerintahan parlemen khususnya SPD ( sosial democrat ). Dalam suatu pertemuan antara serikat buruh beberapa minggu sebelum aksi G8 perdebatan sengit terjadi diantara mereka, ketika keluar satu pernyataan dari salah seorang peserta diskusi yang mengatakan bahwa links partie ( partai kiri di jerman ) yang saat ini duduk di bundestag jerman tidak mampu mengorganisir massa gerakan buruh kearah yang lebih radikal. Dan perdebatan terjadi lebih banyak kepada kampanye – kampanye mereka kepada gerakan massa pekerja di jerman sendiri yang dirasa sangat kurang hal ini terjadi utama dalam IGM Metall dimana selama ini mereka sangat kuat dan banyak dalam memobilisasi aksi namun pada G8 kali ini mereka tidak terlihat begitu kuat massanya meski dalam propaganda mereka menyerukan agar pekerja dan buruh bergabung dalam aksi menolak G8 kali ini. Sementara VERDI ( organisasi serikat buruh yang berhubungan dengan telekomunikasi ) juga mengalami hal yang sama namun mereka dalam hal isu saat ini memiliki relevan dengan pengaruh dari globalisasi, dimana puluhan ribu pekerja telekom salah satu perusahaan telekomunikasi milik negara akan di privatisasi dan eksesnya yaitu pekerja akan di phk. Verdi bersama serikat buruh lainnya melakukan aksi solidaritas untuk hal ini dan sekaligus mengkampayekan aksi mobilisasi menolak G8. Bagaimanapun perdebatan antara serikat buruh tersebut namun pada akhirnya tetap saja beberapa anggota dari serikat buruh tersebut terlihat dalam aksi menolak G8 meski jumlah massanya tidak sebesar aksi mereka setiap hari.

* Aksi anti G8 di Rostock dan provokasi polisi
Kota Rostock pada awal Juni 2007 ini mendadak menjadi sebuah kota yang ramai dipenuhi oleh ribuan orang anti kapitalis dari seluruh eropa dan dunia. Mereka datang melalui berbagai cara ada yang secara organisasi, individu, kelompok maupun undangan dari masyarakat sipil di Jerman. Berbagai aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan gerakan sosial terjadi disini, meski keamanan di Jerman menjelang KTT G8 sangat ketat. Polisi Jerman melakukan operasi besar – besaran dalam menjaga keamanan G8 sekitar jutaan euro dikeluarkan oleh pemerintah untuk fasilitas ini bahkan radius 5 kilometer dari Heiligendamm dipagari oleh kawat berduri. Meski polisi sempat melakukan tindakan agresif sebelum KTT G8 yaitu dengan melakukan sweeping ke berbagai sosial center di Jerman dan menggeledah flat – flat namun tidak menyurutkan semangat para aktivis yang semakin besar secara bergelombang datang ke Rostock.
Dalam menyambut aksi anti G8 ini banyak organisasi yang telah sejak lama mengkampanyekan aksi mereka membuat berbagai agenda aktivitas selama di Rostock dan berlangsungnya G8 di Heiligendamm. Kegiatan tersebut antara lain : kemah, pertemuan alternatif, konser musik, aksi protes, dan aksi blokade.
Seperti dikatakan diatas bahwa banyak berbagai macam cara para aktivis anti kapitalis datang ke kota Rostock, salah satunya seperti yang dilakukan oleh ATTAC yang mengorganisir perjalanan kereta api menuju kota Rostock dari kota – kota di Jerman. Ada tiga jalur kereta yang dilalui untuk menjemput aktivis – aktivis dari berbagai wilayah, jalur tersebut dimulai dari tiga kota yaitu Bonn, Frankfurt, Munich kemudian melewati berbagai wilayah yang dekat dari kota tersebut.
Tanggal 2 juni 2007 hampir semua aktivis anti kapitalis sudah hadir di kota Rostock, karena pada tanggal tersebut demonstrasi hari pertama menjelang G8 dimulai. Sekitar siang hari halaman depan stasiun kereta Rostock dipenuhi oleh lautan manusia dengan berbagai macam atribut dan warna warni bendera. Disini mereka berkumpul dan melakukan longmarch untuk mengatakan kepada warga kota menolak pertemuan G8, kebebasan ekspresi manusia untuk melawan dominasi G8 terlihat disini. Mereka melepaskan segala atribut keformalan kehidupan tidak ada rasisme disini, tidak ada fundamentalis agama disini, tidak ada patriaki disini, tidak ada dominasi disini, tidak ada eksploitasi disini, tidak ada kekuasaan disini yang ada adalah kebersamaan dalam satu suara anti kapitalisme dan anti G8. Barisan panjang massa terlihat di jalan utama kota dan yel yel anti kapitalis menyeruak di sekitar massa, kibaran bendera, baliho, spanduk berwarna warni meramaikan suasana aksi protes internasional anti G8 ini.
Sementara itu sederetan barisan blac bloc berjalan rapi di belakang, kelompok ini menggunakan pakaian serba hitam lengkap dengan masker dan meneriakkan slogan anti kapitalisme dan globalisasi. Barisan mereka nampak diawasi serius oleh polisi, sebab kelompok anarki ini biasa melakukan aksi yang cukup radikal dalam penyampaian pendapatnya. Lemparan botol, batu, dan cacian terhadap aparat terkadang muncul dari teriakan mereka. Gas air mata tidak menyurutkan militansi mereka untuk terus melakukan perlawanan sampai pada akhir long march kelompok ini tiba – tiba mendapatkan serangan dari polisi sehingga bentrokkan besar pun tidak dapat dihalangi, benturan ini terus terjadi hingga massa aksi kembali pulang dari aksi. Rusuh kelompok blac bloc ini menjadi sebuah topik pembicaraan hangat dikalangan organisasi – organisasi massa selama aksi anti G8, bahkan statement – statement politik banyak dikeluarkan oleh organisasi tersebut. Blac bloc menjadi fenomena opini selama aksi anti G8, ulah mereka sendiri yang selalu tanpa kompromi akhirnya menjadi sebuah ikon pembicaraan politik. Bukan hanya gerakan tapi juga masyarakat biasa, media mainstream, dan pemerintah membicarakan kelompok ini di setiap kesempatan. Meski menjadi sebuah opini besar kelompok blac bloc tetap saja selama aksi anti G8 tidak mengeluarkan pernyataan apapun atau melakukan dialog terbuka.
Berbagai aksi protes menolak pertemuan G8 terus berlangsung selama awal – awal minggu bulan Juni, demonstrasi setiap harinya terjadi sesuai dengan isu – isu yang lebih spesifik seperti agrikultur, imigran, anti perang dan aksi blokade. Setiap hari pula kota Rostock dijaga ketat oleh polisi yang lengkap memeriksa setiap orang yang dicurigai terutama ciri – ciri seperti blac bloc.

* Pertemuan alternatif
Salah satu gerakan sosial masyarakat sipil selain demonstrasi yaitu diadakannya pertemuan alternatif sebagai tandingan dari KTT G8. Pertemuan yang dinamakan G8 alternative summit ini dihadiri oleh beberapa pembicara yang terkenal dengan ide – ide kritis globalisasi seperti Walden Bello ( Focus Global South ), Susan George ( ATTAC ), John Holloway ( Open Space ), Alex Callinicos ( Prof. Kings College, London ), Vandana Shiva ( India ) dan pembicara lain dari kalangan akademis maupun aktivis pengkritisi globalisasi. Topik pembahasan yang dibicarakan dalam forum ini sangat beragam mulai dari isu gender, lingkungan, ide – ide baru, anti pangkalan Amerika, Venezuela dan berbagai isu global lainnya yang berhubungan dengan globalisasi maupun G8. Namun pertemuan alternatif ini tidak memiliki sedikit statement keras terhadap G8 karena liputan atau aksi demonstrasi massa lebih kuat dibanding forum ini, meski demikian pernyataan beberapa pembicara sangat varian dan cukup keras dalam merespon beberapa isu global. Seperti pada saat pembukaan forum alternatif Walden Bello mengeluarkan pernyataan yang cukup menarik yaitu mengenai tatanan badan dunia yang sudah akan hancur dimana “IMF, Bank Dunia, WTO, G8 saat ini diambang kehancuran maka kita masyarakat dunia akan melihat keruntuhan badan – badan ini”.
Topik lain dalam pertemuan alternatif yang cukup mendapat perhatian banyak aktivis yaitu mengenai ide pemikiran John Holloway mengenai merubah dunia tanpa berkuasa, dimana inti dari pemikiran beliau adalah bahwa perubahan besar yang akan terjadi di dunia ini akan lebih baik dengan cara- cara kolektif namun tidak untuk berkuasa atau secara kalimat yang lebih mudah adalah partisipasi antar manusia dalam melakukan segala kegiatan. Kemudian ia membuat forum diskusi yang dinamakan open space disini para hadirin dapat bertukar pikiran mengenai ide- ide yang bisa si share dan menjadi masukan bagi pemikiran baru ini, sebagai gambaran pemikiran beliau itu hampir sama apa yang diterapkan oleh kelompok Zapatista di Meksiko yaitu sebuah kelompok perlawanan bersenjata masyarakat adat Chiapas yang berperang melawan perjanjian pasar bebas di Meksiko tahun 1994 meski saat ini mereka tidak menggunakan senjata lagi dalam melakukan perlawanan dan menggunakan metode yang bisa jadi mirip dengan apa yang Holloway pikirkan.
Pertemuan alternatif ditutup dengan orasi yang dilakukan oleh Vandanan Shiva seorang tokoh feminis lingkungan dari India. Dan pertemuan ini pula tidak menghasilkan sebuah statement yang keras menentang G8 bahkan isu pertemuan alternatif tertutup oleh isu suksesnya blokade jalan oleh para aktivis gerakan sosial, karena pertemuan alternatif waktunya bersamaan dengan aksi blokade jalan untuk menghalangi rombongan delegasi dan logistic menuju Heiligendamm yang jaraknya 20 kilometer dari kota Rostock.

* Sukses Blokade G8
“Kami ingin memblokade akses jalan menuju Heiligendamm untuk menghadang para diplomat, translater, logistik, rombongan pimpinan negara, yang ingin menuju tempat pertemuan G8”. Inilah salah satu penggalan kata – kata dalam brosur kampanye blokade atau yang dikenal dengan Block G8, siapa saja bisa bergabung dengan aksi ini dan mengikuti aksi kolektif untuk blokade. Tujuan utama dari aksi blokade sebenarnya selain untuk menganggu jalannya rombongan yaitu sebagai simbol untuk mendelegitimasi G8 serta segera masyarakat sipil untuk mengatakan tidak kepada G8. Cukup banyak organisasi massa bergabung dan membentuk aliansi blok G8 ini antara lain kelompok gereja, radikal kiri, aktivis anti nuklir, aktivis lingkungan, serikat buruh, partai politik dan organisasi pemuda.
Berbagai kelompok tersebut telah lama dan banyak melakukan kampanye pelatihan kepada masyarakat umum serta aktivis gerakan yang ingin bergabung dalam aksi G8. Petunjuk – petunjuk untuk aksi blokade dan cara – cara taktik aksi blokade diberikan pada setiap latihan – latihan yang mereka lakukan, perlu diketahui bahwa aksi blokade sangat populer dikalangan aktivis anti nuklir yang sering melakukan aksi ini di berbagai tempat di Jerman dalam rangka menolak pembangunan pembangkit tenaga listrik tenaga nuklir beberapa tahun yang lalu. Sehingga tidak heran apabila aktivis anti nuklir paling banyak memberikan pelatihan kepada aktivis karena taktik dan pengalaman yang mereka alami jarang sekali yang gagal hal ini dapat terlihat dari cara – cara mereka melatih yang selalu menceritakan pengalaman mereka dan juga pemutaran film – film kesuksesan blokade.
Dalam aksi protes kali ini koalisi block G8 mempersiapkan secara matang taktik dan strategi blokade, tidak heran banyaknya selebaran, poster, buku kecil, dan informasi mengenai cara kita menghadapi blokade dan mengajak massa untuk bergabung. Informasi ini banyak dilakukan dalam kemah – kemah anti G8, kelompok – kelompok massa yang ada dalam aksi, dan individu yang ingin bergabung. Setiap hari sepanjang aksi anti G8 koalisi ini mengadakan pelatihan kepada para aktivis dan seluruh massa yang ada di kemah, pelatihan ini sama seperti yang mereka sempat lakukan diberbagai kota di Jerman sebelumnya. Banyak peserta dalam kemah yang tertarik untuk mengikuti latihan ini kebanyakkan dari mereka berasal dari luar Jerman terutama aktivis – aktivis dari luar negeri ( kebanyakkan dari sekitar eropa) tidak heran dalam setiap latihannya menggunakan berbagai bahasa seperti inggris, perancis, spanyol, Italia dan jerman sendiri.
Dalam latihan blokade diberikan instruksi untuk bagaimana menggunakan taktik aksi yang efektif dan berhasil mengelabui polisi, sebab dalam setiap aksi polisi Jerman memiliki prosedur untuk melakukan penangkapan maupun menghadapi aksi. Hal utama yang perlu dihadapi selama aksi blokade adalah tetap tenang dan jangan panic ketika polisi datang berusaha untuk menakuti dan membubarkan aksi blokade, posisi kita harus tetap duduk dengan santai dan jangan berbuat hal yang membuat rusuh meski terkadang polisi melakukan provokasi. Dipraktekkan pula bagaimana kita para demonstran yang sedang duduk diangkat oleh polisi secara satu persatu, tentu dalam latihan ini dibagi menjadi dua kelompok ada yang menjadi demonstran dan polisi. Latihan ini sangat efektif sehingga kita yang sudah mengikutinya akan bersemangat untuk langsung ikut kegiatan blokade. Satu hal yang paling penting dalam menghadapi aksi blokade kita berusaha untuk tidak membuat konfontasi terhadap polisi sebab hal ini akan melegalkan mereka untuk menangkap para demonstran dan aksi blokade akan berlangsung gagal.
Sistem massa atau organisasi yang berlaku dalam aksi blokade ini adalah membagi massa menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari beberapa kecil anggota sekitar 10 – 30an orang, kelompok ini dinamakan affinity group ( di indonesia sistem ini dikenal dengan per sel ) setiap sel group memiliki perwakilan di kelompok besar dalam koalisi block g8. Metode pemilihan perwakilan pun melalui diskusi dalam kelompok dan kemudian melakukan voting untuk memilih perwakilannya, maka itu apabila kita berada dilapangan pada saat aksi anti g8 ini akan terlihat para aktivis berjalan dengan grup – grup kecil. Siapa saja bisa bergabung dalam aksi blokade ini? Jawabannya semua orang bisa bergabung asalkan tidak rasis, seksis, fundamentalis, dan ikut pelatihan yang dibuat oleh koalisi. Untuk menemukan affinity grup para peserta individu akan mendapatkan kelompok pada saat mereka mendaftar dan mengikuti pelatihan, setelah itu affinity grup akan mendapat petunjuk setiap harinya dari para instruktur koalisi block g8.
Dalam aksi blokade di Heiligendamm kali ini diperkenalkan sebuah taktik baru, taktik ini menjadi bahan berita utama di berbagai koran lokal Jerman. Taktik tersebut dinamakan five finger ( lima jari ), yaitu petunjuk untuk melakukan penyebaran blokade dengan metode merenggakan kelima jari keatas ketika berhadapan dengan barikade polisi. Masing – masing jari memiliki arti warna sebuah bendera ketua regu, karena ketika kita berjalan bersama – sama menuju lokasi blokade para perwakilan affinity group akan diberi petunjuk berupa bendera berwarna warni yang itu merupakan simbol memecah barisan aksi untuk menipu barikade polisi. Karena pada saat aksi blokade para perwakilan affinity group akan dibriefing untuk ditentukan warna bendera yang harus diikuti dan untuk mengetahui bagaimana bendera itu diikuti taktik lima jari digunakan, masing – masing jari adalah warna dari bendera, sehingga ketika berhadapan dengan massa barisan akan berpencar menjadi lima barisan.
Pada tanggal 6 Juni 2007 aksi blokade G8 berlangsung, para aktivis blokade sudah melakukan persiapan lebih matang pada malam hari sebelumnya. Mereka antara lain ikut latihan, rapat koordinasi, dan panitia block G8 memberikan briefing bagaimana aksinya nanti. Malam sebelum hari H affinity group juga melakukan rapat dengan kelompoknya mereka membahas jalur yang akan dilewati oleh para aktivis blokade, persiapan yang serius ini terjadi di seluruh kemah anti G8 yang tersebar di tiga wilayah Roctosk.
Pada pagi yang cerah ketika aksi blokade dimulai para affinity group sudah mulai berkumpul di depan kemah mereka masing – masing, saat itu sekitar pukul 6 pagi mereka sudah mulai berjalan secara berkelompok dengan tujuan menuju titik sentral pertemuan mereka yang tersebar di beberapa wilayah. Dari titik sentral pertemuan ini kemudian seluruh affinity group berkumpul dan berjalan bersama menuju lokasi blokade, perlu diketahui jalan menuju lokasi blokade adalah persawahan dan peternakan yang sangat luas. Jadi ketika para aktivis selesai berkumpul di titik sentral mereka kemudian berjalan bersam –sama melewati rerumputan yang luas dan terkadang melewati tempat peternakan sapid dan kuda, ada empat wilayah titik sentral pada hari aksi blokade tersebut. empat wilayah blokade tersebut adalah : bandara udara Rostock laarge, Wittenbeck, Bad Doberan, dan Borgerende. Khusus di bandara Rostock laarge para aktivis tidak bergabung karena lokasi pertemuan berada di pusat kota, sedangkan aktivis yang menuju ke wilayah tiga wilayah diatas pada pukul 10 pagi menempuh perjalanan dengan halang rintang persawahan, ladang, perkampungan dan peternakan. Blokade di airport cukup berhasil menduduki jalan namun ketika rombongan kepala negara datang seperti Bush dan Putin datang polisi melakukan tindakan represif yang menyebabkan beberapa aktivis ditangkap, meski demikian semangat perlawanan untuk memblokade lokasi airport tetap ada. Sedangkan para aktivis yang berjalan menuju lokasi utama blokade di ketiga wilayah yang sudah ditentukan terus berupaya mencari celah agar perjalanan blokade mereka berhasil, sekitar 4 jam mereka melalui jalur – jalur yang penuh rintangan tersebut. Sampai pada akhirnya para aktivis blokade tersebut mendekati lokasi titik akhir blokade. Meskipun perjalanan cukup jauh akhirnya para aktivis ini tiba di ketiga wilayah tersebut, seperti di Bad Doberan dimana lokasi ini sangat dekat sekali dengan pagar pembatas kota Heiligendamm yang jaraknya hanya 3 kilometer dari lokasi mereka blokade. Setibanya mereka di lokasi tersebut polisi berusaha menghadang mereka dengan semprotan water canon terus menyemburkan kepada para demonstran, namun para aktivis tetap bertahan dan sembari duduk mereka berusaha tidak terpengaruh oleh air water canon tersebut. Kemudian polisi menyerah dan tidak melakukan penangkapan, hanya saja sempat terjadi provokasi yang dilakukan polisi dimana intel ( civil police ) membuat huru hara didalam massa demonstran blokade mereka melemparkan sesuatu kepada polisi untuk mengacaukan proses blokade sehingga melegalkan mereka melakukan tindakan kekerasan. Namun provokasi ini tidak berhasil sebab para aktivis sudah mengetahui ini karena kekuatan dari affinity group tersebut.
Di wilayah lain yaitu Borgerende hal yang sama juga dilakukan dan lokasi aksi di wilayah ini dipenuhi oleh padang rumput yang luasdan sebuah kampung kecil. Mereka menerapkan strategi five finger dengan cukup taktis dimana setelah mereka melakukan perjalanan sekitar 3 jam dari lichtenhagen ( tempat lokasi titik pusat pertemuan ) para aktivis ini dihadang oleh polisi dengan senjata lengkap dan diramaikan oleh terbang rendahnya helikopter dihadapan massa, namun strategi lima jari digunakan dan hamparan padang rumput yang luas menjadi lima jalur baru yang dibuat secara rapi oleh para aktivis. Hingga akhirnya mereka berhasil menduduki jalan raya di kampung tersebut bahkan warga disitu mendukung aksi blokade jalan tersebut dan memberikan makanan serta minuman kepada para aktivis blokade tersebut.
Aksi blokade G8 bisa dikatakan aksi paling berhasil dalam sepanjang aksi anti G8 sebelumnya, meski tidak seperti aksi Seattle namun proses keberangkatan para delegasi negara sempat terganggu dan para rombongan tersebut harus menggunakan helicopter ataupun kapal laut untuk berhasil mencapai Heiligendamm. Pagar pembatas yang dibangun jutaan euro meski tidak roboh namun para aktivis bisa mendekati dan menghadang pintu utama masuknya para delegasi ke lokasi pertemuan. Meski pertemuan G8 terus berjalan namun suara aktivis blokade ini perlu didengar dan diperhitungkan sebab suara mereka adalah mewakili suara di dunia ini yang termakan oleh jahatnya kapitalisme dan tidak adilnya globalisasi. Aksi blokade berlangsung lancar hingga akhir pertemuan G8 pada tanggal 8 Juni 2007.

* Analisis dan kritik
Aksi demonstrasi anti G8 tahun ini merupakan aksi protes yang kesekian kali dari para aktivis anti kapitalisme beberapa tahun ini, dan pada protes tahun ini gerakan sosial di Jerman telah cukup berhasil menerapkan metode blokade dalam rangkaian aksi utama mereka. Seluruh kegiatan masyarakat sipil pun sangat bervarian dan mempunyai karakteristiknya sendiri, bisa dikatakan proses gerakan sosial yang terjadi di Jerman selama aksi anti G8 tahun 2007 ini merupakan gambaran yang bisa dijadikan contoh bagi gerakan sosial di seluruh dunia. Institusi G8 secara garis besar haruslah dibubarkan sebab badan ini sama saja seperti IMF, BANK DUNIA, WTO yang hanya dikuasai oleh kaum kaya dan untuk kepentingan mereka namun secara esensial tidak memberikan keuntungan bagi kaum miskin di seluruh dunia. Mobilisasi massa secara konkret sangat dibutuhkan untuk membangun kesadaran massa akan ketidakadilan secara global ini dan untuk mengusir dominasi dari kekuatan capital yang telah menguasai seluruh dunia saat ini. Apa yang terlihat di Jerman merupakan hal nyata yang telah dilakukan bahkan pernyataan salah seorang organizer aksi dari ATTAC Bonn Oliver Pye yang mengatakan bahwa “dalam aksi blokade banyak diikuti juga oleh aktivis generasi baru” meski secara garis besar tidak tahu siapa saja mereka namun dari pernyataan ini terbukti bahwa massa yang tidak teorganisir atau spontanitas banyak yang bergabung. Dan saya yakin massa tersebut banyak berasal dari kaum muda atau mahasiswa yang saat ini hidup dalam cengkaraman besar dari kapitalisme sehingga membuat kamu muda di seluruh dunia harus tersiksa hidup dalam keadaan realita.
Secara umum juga bisa dikatakan para organisasi atau kelompok yang mengorganisir berbagai macam aksi, seminar, workshop, dan kegiatan – kegiatan menjelang dan selama aksi G8 berjalan lancar meski sempat mengalami sedikit gangguan ketika polisi Jerman melakukan sweeping terhadap tempat – tempat kumpulnya para aktivis dan flat – flatnya pada tanggal 9 Mei 2007.
Apa yang terjadi dalam aksi massa di Jerman ini hendaknya perlu diberikan penghargaan setinggi – tingginya, meski demikian mobilisasi besar – besaran untuk aksi menolak G8 ini tidak berhenti disini saja atau menjadi bahan jualan bagi politisi partai politik. Tetapi harus tetap dipertahankan dan dikembangkan ke seluruh dunia baik berupa isu ataupun taktik aksi seperti blokade agar gerakan sosial diseluruh dunia dapat memahami tujuan utama dari gerakan massa anti kapitalisme, terutama gerakan massa di dunia ketiga yang mempunyai potensi sama dalam kesadaran akan gerakan sosial hanya saja pengorganisasiannya harus lebih dikembangkan agar tidak menjadi monopoli sebagian kelompok borjuis, politisi, dan partai yang akhirnya menggeser isunya menjadi lebih kepada fundamentalis dan nasionalisme sempit.
Setelah aksi anti G8 ini apa yang bisa kita lakukan? Ini merupakan sebuah pertanyaan besar yang perlu jawaban yang besar pula. Sebab setelah sekian banyak aksi anti globalisasi di berbagai dunia terutama dalam merespon pertemuan – pertemuan para pemimpin industri kapitalisme selalu terjadi sedikit kebuntuan untuk mengarah aksi selanjutnya, paling tidak kembali ke tingkatan lokal di negaranya masing – masing untuk melanjutkan apa yang sudah terjadi pada aksi besar. Khusus untuk aktivis anti G8 di Jerman ini perlu dipikirkan rancangan agenda aksi kedepan baik ditingkatan lokal maupun regional, agar massa di Jerman dapat disadarkan dan tidak terjebak oleh permainan isu dari politisi borjuasi yang pro pasar. Suatu kritik besar juga saya sampaikan kepada pertemuan alternatif yang sama sekali tidak menghasilkan suatu resolusi konkrit terhadap massa maupun politik alternatif, pertemuan ini memang bagus untuk mengembangkan wacana kritis kita namun yang paling penting saat ini bagaimana gerakan sosial dapat berjalan secara kritis dan mempengaruhi kesadaran massa. Sehingga kedepan bagi kelompok yang ingin membuat suatu pertemuan alternatif haruslah secara konkrit menghasilkan keputusan atau resolusi yang jelas, tegas, dan kritis terhadap segala sesuatu isu yang ingin di responnya.

Monday, February 19, 2007

Realitas ala pasar bebas

Hidup dalam dunia yang semakin serba cepat saat ini harus dengan sangat selektif memilih waktu, ucapan tersebut dikatakan oleh seorang kolega saya pada saat kami berbicara di sela-sela waktu istirahat kampus. Pernyataan ini juga sering dikemukakan oleh beberapa orang ketika kita jenuh atau mencari topik pembicaraan sebagai bahan diskusi. Akhir-akhir ini secara individu mungkin sebagian dari kita carut marut dan kerja keras menghadapi realitas hidup yang semakin cepat dan dipaksa untuk mengikuti arus ini. Hampir seluruh kehidupan kita saat ini didominasi oleh kecepatan serta ketangkasan kita dalam melakukan perjuangan untuk survive hidup sebagai seorang manusia,tidak heran apabila kita lihat disekitar kehidupan kita sehari-hari banyak orang berjuang untuk dapat mempertahankan hidup, dengan bekerja keras dalam waktu yang tidak kenal lelah dan semua ini dilakukan demi memenuhi segala macam kebutuhan hidupnya. Sebab kebutuhan untuk memenuhi hidupnya makin meningkat di suatu era saat ini yang dimana konsumerisme sangat di jadikan oleh patokan ekonomi kapitalisme.
Secara sadar maupun tidak sadar bahwa kehidupan realitas yang seakan-akan terjadi saat ini kalau dilihat lebih dalam dan secara kritis maka akan terlihat terjadinya sebuah manipulasi maupun ilusi. Mengapa demikian? sebab apa yang kita lihat,dengar, rasakan disekitar kehidupan ini bisa jadi hanyalah kehidupan yang didominasi oleh rekayasa atau buatan ala monopoli kekuatan tertentu, apalagi karakter kehidupan disekitar kita sehari-hari dipenuhi oleh budaya latah atau ikut-ikutan dengan giat bergotong royong dalam kelompok-kelompok hobi, gang, arisan, keluarga feudal, dll. Banyak yang anggap hal – hal demikian merupakan sebuah realitas ataupun nyata didepan mata, namun sadarkah kita bahwa ini sebenarnya awal dari sebuah realitas rekayasa.

Realitas yang telah diciptakan dengan lebih dulu dilakukan pemetaan terhadap tren kehidupan dan karakter massa pada umumnya, apalagi karakter massa kita saat ini dalam posisi pasrah dan mengambang yang disebabkan oleh karena naiknya BBM, kebutuhan hidup yang meningkat, transisi perubahan yang dinodai oleh politisi korup, dll. Sehingga dari dasar itulah masyarakat saat ini pada umumnya pasrah dan nerimo dengan keadaan seperti ini. Dalam kondisi inilah masyarakat butuh sekali hiburan dan kegiatan yang dilakukan untuk mengisi kebosanan, tetapi bukan hanya sebuah hiburan melainkan juga sebuah kegiatan yang perlu dilakukan untuk menghapus kejenuhan kehidupan. Contoh hal-hal ini ialah dalam hiburan, masyarakat rela mengeluarkan cukup banyak uang untuk mengkonsumsi kebutuhan hidupnya baik yang penting maupun yang tidak seperti kegiatan makan dan nongkrong di café – café yang menyediakan suasana nyaman dilengkapi makanan kuliner dengan citarasa menakjubkan atau sekedar nongkrong makanan pinggir jalan sambil bercerita mengenai permasalahan kehidupan aktivitasnya. Pendeknya banyak hal yang dilakukan oleh masyarakat untuk mengisi waktu luang hidupnya yang selalu penat baik karena pekerjaan ataupun aktivitas lain, bahkan berbelanja pun bisa jadi salah satu pelariannya Berbelanja yang menurut seorang kolega saya merupakan suatu kebutuhan hiburan juga, seperti berbelanja pakaian, makanan, atau supermarket. Kesemuanya dianggap sebagai hiburan dari kejenuhan mereka sehari-hari dalam pekerjaan ataupun aktivitasnya.

Kejenuhan ini berhubungan dengan suatu kegiatan yang memakan waktu cukup padat dan ketat sehingga waktu-waktu kosong dijadikan hiburan bagi mereka. Kegiatan yang jenuh tersebut bisa kita lihat dari semakin padatnya jumlah jam kerja kantor bahkan hingga lembur begitu lama, menumpuknya jumlah kerjaan yang harus memakan deadline begitu cepat, belum lagi konflik-konflik di dalam kantor untuk mengejar kekuasaan seperti prilaku para politisi borjuis, hingga sibuk mencari pamor untuk promosi ke jenjang yang lebih tinggi di kantor. Intinya kegiatan yang padat tersebut tersedot hanya untuk mengejar keinginan mimpi kita apapun itu, kepadatan ini hampir sama dengan film asterix dan obelix ketika mereka membantu membangun istana bagi Cleopatra di Mesir dalam waktu 6 bulan. Namun sayangnya kegiatan kita sehari-hari ini tidak perlu memakai minuman ramuan ajaib agar kuat tetapi hanya butuh ketabahan kita dari berbagai serangan penyakit seperti tipus misalnya. Adapula orang yang melakukan kegiatan padat tersebut hanya untuk gengsinya biar dianggap tren atau diakui, adapula sebagai pelarian dari kepenatan hidup yang terjadi dalam rumah tangga sehingga harus menyalurkannya diluar rumah agar konflik terjadi bukan didalam rumah tetapi diluar rumah.



Kalau kegiatan dan hiburan diatas memiliki rantai yang berhubungan, maka perlu dicermati juga jenis kegiatan lain yang mungkin tidak berhubungan tetapi ada relasinya yaitu pengangguran resmi dan terselubung. Pada hakikatnya pengangguran terjadi bukan karena rakyat yang malas melainkan negara tidak memberi kesempatan yang luas bagi rakyatnya untuk bekerja, yang ini semua berdasarkan pada kesempatan bagi rakyat untuk mendapatkan pendidikan gratis dari TK,SD,SMP,SMA sampai Universitas tidak dimonopoli oleh kekuatan pengusaha dan swasta namun dikontrol sendiri oleh dewan pekerja pendidikan. Karena pekerjaan akan mudah didapat jika kesempatan kerja dan pendidikan dapat merata diciptakan. Kembali pada dua kegiatan pengangguran yang disebut tadi yaitu terselubung dan resmi, kalau pengannguran resmi biasanya kegiatan yang dilakukan lebih banyak mencari lamaran-lamaran pekerjaan. Sedangkan yang terselubung kegiatannya banyak dilakukan untuk survive mempertahankan hidup ataupun mengisi aktivitas seperti berkumpul-kumpul, menonton televisi, atau mencari proyek-proyek pragmatis dengan menongkrong di mal-mal dan hotel.
Fenomena lain lagi yang dapat kita lihat dalam alam realitas saat ini ialah polarisasi keluarga, banyak kita temui diberbagai tempat umum seperti mall, taman kota, dan berbagai tempat hiburan dapat terlihat banyak keluarga pergi bersama-sama untuk melakukan kegiatan hiburan. Kegiatan berkumpul tersebut tentu saja tidak dapat kita hindari dari mata kita sehari-hari ketika sedang berpapasan terlihat, mungkin saja keluarga menjadi salah satu tempat hiburan bagi sepasang suami istri melepaskan kelelahan dari kerja yang sangat padat setiap harinya. Namun mengapa saya menyebutnya polarisasi?? Jawabannya cukup simple, pernahkah anda semua membayangkan bahwa institusi keluarga bisa menjadi sumber awal dari tumbuh kembangnya Kapitalisme. Hal ini bisa dibuktikkan dari sistem yang berlaku dalam keluarga tersebut, saya beberapa waktu yang lalu mendengarkan siaran radio pagi hari di i radio ( salah satu radio yang selalu memutarkan lagu-lagu indonesia). Dalam siaran radio tersebut si penyiar sedang membahas tentang keluarga, salah seorang penyiarnya memberi ilustrasi bagaimana keluarga itu seperti sebuah perusahaan atau P.T. yaitu si suami sebagai direktur dan istri menjadi manajer, penyiar membahas ini mengenai pengaturan uang dalam keluarga. Apabila memang keluarga sebagai perusahaan maka bisa kita bayangkan apabila komunitas keluarga yang cukup banyak kita lihat disekitar kehidupan realitas sehari-hari itu adalah P.T atau perusahaan keluarga yang sedang melakukan tamasya, berarti bisa jadi kehidupan realitas kita adalah kehidupan yang telah dibentuk oleh sistem perusahaan itu.

Neoliberalisme dengan segala aturan –aturannya berusaha untuk menembus segala bentuk kehidupan mulai dari hal yang paling besar yaitu proses perdagangan bebas yang tidak mengenal batas negara dengan kemenangan kapitalisme, sampai yang paling kecil disekitar lingkungan kita. Kehidupan realitas disekitar kita saat ini bisa jadi adalah sebuah rekayasa untuk mewujudkan jalannya sistem ini. Sistem pasar yang mengandalkan pragmatisme uang untuk konsumerisme bukan kebutuhan, keutuhan keluarga dinilai dari segi perusahaan, kumpulan kelompok yang dilemahkan, pemerasan terhadap sistem kerja, kebudayaan pop yang didewakan. Nyaris sistem pasar bebas telah masuk dalam kehidupan nyata kita sehari – hari, maksud tulisan ini bukan untuk membuat kita menjadi orang yang menutup diri tetapi untuk lebih kritis terhadap lingkungan sekitar.

Pertanyaannya apa yang harus dilakukan?? Banyak hal bisa dilakukan dalam menghadapi sistem realitas pasar bebas yang makin mengakar ini, beberapa diantaranya ialah jiwa individu yang harus dibentengi dengan kuat. Artinya otonomi individu kita sebagai manusia harus lebih kokoh dan tidak terpengaruh oleh arahan ala pasar ini, kita harus bisa mewarnai situasi sekitar kita dengan pemikiran – pemikiran yang beda dan kritis namun penuh tanggung jawab. Tidak mudah terbawa arus polarisasi dalam kumpulan kelompok ataupun lingkungan kerja. Ini bukan sebuah tips namun alat penjaga bagi kemenangan hak – hak kita sebagai manusia sebab arus realitas disekitar kita sudah semu banyak yang mengklaim bahwa ini adalah realitas tapi kemudian pertanyaannya kenapa realitas yang ada sekarang juga hanya sebuah jargon dan mimpi….

Tuesday, January 02, 2007

IKLAN DAN BUDAYA KONSUMERISME


Pada abad 21 ini masyarakat di muka bumi tidak akan dapat bisa hidup tanpa hadirnya sebuah iklan. Kehadiran iklan di hampir setiap penjuru ruang dan tempat di bumi ini memancing manusia untuk dapat terus memburu sebuah produk yang di impikannya. Iklan selalu hadir di setiap tempat dimana pun kita berada, dimulai ketika sedang menonton televisi, ketika sedang berada dijalan raya dengan banyaknya billboard – billboard promosi, pada saat mendengarkan radio di mobil, membaca sebuah surat kabar, sampai kepada layanan promosi singkat melalui sms di handphone. Intinya kehidupan ini dipenuhi oleh berbagai macam bentuk promosi iklan.

Pembuat iklan tidak ada hentinya untuk terus menciptakan kreatifitas ini kehadapan masyarakat luas untuk memancing terus daya beli masyarakat yang haus akan sebuah konsumtifisme hidup, demi terciptanya jalan yang mulus bagi persaingan pasar. Derasnya arus iklan dalam era abad 21 ini membuat pola hidup masyarakat mengalami sebuah perubahan yang cukup besar, masyarakat kini sudah mengetahui produk apa yang disukai hanya sepintas atau sekilas melihat televisi atau pajangan iklan diberbagai ruang. Sehingga perkembangan iklan menjadi sebuah keterkaitan dengan budaya yang pada akhirnya menimbulkan sebuah permasalahan tersendiri, hal ini sempat dinyatakan oleh Yasmar Amir Piliang yang mengatakan “ Perkembangan iklan dan periklanan (Advertising) di dalam masyarakat konsumer dewasa ini telah memunculkan berbagai persoalan sosial dan kultural mengenai iklan, khususnya mengenai tanda (sign) yang digunakan, citra (image) yang ditampilkan, informasi yang disampaikan, makna yang diperoleh, serta bagaimana semuanya mempengaruhi persepsi, pemahaman, dan tingkah laku masyarakat” (Piliang, 2003).

Tampilan iklan yang disampaikan biasanya bisa berupa sebuah pengalaman realitas namun sering juga iklan menampilkan sebuah gambaran semu mengenai proses kehidupan yang ditampilkannya. Gambaran yang ingin diciptakan oleh iklan biasanya megandung nilai gaya hidup atau mempengaruhi sebuah budaya seperti bahasa – bahasa gaul, pola konsumsi masyarakat terhadap suatu barang, ataupun imajinasi masyarakat akan dampak dari sebuah produk yang telah diiklankan. Gambaran diatas hanyalah sebuah tampilan semu yang sebenarnya masyarakat tidak begitu menyadarinya, sehingga iklan seolah – olah dibawa dalam ruang nyata tetapi semu. Seperti yang diungkapkan oleh Yasmar Amir Piliang dalam bukunya Hipersemiotika yaitu “ iklan, seringkali menampilkan realitas yang tidak sesungguhnya dari sebuah produk. Iklan menampilkan realitas palsu. Dengan cara demikian, iklan telah melakukan sebuah kebohongan terhadap publik”.

Realitas palsu yang diciptakan iklan tidak dipungkiri saat ini sering terjadi dalam penayangan ataupun tampilan gambarnya diberbagai media mulai dari televisi hingga billboard. Hal ini dapat dibuktikkan dengan tidak originalitasnya tampilan iklan yang ditayangkan, biasanya iklan selalu tampil dengan latar belakang atau background yang fiktif dan alur cerita yang selalu mengada –ada. Kalaupun ada yang sesuai dengan realita, biasanya itu juga berdasarkan mass culture ( budaya massa) yang sedang terjadi saat itu.

Pada masa lalu mungkin iklan menjadi sebuah alat promosi bagi sebuah produk sehingga akan banyak konsumen yang memanfaatkan iklan, namun seiring dengan perkembangan jaman dan makin meningkatnya masyarakat yang melek teknologi dan televisi membuat iklan tidak hanya menjadi alat promosi tetapi juga menjadi bagian realitas kehidupan masyarakat. Iklan pada masa kini telah menjadi alat pengubah kebudayaan bukan hanya lagi sebagai alat promosi produk, kini iklan lebih sedikit menyampaikan soal produk secara langsung. Dan lebih banyak iklan berkutat dengan menyampaikan atau memparodikan iklan itu sendiri dengan mengutip iklan – iklan yang lain, dengan mengambil rujukan – rujukan dari budaya populer maupun dengan secara sadar memperjelas statusnya sebagai iklan.

Iklan – iklan saat ini lebih banyak berkutat dengan representasi – representasi kultural iklan daripada kualitas produk yang diiklankan yang dimiliki di dunia luar, sebuah kecenderungan untuk tetap bersentuhan dengan tumbangnya realitas yang diandaikan di dalam budaya populer. Tampilan iklan yang bergaya, kutipan – kutipan cerdasnya dari budaya maupun seni populer, cerita – cerita mininya, perhatiannya terhadap hal – hal yang bersifat permukaan, sindiran – sindiran yang penuh kelucuan dengan mengorbankan iklan itu sendiri, penyingkapan secara sadar akan sifat iklan sebagai konstruksi media, maupun pendaurulangan masa lalu secara terang – terangan, semuanya itu dapat dikatakan sebagai indikasi lahirnya postmodern dalam iklan televisi.

Tuesday, March 21, 2006

Usir neoliberalisme dari Indonesia

Akhirnya Indonesia yang diwakili pertamina melakukan kontrak kerjasama dengan perusahaan minyak pendukung perang Irak dan nanti Iran yaitu Exxon mobil, kerjasama ini dalam rangka eksploitasi minyak di blok Cepu ( jawa tengah). Tidak ada yang diuntungkan dari kerjasama ini meski di informasikan bahwa pemerintah pusat akan mendapat 85% hasilnya sedangkan pemerintah daerah 1%, namun saya tetap tidak akan yakin bahwa perjanjian ini akan meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitarnya. Pada konteks ini saya tidak akan membicarakan berapa hasil yang harus kita dapat namun lebih kepada pemaknaan ideologi neoliberalisme dibelakang perjanjian ini. Seperti yang telah dituliskan sebelumnya bahwa ideologi globalisasi saat ini lebih pada perkembangan dari pemikiran kapitalisme dengan memakai ide baru yaitu neoliberalisme. Ideologi neoliberalisme inilah yang saat ini ramai ditentang oleh orang-orang di Amerika Latin sebagai contoh Venezuela,Bolivia,Cuba yang secara jelas menolak ide ini kemudian di Amerika Serikat sendiri banyak pengamat ataupun kaum mudanya menentang ide neolib ini. Bahkan di Eropa tahun yang lalu berhasil menolak referendum konstitusi uni eropa yang isinya sarat dengan kepentingan neoliberalisme.


Apa sebenarnya neoliberalisme? Ialah sebuah pemikiran ekonomi yang mendukung kepentingan segelintir orang baik berupa perusahaan ataupun individu. Secara tidak ilmiah bisa dikatakan bahwa teori neoliberalisme ini adalah hak bagi individu atau perusahaan untuk mengelola usaha-usaha publik. Seperti yang terjadi saat ini di Indonesia banyak sektor public yang telah siap-siap di privatisasi ataupun dijual kepada pihak neoliberalisme. Ide ini pula bukan hanya milik global tetapi sudah berjalan mendunia maka tidak heran kalau saja pihak kita di lokal bisa menjadi agen dari paham ekonomi ini. Sistem ini sangat jelas tidak adil bagi dunia bagaimana tidak seluruh isi di bumi ini dapat di beli dan dijual oleh kepentingan individu, melalui kaki tangan mereka seperti badan-badan dunia sampai Negara-negara. Makanya kemarahan saya meningkat ketika perjanjian ini ditanda tangani, apakah mereka tidak berpikir bahwa permainan neoliberal dapat mematikan kita semua. Dengan adanya ini apakah harga BBM akan turun? Kesejahteraan rakyat bisa merata? Gaji pekerja akan naik? Listrik tidak naik? Dan pendidikan bisa gratis sampai universitas? Jawabannya sudah pasti akan tidak karena dari perkembangan kenaikkan dan penjualan aset Negara tidak ada satupun yang menguntungkan rakyat ataupun Negara.


Kaum politisi akhirnya memainkan isu perjanjian ini menjadi alat mereka bersilat lidah seakan-akan mereka heroik, sehingga bisa-bisa rakyat malah pro terhadap neliberal karena kepusingan mereka menghadapi pesilat lidah ini. Sementara aksi penolakannya pun kebanyakkan berbau sektarian yang menjurus kearah agama tertentu yang ujung-ujungnya kebebasan agama jadi hilang malah bisa-bisa kita menjadi totalitarian baru dengan bentuk agama. Karena negara-negara Arab yang sangat ketat aturan agamanya pun ternyata dibelakangnya didukung oleh modal besar. Jadi sebenarnya apa yang harus kita lakukan menghadapi derasnya arus neoliberalisme yang masuk ini, sebelumnya saya bisa dikatakan sepakat dengan berbagai pihak kalau menolak masuknya Exxon mobil. Hal yang harus berani kita lakukan sebenarnya adalah berani menasionalisasikan perusahaan minyak tersebut terutama pertamina dan serahkan pengelolaan pertamina ditangan pekerja jangan berikan kepada negara ataupun direkturnya, kemudian pekerja melakukan kontrol penuh terhadap pendapatan pertamina lalu mengaturnya secara demokrartis. Artinya jangan kasih kepercayaan pimpinan pertamina kepada direktur, pekerja harus berani mengaturnya sendiri karena saya yakin kecerdasan pekerja akan lebih dibandingkan direkturnya yang proses kenaikan jabatannya tidak berlangsung demokratis karena pekerja tidak diberi hak untuk memilih. Kepemimpinan perusahaan pertamina harus berbentuk seperti dewan yang terdiri dari beberapa orang dan dipilih oleh karyawan pertamina sendiri bukan dari negara ataupun intervensi lainnya. Lalu bagaimana dengan rakyatnya? Yaitu setelah dewan ini terbentuk maka secara otomatis perusahaan minyak yang ada di Indonesia yang saat ini dikelola oleh Exxon mobil,caltex,british petroleum,cevron Texaco segera diambil alih oleh pertamina dibawah kontrol dan kekuasaan pekerja kalau perlu pekerja di perusahaan minyak tersebut diatas ikut mengambil alih kontrol. Setelah itu barulah pembagian uang banyak disalurkan kepada sektor-sektor lain seperti pendidikan,kemiskinan,kesehatan, dan kesejahteraan. Intinya negara ini harus benar-benar dikelola oleh pekerja bukan politisi yang sebenarnya dibelakang mereka adalah kepentingan bisnis juga baik orang lokal ataupun global.


Sebelum perjanjian Exxon kita diramaikan juga oleh kasus pertambangan emas Freeport di Papua, ini menjadi besar ketika ribuan suku adat disekitar lembah tambang emas tersebut melakukan aksi pemblokiran di depan pintu masuk Freeport. Aksi yang sempat meluas ke jakarta itu dengan perusakkan kantor Freeport di plaza 89 tersebut merupakan bentuk kekecewaan terbesar dari rakyat papua atas ketidak adilan yang mereka terima selama ini. Sejak perusahaan ini berdiri tahun 1967 di papua dengan berbagai macam perjanjian keuntungan namun tetap saja rakyat papua tidak mendapatkan hasil yang memadai, bahkan pada masa Soeharto mereka dibungkam dengan diberikannya opsi Operasi Militer yang dimana kala itu papua di kuasai oleh militer dengan dalil membasmi gerakan pengacau keamanan ( istilah yang dipakai orde baru untuk melindungi kepentingan kapital ) hal ini dilakukan juga pada masa di Aceh selama puluhan tahun. Perlu diketahui masuknya Freeport ke papua tahun 1967 tidak lepas dari hasil pembunuhan terhadap jutaan orang yang dianggap komunis oleh pemerintahan orde baru di bawah kendali jenderal soeharto. Kita tahu peristiwa 65 yaitu terjadinya G 30 S setelah itu berlanjut dengan pembantaian massal terhadap orang yang dituduh komunis hingga penjatuhan soekarno hingga kemudian deras masuknya perusahaan-perusahaan kapitalisme Amerika seperti Exxon di Aceh dan Freeport di papua pada akhir tahun 1960-an akhirnya dengan dalil membantai komunisme kapitalisme Amerika tersebut masuk kedalam Indonesia. Maka kita dapat lihat pada pemerintahan soeharto perusahaan dari koporasi Amerika memenuhi etalase jendela Indonesia. Hal ini pula yang dilakukan soeharto yang bekerja sama dengan Amerika Serikat ketika menginvasi Timur-Timor yang dipaksakan menjadi bagian Indonesia pada tahun 1976 karena ketakutan Amerika Serikat akan bangkitnya kekuatan kiri di Asia Tenggara. jadi hubungannya dengan peristiwa Freeport ini ialah kekuatan kapitalisme Amerika Serikat di Indonesia sangatlah berpengaruh besar yang secara tidak langsung adanya hubungan dengan teori konspirasi yang mereka ciptakan di negeri ini. Adalah Freeport yang hingga saat ini menciptakan teori konspirasi untuk memiskinkan Papua dan membiarkan mereka hidup dengan keterbelakangan, hingga wajar dengan peristiwa beberapa hari lalu ketika mahasiswa dan rakyat papua marah hingga terjadi bentrokkan dengan polisi yang menyebabkan beberapa anggota polisi tewas. Namun sangat disayangkan ketika media meliput seakan-akan pembantaian itu hanya dilakukan oleh rakyat papua yang terkenal kejam padahal media sebenarnya tidak meliput kekejaman apa yang dilakukan para aparat terhadap para demonstran, sehingga saya melihat ada pola kesengajaan dari media yang ingin menyalahkan salah satu orang ataupun kelompok. Saya hanya melihat solusi terbaik adalah ambil alih Freeport ketangan rakyat papua untuk mereka kelola sendiri jangan berkata rasis terhadap mereka yang selama ini kita anggap bodoh,karena selama ini pola pikir kita telah disetting untuk merendahkan rakyat papua. Biarkan rakyat Papua menentukan nasibnya sendiri apalagi Freeport telah merugikan mereka bertahun-tahun dan pemerintah pusat Indonesia hanya memikirkan kerugian akan nama baik luar negeri dari segi investasi bukan kemanusiaan.


Kalau kita mau lihat bahwa kekuatan neoliberalisme di Indonesia masuk melalui berbagai macam cara, kasus Exxon dan Freeport hanyalah hasil final yang telah berhasil mereka capai. Namun kita juga harus mewaspadai agen-agen mereka di Indonesia, mereka bisa masuk melalui akademisi, pengusaha, ataupun pemerintahan. Dari akademisi kita bisa lihat dengan dibangunnya badan-badan bantuan seperti USAID, Ford foundation, rocketfeller foundation , ataupun badan-badan penelitian seperti CSIS, freedom institute dll. Melalui pengusaha ialah perusahaan-perusahaan korporat baik yang beskala kecil hingga besar mereka bisa masuk di segala sektor. Bahkan kini dalam bentuk media mereka juga menguasai yaitu melalui kerjasama seperti fox tv yang bekerjasama dengan antv, cnn bekerjasama dengan metro tv. Maka tidak heran apabila isu-isu yang dihembuskan oleh media saat ini sangat membiaskan kita untuk menontonnya, dimana tujuannya adalah agar proses korporat bergerak tidak terlihat oleh publik kita. Sedangkan pemerintahan tidak hanya kita yang menjadi kaki tangannya tapi juga melalui badan-badan seperti world bank,imf, wto, wef dll. Sehingga pemerintahan mau tidak mau suka tidak suka harus bekerjasama dengan mereka karena apabila tidak niscaya sanksi bisa jatuh kepada kita.


Akhirnya bisa kita simpulkan bahwa ternyata ekonomi neoliberalisme telah ada di Indonesia bahkan banyak yang kini berebut untuk menjadi agen mereka. Tidak heran kalau isu pornographi pun dihembus oleh neolib ataupun kapitalisme. Karena di balik konservatisme ternyata kekuatan kapital bermain hal ini dapat dibuktikkan di arab Saudi yang terkenal dengan syariat islam yang ketat namun apa dibalik itu semua si raja-raja minyak tetap menguasai ekonomi dan rakyat tetap terpuruk serta susah untuk hidup. Di Jakarta pun kita sekarang sedang diarahkan untuk menjadi pemuja neolib, dimana kita lihat ketika kampus mengeluarkan kebijakkan untuk mempintarkan mahasiswa tanpa memberi sense of social and critic, dewan kesenian dibentuk untuk mengumpulkan seniman agar tidak kritis, masyarakat dibagi-bagi dalam perkumpulan hobi, ruang-ruang publik dipagari bahkan esensi ruang publik adalah nongkrong di kafe yang mengarahkan kita ke konsumerisme, pekerja di beri kerjaan lebih sehingga sulit berpikir diluar kerjaan seperti bagaimana mereka berlibur,berdiskusi,membaca. Dan keluarga dipolarisasi sehingga patron ayah tetap menjadi ikon bahkan anak dijadikan alat kompetisi kebanggaan. Apa yang saya katakan ini merupakan realita kita yang perlahan-lahan diarahkan kepada neoliberalisme atau globalisasi ala mereka, kita harus sadar bahwa apabila sistem ini telah benar-benar masuk maka seluruh umat manusia di kita akan hancur. Bahkan yang lebih berbahaya ialah ketika kehidupan kita telah diatur oleh mereka, saya masih percaya bahwa perlawanan akan segera terjadi. Peristiwa yang saat ini terjadi di papua,perancis,palestina,irak,iran,Venezuela adalah bagian dari rentetan perlawanan mereka terhadap sistem globalisasi neoliberalisme. Usir neoliberalisme dari Indonesia dengan kekuatan rakyat dan pekerja menuju sistem keadilan bersama jadikan perlawanan di Indonesia menjadi inspirasi perlawanan di seluruh dunia……..

Wednesday, January 18, 2006

Suara massa dari Hongkong

Down-down WTO itulah slogan yang selalu terdengar di Victoria Park tempat para aktivis anti WTO berkumpul setiap hari dari tanggal 11 - 18 Desember 2005. Ribuan orang tiap harinya berkumpul di Taman Victoria ini untuk menyuarakan pendapatnya menolak pertemuan tingkat menteri WTO di Hongkong. Para aktivis yang terdiri dari petani, buruh migran, pemuda, akademisi,pekerja dan aktivis-aktivis masyarakat sipil dari seluruh dunia berdiskusi dan workshop di areal Victoria Park. Di luar areal Victoria Park ada juga yang setiap harinya melakukan aksi demonstrasi dengan berbagai macam slogan dan atribut guna menolak pertemuan WTO ini.

Pada hari pertama saya tiba yaitu tepatnya tanggal 11 Desember aksi yang berlangsung realtif di dominasi oleh buruh migran indonesia yang ada di Hongkong, dan demonstrasi pada tanggal ini lebih terlihat seperti karnaval karena hanya diramaikan oleh tari-tarian dan aneka boneka-boneka raksasa. Meskipun begitu slogan-slogan anti WTO terdengar di sepanjang jalan menuju kantor pusat pemerintahan Hongkong guna menyampaikan pendapatnya agar pertemuan WTO kali ini berjalan adil.

Esok harinya tanggal 12 Desember kegiatan di Victoria Park cukup banyak karena maklumlah pada tanggal ini konsentrasi aksi belum terlalu aktif hanya aksi-aksi kecil saja di sekitar lapangan. Pada tanggal ini pula para petani korea yang berjumlah ribuan orang baru saja berdatangan. seluruh media di Hongkong menyoroti kedatangan mereka karena mereka mengalami kesulitan masuk kedalam kota Hongkong walau begitu akhirnya mereka bisa memasuki kota ini.

13 Desember 2005 saya bangun sangat pagi sekali karena pada tanggal ini aksi dalam rangka menolak KTM VI WTO akan dimulai. Perjalanan dari Mongkok ( tempat saya menginap ) hingga Victoria Park memakan waktu 40 menit dengan MTR ( kereta underground ), pada hari ini suasan penjagaan ketat sangat terasa polisi berada di setiap jalan dan stasiun kereta bawah tanah. Ketika saya sampai di Victoria Park sangat terasa pula suasana perlawanan dari masyarakat sipil, ribuan orang sudah berkumpul dan masing-masing organisasi melakukan orasi memancing semangat demonstran. Pukul 2 siang massa mulai berjalan menuju Wanchai district tempat areal khusus untuk melakukan demonstrasi yang jaraknya kurang lebih 3 kilometer dari areal konferensi. Saya sendiri masuk dalam barisan Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia di Hongkong yang sepanjang jalan dari Victoria hingga Wanchai meneriakkan yel yel Junk-Junk WTO, aksi massa yang berjalan melalui jalur khusus yang disediakan untuk massa aksi. Diantara himpitan gedung-gedung tinggi kota Hongkong dan maraknya tempat perbelanjaan yang menyimbolkan kota ini sebagai kota pasar bebas massa aksi berjalan dan terus berteriak menolak pasar bebas sedangkan warga kota hongkong juga banyak yang memadati jalan sepanjang jalur aksi. Sesampainya kami di arel demonstrasi udara dingin sangat terasa maklumlah saat itu cuaca sekitar 16 derajat celcius namun militansi massa masih tetap ada. Hal ini di buktikkan ketika baru pertama kali kami sampai beberapa petani Korea selatan menyeburkan diri ke laut yang sudah dijaga ketat oleh polisi Hongkong bahkan mereka berusaha menerobos masuk ke areal konferensi yang kebetulan lokasinya di tepi laut / dermaga. Mereka meneriakkan slogan DOWN DOWN WTO bahkan salah satu seorang delegasi dari bangladesh dan masih lengkap dengan jasnya ikut juga menyeburkan diri ke laut serta berteriak no wto. Sambil berdiri berdesakkan menyaksikkan tingkah mereka hati saya berkata kita semua satu suara menolak ketidak adilan yang dilakukan oleh badan perdagangan dunia ini hingga pada akhirnya kita semua sebagai manusia hanya di korbankan sebagai tumbal mereka. Di sisi lain dari petani yang menyeburkan diri itu adapula yang melakukan bentrok dengan polisi Hongkong agar dapat menembus barikade mereka.

Ramainya massa tidak hanya pada hari pertama tetapi juga pada hari-hari berikutnya selama KTT WTO berlangsung, di areal taman Victoria belasan tenda dan juga puluhan tempat mulai dari kafe hingga kampus dijadikan tempat berdiskusi dan workshop. Tema-tema yang dibicarakan pun mengenai isu-isu yang ada dalam WTO ataupun juga informasi-informasi mengenai perjuangan para NGO dan masyarakat sipil di dalam KTT WTO. Saya sendiri selalu berada di Victoria Park dari pagi hingga malam setiap harinya, sebab selain mencari topik yang menarik saya juga tidak mau ketinggalan momen untuk ikut dalam massa aksi yang setiap hari berlangsung. Bahkan saya sempat mengikuti aksi para buruh migran di Hongkong yang melakukan aksi keliling ke konsulat konsulat negara di kota Hongkong seperti konsulat Indonesia,Konsulat Malaysia,Konsulat Filipina,Konsulat Nepal,konsulat Thailand dan Konsulat Amerika Serikat mereka melakukan aksi dalam rangka menuntut hak-hak pekerja buruh migran mendapatkan servis yang layak kepada negaranya. Kembali kita ke areal workshop di taman Victoria yang begitu banyak isu mengingatkan saya kepada World Social Forum yang pernah saya ikuti di Mumbai,India tahun 2004 yang lalu. Dimana saya menemukan isu-isu yang unik dari mulai perdagangan bebas, kemiskinan,perempuan sampai kepada isu mengenai sms power sebuah kelompok yang ingin organisir gerakan sms. Semua orang disini dapat membebaskan ekspresinya dari mulai suara hingga seni seakan ruang publik disini benar-benar terjamin tidak seperti di Indonesia dimana kebebasan berpikir dan ekspresi mulai di perketat seakan-akan sesuai keinginan Neo Liberalisme. Yang jelas hari-hari selama berlangungnya WTO taman Victoria seakan menyambut hadirnya para aktivis anti globalisasi dari seluruh dunia untuk menyadarkan kota Hongkong ini agar terbuka akan demokrasinya dan juga berlaku adillah kepada kaum miskin yang ternyata cukup banyak juga di wilayah ini.

Hari-hari akhir terakhir menjelang berakhirnya konferensi WTO aksi-aski massa semakin militan, hal ini pula yang saya alami dan tidak akan terlupakan ketika kami bersama-sama massa aksi mendekati gedung pertemuan yang jaraknya hanya sekitar 100 meter dan kami menembus barikade daerah terlarang. Aksi ini terjadi pada tanggal 17 Desember ketika itu semenjak siang hari suasana lapangan Victoria sudah dipadati demnstran untuk melakukan aksi saat itu saya tidak tahu kalau ternyata rute aksi dilakukan di berbagai arah yang biasanya satu arah. Saya mengikuti rute seperti biasa dan memang hanya sedikit orang yang ikut rute ini ternyata di jalan-jalan kota Hongkong mereka berpisah dan mencoba provokasi menembus barikade yang telah dibuat oleh polisi. Sedangkan di massa yang saya ikuti bentrokpun tidak dapat dihindari para demonstran yang kebanyakkan petani korea selatan ini melemparkan kearah polisi rantai bahkan memukul mereka dengan tongkat-tongkat bendera, semprotan merica yang sangat perih itu tidak menyulutkan mereka untuk terus mencoba menembud barikade polisi yang terlihat sangat berlapis. Sedangkan luar areal saya melakukan aksi mereka telah menembus barikade polisi dan mendekati ke arah areal konferensi. Kemudian kami pun berpindah tempat dan bergabung dengan mereka kalian dapat bayangkan para aktivis ini berlari bersama-sama sambil meneriakkan slogan down-down WTO, kita bertemu di tengah jalan dan menuju areal terdekat konferensi. Mereka menyeberangi jalan highway di kota Hongkong melompati pagar jalan dan langung mendekati lokasi konferensi yang telah disiap siagakan pasukan polisi lengkap dengan mobil pansernya. Tanpa basa basi sore itu sekitar pukul 7 malam barisan massa langsung memukuli mereka dengan tongkat,pagar pembatas,rante, bahkan massa membentuk pagar pembatas segitiga dan diikat kemudian secara beramai-ramai didorong kearah polisi. Semprotan merica yang mengenai muka kami sangatlah pedas sekali-kali saya melihat para demonstran ini meminta air untuk menghilangkan rasa perih, terlihat di barisan ini Walden Bello ( Pemikir Anti Globalisasi ),Susan Goerge ( Pemikir Anti Globalisasi ) dan Jose Bove ( Petani militan dari Perancis ) mereka hanya berada di barisan massa ikut bergandengan tangan bersama massa. Bentrokkan menjadi besar ketika dari belakang datang kembali massa yang berjumlah ratusan kemudian memecah konsentrasi aparat dengan melakukan bentrok di titik lain sehingga apa yang terjadi karena polisi sudah tidak kuat mereka menembakkan Gas airmata, maka para massa aksi berlarian gas airmata yang dikeluarkan polisi Hongkong ini termasuk gas yang cukup keras karena membuat sesak nafas hal ini ingatkan saya akan tragedi semanggi. Berawal dari sinilah 900 aktivis ditangkap termasuk 23 dari indonesia mereka semua ditangkap ketika sehabis gas airmata dikeluarkan sekitar pukul 9 malam menduduki jalan highway tersebut sebagai simbol agar mereka dapat memasuki areal konferensi itu didalam sendiri info yang saya dapat sempat panik karena ulah kami para massa ini. Esok harinya tanggal 18 Desember aksi penutupan yang intinya hampir sama seperti hari pertama namun lebih terlihat damai dan diwarnai dengan isu bebaskan para aktivis yang ditangkap selama demo anti WTO. Sebab penangkapan yang dilakukan sangatlah melanggar prinsip-prinsip demokrasi bahkan kawan saya yang kebetulan warga Hongkong sendiri mengatakan bahwa tindakan ini adalah fasis, secara pribadi saya juga menyatakan mengutuk keras penangkapan atas para aktivis ini yang ternyata modal adalah segalanya bagi para aparat keamanan. Meski pada awal Januari ini semua sudah dibebaskan berkat tekanan internasional yang juga cukup menguat.

Itulah sekilas pandangan mata saya mengenai apa saja yang terjadi dalam aksi-aksi menolak WTO, mungkin kawan-kawan semua bertanya untuk apa semua ini dan mengapa mereka berkumpul dan berdemonstrasi hingga jauh-jauh dari negerinya. Hal ini dilakukan sebab sistem dunia sekarang ini telah dikuasai oleh bisnis bukan oleh publik yang menyebabkan banyak kerugian yang dialami masyarakat umum. Kita mungkin tidak sadar ketika saat ini rutinitas yang selama ini kita lakukan ternyata adalah rekayasa dari modal agar pasar bebas yang berjalan dapat lancar, karena pekerja dan masyarakat umum adalah korban paling dirugikan dalam hal ini. Masalah ini sama diseluruh dunia jadi hiraukan jika ada yang mengatakan bahwa beda dengan negara kita, semua memiliki kesamaan ketika hak-hak publik di bisniskan dan celakanya ini bukan dilakukan oleh kapitalisme global saja melainkan para kapitalis lokal pun ikut-ikutan. Maka jangan heran permasalahan yang tidak kunjung selesai di Indonesia karena ulah kapitalis-kapitalis lokal yang lebih celaka lagi saat ini bekerja sama dengan kapitalis global. Saya teringat kepada salah seorang aktivis dari kanada yang kebetulan ikut dalam barisam massa aksi ia mengatakan bahwa jangan berpikir kemiskinan cuma berlangsung di negara dunia ketiga tetapi dinegara maju pun terdapat kemiskinan, bahkan seorang aktivis dari inggris mengatakan kepada saya bahwa hidup di inggris sekarang juga lebih berat karena dijualnya fasilitas publik kepada bisnis seperti Universitas,Rumah Sakit, Transportasi dan pelayanan umum lainnya. Kalau di Indonesia dampak WTO dapat dirasakan dengan di bisniskannya Air,Listrik,Rumah sakit dan Sekolah yang menyebabkan kemiskinan semakin merajalela. Alasan itulah yang menyebabkan kenapa saya berangkat untuk ikut demonstrasi anti WTO itu karena apabila saya akan berkeluarga ataupun hidup nanti akan dihadapi oleh kebutuhan yang mahal dan hasil kerja yang sangat kecil semuanya bahkan tidak hanya akan dialami oleh saya namun semua masyarakat yang akhirnya negara hanya menjadi penampung modal dan nasiolisme hanya retorika bagi kaum kapitalis. Sementara bagi dunia ini sangatlah penting agar bisnis yang berjalan berkeliling dunia ini haruslah pro terhadap pembangunan jangan hanya memikirkan pasar bebas dan profit yang di dapat. WTO adalah sumber dari malapetaka dunia ini dimana pembagunan yang dianut oleh organisasi ini hanyalah pembangunan yang diarahkan ke arah neo liberalisme kemudian menjadi kan negara kearah konsumerisme yang menyebabkan korupsi semakin tinggi. Sehabis Hongkong perjuangan kembali dilakukan dimasing-masing negara demi untuk terwujudnya keadilan dunia dan menyuarakan suara rakyat miskin agar dunia ini tidak untuk di perjualbelikan.

Menulis Dengan Rasa

Menulis dengan rasa, inilah behind the scene dari proses menulis opini untuk Harian Kompas yang terbit (27/05/23).  Pagi itu saya sehabis la...