Jumat, 25 November 2011 ribuan orang rela mengantri berdesak-desakan hanya untuk peluncuran sebuah produk telepon pintar Blackberry. Hari itu banyak orang pingsan dan beberapa diantaranya patah tulang, kejadian ini merupakan bagian dari ritual masyarakat sekarang yang sedang demam berkonsumsi.
Masyarakat yang mencari identitasnya dengan mengkonsumsi sebuah benda kemudian mencari referensinya melalui iklan-iklan yang terpampang dalam billboard, majalah, Koran, serta media elektronik. Dengan demikian iklan seperti penyampai pesan berantai yang pesannya begitu cepat diterima massa untuk kemudian cepat pula massa melalukan ritual konsumsinya. Namun kejadian diatas membuat iklan berada pada posisi yang sangat ironis karena dampak dari pesannya menyebabkan sebuah tragedi dan menyebabkan kecelakaan.
Periklanan merupakan bagian dari bentuk komunikasi pemasaran yang setiap pesannya bertujuan untuk memperkenalkan atau mendekatkan suatu produknya kepada masyarakat. Pesatnya perkembanghan industri media dan derasnya produk-produk konsumsi luar negeri yang membanjiri Indonesia saat ini membuat dunia periklanan dituntut lebih kreatif lagi dalam menciptakan image suatu produk. Sehingga kondisi demikian sangat dibutuhkan oleh massa yang saat ini sedang memandang identitas sosialnya dengan berkonsumsi produk-produk yang berlabelkan global dan modern. Meningkatnya jumlah masyarakat yang berkonsumsi saat ini sangat erat kaitannya dengan proses ekonomi politik Globalisasi yang sedang berproses dalam pusaran dunia saat ini. Di mana dalam proses tersebut untuk mempertahankan kondisi perekonomian suatu negara maka diperlukan daya konsumsi yang kuat dari masyarakatnya, hal inilah yang terjadi pada kondisi sekarang ketika daya beli masyarakat dimanfaatkan oleh produsen untuk melanggengkan konsumerisme. Kemudian media massa dalam hal ini iklan menggunakan situasi ini untuk merangsang pola pikir masyarakat agar terus mengkonsumsi suatu produk dan tidak hanya itu saja tetapi menciptakan suatu fenomena histeria karena massa menjadikan suatu produk sebagai berhalanya dengan menganggungkan sebuah label atau brand dari produk tertentu. Keadaan inilah yang menjadi fenomena bagi sebagian masyarakat terutama di wilayah perkotaan, ketika identitas global tercerminkan dengan produk-produk modern dan global apa yang mereka kenakan. Sehingga membuat suatu pandangan bahwa ukuran untuk menjadi masyarakat global adalah dengan mengkonsumsi suatu produk.
Fenomena histeria massa yang terjadi dalam antrian untuk mendapatkan produk Blackberry merupakan sebuah suatu ironi bagi negeri ini ketika masyarakat berada dalam suatu kebimbangan akibat ulah para elitnya yang tidak berhasil memberikan contoh teladan dan sibuk dengan pertarungan untuk kepentingan dirinya beserta politiknya. Masyarakat kemudian mencari ruang yang dapat memenuhi kenyamanan dalam kehidupannya, di mana rutinitas sehari-harinya terasa tidak mendapatkan imbalan berarti dari para pemangku kebijakan sehingga melalui berkonsumsilah salah satu caranya. Konsumsi merupakan hak bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya namun apabila telah menjadi sebuah ritual yang melebihi dari kebutuhannya maka sifatnya berubah menjadi konsumerisme dan iklan menjadi alat bagi pendukung tradisi tersebut.
Iklan merupakan bentuk promosi yang paling efektif untuk menyebarkan suatu produk kepada masyarakat dan sekaligus menciptakan suatu brand yang sekiranya dapat mengena dalam pikiran manusia. Dengan dorongan iklan inilah maka suatu produk dapat dikenal atau melekat dengan masyarakat sehingga mendorong massa untuk mengkonsumsi produknya tersebut. Namun iklan sendiri tidak hanya memiliki fungsi untuk menjual suatu produk kepada kita tetapi menciptakan suatu struktur – struktur makna. Perwujudan struktur makna tersebut yaitu dengan cara mengemas iklan tersebut bermakna sesuatu bagi kita dan sebuah makna tersebut berhubungan dengan sebuah ideologi di mana ketika sebuah iklan berbicara kepada kita. Judith Williamson dalam bukunya Decoding Advertisement menyatakan bahwa “ ketika sebuah iklan berbicara kepada kita, kita secara serentak menciptakan pembicaraan tersebut (yang berarti ditujukan kepada kita), dan kita diciptakan olehnya sebagai pencipta-penciptanya (iklan berasumsi bahwa itu ditujukan kepada kita) sehingga kita dibentuk oleh iklan itu sebagai penerima aktif” (Williamson, 2001:51). Ideologi sendiri berperan hadir dalam menghubungkan makna suatu produk, sehingga masyarakat secara tidak sadar telah menjadi korban dari bujuk rayuan sebuah industri pasar yang menjadikan massa hanya sebagai komoditas bagi produknya.
Kehadiran massa yang begitu antusias demi memuja konsumerisme seperti yang terjadi dalam antrian untuk mendapatkan produk telepon pintar tersebut merupakan keberhasilan dari iklan yang menghipnotis massa dari kesadarannya. Produk Blackberry sendiri merupakan satu rangkaian dari ideologi pasar bebas atau neoliberalisme yang menggunakan beragam cara untuk terus meraup keuntungan demi segelintir orang kemudian memanfaatkan massa untuk menjadi pendukungnya. Kalau sudah seperti ini sangatlah ironi bagi dunia periklanan karena apa yang mereka promosikan kemudian menjadi suatu malapetaka, iklan yang hanya menjual image atau brand suatu produk tidak memiliki daya mengontrol efek dari promosinya. Sementara masyarakat akhirnya memanfaatkan iklan sebagai pelarian dari ketidakjelasan negara dalam menghadapi globalisasi neoliberal tersebut karena dengan cara persuasif ini iklan lebih dipercaya oleh masyarakat sebagai kita suci identitasnya. Semoga dengan kejadian antrian untuk mendapatkan Blackberry tersebut menjadi bahan refleksi untuk kita semua bahwa konsumerisme telah menjadi bahaya laten nasional.
Tuesday, December 27, 2011
Thursday, February 10, 2011
Refleksi untuk pemuda
Kaum muda menghadapi tantangan yang begitu dinamis pada masa-masa kedepan. Di mana kita ketahui dunia saat ini telah terintegrasi dalam suatu tatanan yang menyatu, kita lihat bagaimana kehidupan sosial, politik, budaya dan ekonomi telah terhubung satu sama lain lintas internasional melalui beragam bentuk. Dunia sudah terglobalkan berkat kemajuan dan kecanggihan di segala bidang, banyak yang menyebutnya sebagai era Globalisasi.
Sebuah era yang mengintegrasikan kehidupan manusia dalam bentuk jaringan, melalui jaringan-jaringan tersebut kita dapat bertukar pikiran, berpendapat, berinteraksi dan lain sebagainya.
Namun di balik terglobalkannya dunia tersebut kita juga menghadapi realitas kehidupan yang semakin kompleks. Bangkitnya fundamentalisme, konflik etnis, pemanasan global, kesenjangan sosial, kemiskinan, dan identitas budaya. permasalahan tersebut merupakan tantangan buat kaum muda saat ini dan harus mempunyai solusinya secara lintas sektoral.
Untuk itu peran kaum muda sangatlah penting dalam menentukan arah perubahan dunia tersebut. Sekecil apapun yang kita kerjakan dan lakukan dalam masa-masa sekarang ini akan menentukan arah perubahan dunia tersebut. Apapun bentuknya itu mulai dari tingkatan domestik, lokal, nasional, regional, hingga internasional akan menjadi bagian dari penentu arah perubahan dunia ini.
Sebagai akhir kata, suatu pertanyaan untuk kita semua yaitu dimanakah posisi kita?….
Meistra Budiasa
Januari 2011
Sebuah era yang mengintegrasikan kehidupan manusia dalam bentuk jaringan, melalui jaringan-jaringan tersebut kita dapat bertukar pikiran, berpendapat, berinteraksi dan lain sebagainya.
Namun di balik terglobalkannya dunia tersebut kita juga menghadapi realitas kehidupan yang semakin kompleks. Bangkitnya fundamentalisme, konflik etnis, pemanasan global, kesenjangan sosial, kemiskinan, dan identitas budaya. permasalahan tersebut merupakan tantangan buat kaum muda saat ini dan harus mempunyai solusinya secara lintas sektoral.
Untuk itu peran kaum muda sangatlah penting dalam menentukan arah perubahan dunia tersebut. Sekecil apapun yang kita kerjakan dan lakukan dalam masa-masa sekarang ini akan menentukan arah perubahan dunia tersebut. Apapun bentuknya itu mulai dari tingkatan domestik, lokal, nasional, regional, hingga internasional akan menjadi bagian dari penentu arah perubahan dunia ini.
Sebagai akhir kata, suatu pertanyaan untuk kita semua yaitu dimanakah posisi kita?….
Meistra Budiasa
Januari 2011
Friday, January 07, 2011
Puisi bising dan hening
Malam ini aku sedang tersanjung oleh suara hening
Sebuah suara yang nampak halus tak terdengar
Menatap indahnya kehidupan
Hangatnya hati
Aku tertunduk dalam intropeksi
Merefleksikan kerasnya jiwa
Matinya hati
Marahnya diri
Tiba-tiba terdengar suara gaduh
Telingaku terasa bising
Seperti bisingnya para politisi
Yang mengoceh saat hening
Tiba-tiba aku terganggu oleh suara tetangga
Yang bertengkar akibat sang istri dan suami berbeda pendapat
Anak-anak pun ikutan gaduh
Mereka bermain seakan-akan ada senang
Bising...semakin hari semakin bising
Kulihat lacar kaya, kerta koran, sampai layar monitor
Semuanya hanya kebisingan yang aku dapat
Berisik...Berisik...Berisik
Tetapi kemudian aku kembali menemukan hening
Hatiku kembali tenang serasa sepi menyapa
Namun terdengar lagi suara itu
Aku kemudian terkaget
Dan melihat ternyata ada bising menyapaku
Jakarta, 02.30 WIB
Sebuah suara yang nampak halus tak terdengar
Menatap indahnya kehidupan
Hangatnya hati
Aku tertunduk dalam intropeksi
Merefleksikan kerasnya jiwa
Matinya hati
Marahnya diri
Tiba-tiba terdengar suara gaduh
Telingaku terasa bising
Seperti bisingnya para politisi
Yang mengoceh saat hening
Tiba-tiba aku terganggu oleh suara tetangga
Yang bertengkar akibat sang istri dan suami berbeda pendapat
Anak-anak pun ikutan gaduh
Mereka bermain seakan-akan ada senang
Bising...semakin hari semakin bising
Kulihat lacar kaya, kerta koran, sampai layar monitor
Semuanya hanya kebisingan yang aku dapat
Berisik...Berisik...Berisik
Tetapi kemudian aku kembali menemukan hening
Hatiku kembali tenang serasa sepi menyapa
Namun terdengar lagi suara itu
Aku kemudian terkaget
Dan melihat ternyata ada bising menyapaku
Jakarta, 02.30 WIB
Tuesday, January 04, 2011
Berhala Pasar Bebas
Hangatnya kebersamaan menyebar dalam kehidupan
Realitas menjadi warna kehidupan
Manusia hidup berdampingan...
Dan ketika pasar bebas masuk didalamnya
Kehidupan tlah berubah
Kita bisa saling membunuh karena persaingan
Menjadi penjahat dalam hubungan sosial
Menjadi setan dalam malaikat
Menjadi tamak dalam bijak
Kompetisi...Kompetisi...Kompetisi
Kita dipacu seperti binatang jalang
Yang dipecut hingga terluka
Luka yang disenangi oleh penguasa
Uang dan status menjadi berhala
Manusia dijadikan persembahan
Untuk kepuasan kaum kaya
Hidup kita kemudian menjadi permainan
Permainan yang dimainkan oleh si kaya
Realitas menjadi warna kehidupan
Manusia hidup berdampingan...
Dan ketika pasar bebas masuk didalamnya
Kehidupan tlah berubah
Kita bisa saling membunuh karena persaingan
Menjadi penjahat dalam hubungan sosial
Menjadi setan dalam malaikat
Menjadi tamak dalam bijak
Kompetisi...Kompetisi...Kompetisi
Kita dipacu seperti binatang jalang
Yang dipecut hingga terluka
Luka yang disenangi oleh penguasa
Uang dan status menjadi berhala
Manusia dijadikan persembahan
Untuk kepuasan kaum kaya
Hidup kita kemudian menjadi permainan
Permainan yang dimainkan oleh si kaya
Tuesday, August 03, 2010
Puisi Ruang
Terasa sempit aku disini
Semua terkunci dalam sunyi
Aku takut melihat tembok
Aku takut melihat pintu
Setiap sudut mengawasiku
Aku menunduk, tak mau melihat
Bebaskan aku dari sini
Ruang Ruang Ruang....aku membutukannya
Bukan bukan ruangan ini yang aku mau
Ruang yang pengap, sunyi, gelap, dan sesat
Meski ruangan itu ramai oleh semut dan serangga
Tapi mereka menggigitku....
-M- 3810
Semua terkunci dalam sunyi
Aku takut melihat tembok
Aku takut melihat pintu
Setiap sudut mengawasiku
Aku menunduk, tak mau melihat
Bebaskan aku dari sini
Ruang Ruang Ruang....aku membutukannya
Bukan bukan ruangan ini yang aku mau
Ruang yang pengap, sunyi, gelap, dan sesat
Meski ruangan itu ramai oleh semut dan serangga
Tapi mereka menggigitku....
-M- 3810
Monday, August 02, 2010
Puisi suara debu
Suara - suara itu semakin keras
Berteriak satu sama lain
Nyaring nyaring terasa menganggu
Angin membawanya hingga larut dalam debu
Semua sibuk mencari debu-debu itu
Mengendus, mencium, menjilat, meraba...
Semua sia-sia karena suara telah hilang dalam debu
Butiran debu semakin menyatu dengan tanah
Tak disangka badai datang
Dengan cepatnya debu itu menghantam semua yang bisa dihantam
Porak poranda tak ada sisa, hancur hancur menjadi debu kembali
Mungkinkah debu itu adalah suara yang telah menyatu dengan tanah?
Terlalu lama suara menyatu dengan debu
Butirannya bersinar seakan ada suara disana
Tapi ini hanya debu...debu yang terbuat dari suara
Suara dari semua suara yang selalu terdengar
Berteriak satu sama lain
Nyaring nyaring terasa menganggu
Angin membawanya hingga larut dalam debu
Semua sibuk mencari debu-debu itu
Mengendus, mencium, menjilat, meraba...
Semua sia-sia karena suara telah hilang dalam debu
Butiran debu semakin menyatu dengan tanah
Tak disangka badai datang
Dengan cepatnya debu itu menghantam semua yang bisa dihantam
Porak poranda tak ada sisa, hancur hancur menjadi debu kembali
Mungkinkah debu itu adalah suara yang telah menyatu dengan tanah?
Terlalu lama suara menyatu dengan debu
Butirannya bersinar seakan ada suara disana
Tapi ini hanya debu...debu yang terbuat dari suara
Suara dari semua suara yang selalu terdengar
Wednesday, April 28, 2010
Ada apa dengan Forum Sosial Dunia?
Forum Sosial Dunia atau World Social Forum adalah sebuah forum yang dibentuk untuk menampung para pengkritik globalisasi, kapitalisme, rasisme dan keadilan dunia. Selain itu forum ini pula sebagai tandingan dari pertemuan ekonomi dunia yang diadakan setiap tahun di mana para ekonom, pemimpin Negara dan pengusaha berkumpul untuk membahas agenda ekonomi. Untuk menandingi dan pertemuan ekonomi tersebut maka para aktivis anti globalisasi membuat FSD dengan membahas berbagai isu mengenai keadilan global khususnya kritik terhadap sistem Globalisasi yang cenderung ke arah Neoliberalisme. Pada pertemuan ini para aktivis dari seluruh dunia baik itu NGO, kelompok kiri, politisi, akademisi bersama dengan masyarakat sipil membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan system alternatif globalisasi.
Pada tahun 2001 pertemuan ini merupakan forum yang pertama kali diadakan beberapa tokoh utama dalam mengkritisi kebijakan Globalisasi seperti Susan George, Noam Chosmky, Walden Bello merupakan salah satu tokoh dari pelopor FSD. Pada pertemuan pertama ini lahirlah sebuah prinsip-prinsip dasar perjuangan FSD yang pada kalimat pembukanya tertulis bahwa forum ini adalah tempat yang demokratis serta terbuka masyarakat sipil untuk saling bertukar pikiran dan informasi guna melawan kapitalisme dan globalisasi. Melalui pertemuan ini pula para aktivis dan pemikir dari seluruh dunia membuat agenda untuk rencana aksi selama satu tahun untuk konsolidasi gerakan sosial. Forum Sosial Dunia hanya memiliki mandat menyatukan dan membangun jaringan dari organisasi dan gerakan masyarakat sipil dari semua negeri di seluruh dunia,namun tidak berniat menjadi sebuah badan yang mewakili masyarakat
sipil dunia begitu menurut salah satu prinsip dasar pertemuan ini. Dari prinsip inilah maka kemudian pertemuan ini memiliki tujuan dan arah untuk membuat agenda aksi-aksi sosial untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan neoliberalisme di suatu Negara. Tidak hanya itu dari prinsip ini lahirlah sebuah jaringan internasional untuk kemudian membuat aksi bersama secara global dan juga penyebaran forum sosial hingga ke wilayah-wilayah lokal. Organisasi yang bergabung kedalam pertemuan ini bersifat terbuka dari berbagai aliran politik dan memiliki isu-isu yang sektoral sehingga banyak pernyataan dari FSD tidak begitu tersentral melainkan akan banyak sekali hasil statemen yang didapat dari pertemuan ini.
Pertemuan FSD sendiri sudah berlangsung selama kurum waktu 8 tahun dan beberapa Negara telah menjadi tuan rumah dari pertemuan akbar aktivis sosial tersebut. Tahun 2001-2003 forum ini diadakan di Brazil sedangkan pada tahun 2004 giliran Mumbai, India sebagai tuan rumahnya, kemudian Venezuela, Kenya, dan Mali. Dari semua pertemuan tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi maupun aksi secara langsung seperti demonstrasi menentang perang Irak secara global dan pembuatan forum-forum alternatif di setiap pertemuan yang dihadiri pemimpin dunia. Secara umum FSD telah melahirkan beberapa harapan bagi masyarakat seluruh dunia khususnya dalam hal kritik terhadap kebijakan pemerintah yang membela kepentingan korporasi dan ekonomi kapitalisme.
Struktur dalam FSD sendiri tidak memiliki sebuah jenjang hirarkis melainkan bergerak secara desentralisasi atau tidak mempunyai pemimpin individu. Keputusan pertemuan berdasarkan pada komite Internasional di mana badan ini dibentuk sebagai penanggung jawab dari berjalannya forum ini, setiap anggota komite terdiri dari perwakilan organisasi-organisasi internasional yang bergerak secara lintas sektoral. Komite ini bekerja secara sektoral artinya terdiri dari organisasi yang membawahi berbagai macam isu kemudian mengadakan rapat setiap tiga bulan sekali untuk menentukan permasalahan apa yang dibicarakan pada FSD. Setelah itu komite memberikan arahan kepada Organizing Committee (OC) yaitu komite yang dibentuk oleh negara penyelenggara yang telah ditunjuk oleh internasional.
Antusias ribuan orang dari seluruh dunia untuk hadir dalam FSD dari tahun ke tahun terus meningkat, pada awal penyelenggaraan tahun 2001 tidak kurang dihadiri 2000 orang sedangkan pada pertemuan terakhir tahun 2009 tercatat 100.000 orang mengikuti berbagai seminar, workshop, dan penampilan kebudayaan. Meningkatnya peserta yang hadir tidak lepas dari makin meluasnya isu dan juga permasalahan dunia yang diakibatkan oleh tidak adilnya ekonomi dunia akibat dominasi kapitalisme. Jumlah peserta yang meningkat juga diiringi oleh makin meluasnya isu-isu yang dibahas pada pertemuan ini, pada setiap tahunnya FSD juga banyak merespon permasalahan yang sedang berkembang di dunia seperti perang, resesi ekonomi, dan pemanasan global.
Globalisasi merupakan suatu bagian sistem internasional di mana ciri utamanya adalah bentuk perdagangan bebas melalui bentuk badan-badan moneter maupun berbentuk kawasan regional. Didalam sistem tersebut dominasi dari perusahaan korporasi begitu menguat dan menyebabkan kapitalisme terus mengakar menyebabkan ketidakadilan di masyarakat khususnya kelas pekerja, kaum miskin, dan petani. Sistem yang kemudian berkembang menjadi sebuah aliran Neoliberalisme ini semakin lama membuat situasi dunia tidak menentu, dengan berbagai perangkatnya kemudian Globalisasi melegalkan praktek-praktek seperti privatisasi pelayanan publik, invasi perdagangan, dan perang. Situasi demikian hampir serupa dengan model kolonial yang dilakukan oleh Negara-negara barat terhadap Negara berkembang pada akhir abad 19 hingga pertengahan abad 20 dan Negara seperti Inggris, Perancis, Belanda, dan Amerika Serikat. Berbagai bentuk perlawanan pada sistem ini maupun kolonialisme terjadi di berbagai Negara saat itu tidak terkecuali dengan menggunakan perang sebagai taktik yang sangat disukai oleh kapitalisme untuk memperluas pasar. Pada saat ini agresifitas ekonomi neoliberalisme dibawah label globalisasi telah menyebabkan kesenjangan yang tinggi bukan hanya antara barat dan timur melainkan juga orang kaya dan miskin. Karena pengalaman dan faktor itulah maka pada masa sekarang banyak masyarakat mulai merasakan penindasan korporasi tersebut, atas inisiatif beberapa organisasi membuat berbagai forum maupun jenis aksi massa untuk melawan dominasi tersebut. FSD yang bagi para aktivis anti globalisasi adalah ruang untuk tempat bertukar pikiran sekaligus tempat membentuk jaringan diharapkan bias mewujudkan masyarakat dunia yang adil dalam sistem globalisasi ini.
Hasil-hasil yang telah dikeluarkan oleh forum ini masih di dominasi oleh organisasi NGO dan beberapa grup lainnya, tetapi meskipun demikian FSD juga sempat mengeluarkan suatu agenda besar yaitu aksi global menentang perang Irak pada tahun 2003 dan juga pertemuan ini dijadikan ajang legitimasi politik seperti yang dilakukan oleh Hugo Chavez di mana Venezuela menyelenggarakan FSD tahun 2005. Harapan akan hasil yang bisa membawa perubahan dunia merupakan keinginan dari para peserta yang hadir, sehingga banyak peserta forum ini membawa berbagai permasalahan untuk di perbincangkan dan mendapatkan respon dari masyarakat dunia. Meski hasil pertemuan ini hanya bersifat sektoral seperti isu peburuhan, air, lingkungan hidup, perdagangan, anti perang, masyarakat adat, dan lain sebagainya namun daya jangkaunya tergantung dari sosialisasi yang dilakukan oleh organisasi-organisasi yang hadir dalam FSD.
Setelah eforia di kalangan aktivis anti globalisasi dalam menyikapi FSD dan semangat mereka pada setiap pertemuan terdapat sebuah pertanyaan besar yaitu bagaimana efektifitas dari forum ini. Walaupun hasil kesimpulan dari FSD berbuah secara sektoral dan lebih menyempit tetapi masih banyak yang perlu dipertanyakan mengenai perkembangannya terakhir, di mana sosialisasi mengenai program aksi dan kerja organisasi tidak begitu diketahui oleh publik secara luas. Sebab dengan jumlah peserta dan beberapa Negara yang telah menjadi penyelenggara seharusnya sudah dapat membuahkan hasil yang dirasakan oleh masyarakat dunia. Tidak hanya itu para organisasi peserta yang selalu mengikuti FSD pun mulai Nampak eksklusif dari gerakan sosial ataupun masyarakat. Bahkan ketidakjelasan organisasi sudah terlihat beberapa tahun belakangan di mana komite internasional meniadakan forum pada tahun 2008 dan digantikan dengan aksi global di seluruh dunia sebagai pengganti pertemuan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan pendapat antara para aktivis pengusung FSD dalam komite internasional, secara spekulasi bisa dikatakan bahwa banyaknya organisasi di komite menyebabkan perpecahan ini.
Tantangan yang dihadapi oleh FSD ini merupakan suatu tekanan bagi gerakan sosial yang beberapa tahun ini telah menjadikan forum tersebut sebagai dasar nilai perjuangan. Karena fondasi seluruh gerakan sosial yang kritis terhadap Globalisasi mengumpulkan energinya dalam pertemuan ini, bukan hanya itu dari sini pula mereka mendapatkan jaringan. Jaringan yang mereka dapatkan bisa berupa pelatihan ataupun sumbangan dana, untuk hal yang terakhir ini merupakan permasalahan pokok yang selalu memecahkan gerakan.
Seperti di jelaskan sebelumnya bahwa ratusan organisasi bergabung dalam komite internasional FSD sebagai pusat dari informasi pertemuan tersebut. Perpecahan isu ataupun struktur yang kini terjadi dalam FSD menjadikan forum ini kemudian tidak begitu mendapatkan respon luas dari masyarakat dunia, para organisasi yang bergabung dalam forum ini kemudian terjebak oleh jaringan pendanaan untuk membiayai gerakan-gerakan sosial. Indikasi ini sangat kuat sebab setiap pertemuan tersebut para aktivis maupun organisasi yang hadir selain berharap mendapatkan jaringan juga dana untuk melaksanakan aksi-aksi di tingkatan lokal. Beberapa organisasi besar yang duduk dalam komposisi komite adalah Oxfam, Action Aid, Greenpeace, Caritas International, dan masih banyak lainnya. Beberapa organisasi yang cukup besar diatas banyak memiliki andil kerjasama dengan perusahaan maupun mendapatkan pendanaan juga dari pemerintahan suatu Negara dan korporasi.
Maka tidak bisa dipungkiri bagaimana peran beberapa korporasi sangat penting guna memetakan gerakan sosial dalam forum tersebut. Karena waktu penyelenggaraan yang bersamaan dengan Forum Ekonomi Dunia menguatkan indikasi tersebut, meski para aktivis berargumentasi bahwa pertemuan ini sebagai tandingan namun beberapa delegasi dari organisasi tersebut juga ada dalam. Kepentingan dari Negara maju dan perusahaan korporasinya sangat berperan besar untuk melihat sejauh mana para aktivis sosial ini bergerak dan bekerja, dengan memanfaatkan organisasi-organisasi untuk menjadikan agen kedalam gerakan sosial tersebut.
Perpecahan dalam FSD yang menyebabkan tidak menguatnya isu dalam mengkritik globalisasi tersebut telah membawa perdebatan dikalangan akademisi pengkritik globalisasi. Bukan hanya itu dalam gerakan sosial pun kini mengalami perdebatan dan perpecahan untuk menyamakan isu pada setiap aksi-aksi internasional. Pada tubuh komite FSD sendiri perdebatan terjadi antara organisasi yang meninginkan adanya struktur hirarkis agar hasil-hasil pertemuan bisa menjadi lebih tersentral sedangkan dari kelompok yang tetap FSD sebagai forum kolektif ingin agar semua kelompok yang terlibat dalam FSD mempunyai hasil rekomendasi sendiri. Pertemuan yang berlangsung di beberapa Negara belakangan ini sudah mulai tidak diikuti oleh beberapa organisasi yang kritis terhadap kebijakan komite internasional, kemudian kelompok-kelompok tersebut membuat forum serupa dengan FSD yang biasanya diadakan dekat dari lokasi pertemuan FSD.
Kurangnya sosialisasi akan isu-isu sektoral ke masyarakat seluruh dunia dan juga tidak populisnya peran FSD kepada dunia menyebabkan pertemuan ini hanya dimiliki oleh segelintir organisasi non profit yang notabene memiliki hubungan dekat dengan korporasi dan Negara maju. Karl Marx bersama Engels pada tahun 1848 membentuk suatu kumpulan organisasi internasional pertama untuk kelompok buruh yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal lahirnya sosialisme bertujuan untuk melawan hegemoni kapitalisme kala itu meski perkembangannya menjadi mati suri. FSD pun memiliki prinsip dan terinspirasi oleh internasionalisme tersebut namun faktor funding dan dana yang perkembangannya semakin pesat menghalangi nilai perjuangan tersebut. FSD harus belajar dari beberapa pengalaman yang dimana dana selalu menjadi pokok persoalan kepentingan dari korporasi untuk memecah belah, apapun yang terjadi di tubuh FSD pertemuan ini harus dapat menginspirasi seluruh gerakan sosial dunia. Sehingga pertanyaan mendasar yang saat ini terjadi dalam akademisi gerakan sosial dapat terjawab.
Pada tahun 2001 pertemuan ini merupakan forum yang pertama kali diadakan beberapa tokoh utama dalam mengkritisi kebijakan Globalisasi seperti Susan George, Noam Chosmky, Walden Bello merupakan salah satu tokoh dari pelopor FSD. Pada pertemuan pertama ini lahirlah sebuah prinsip-prinsip dasar perjuangan FSD yang pada kalimat pembukanya tertulis bahwa forum ini adalah tempat yang demokratis serta terbuka masyarakat sipil untuk saling bertukar pikiran dan informasi guna melawan kapitalisme dan globalisasi. Melalui pertemuan ini pula para aktivis dan pemikir dari seluruh dunia membuat agenda untuk rencana aksi selama satu tahun untuk konsolidasi gerakan sosial. Forum Sosial Dunia hanya memiliki mandat menyatukan dan membangun jaringan dari organisasi dan gerakan masyarakat sipil dari semua negeri di seluruh dunia,namun tidak berniat menjadi sebuah badan yang mewakili masyarakat
sipil dunia begitu menurut salah satu prinsip dasar pertemuan ini. Dari prinsip inilah maka kemudian pertemuan ini memiliki tujuan dan arah untuk membuat agenda aksi-aksi sosial untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan neoliberalisme di suatu Negara. Tidak hanya itu dari prinsip ini lahirlah sebuah jaringan internasional untuk kemudian membuat aksi bersama secara global dan juga penyebaran forum sosial hingga ke wilayah-wilayah lokal. Organisasi yang bergabung kedalam pertemuan ini bersifat terbuka dari berbagai aliran politik dan memiliki isu-isu yang sektoral sehingga banyak pernyataan dari FSD tidak begitu tersentral melainkan akan banyak sekali hasil statemen yang didapat dari pertemuan ini.
Pertemuan FSD sendiri sudah berlangsung selama kurum waktu 8 tahun dan beberapa Negara telah menjadi tuan rumah dari pertemuan akbar aktivis sosial tersebut. Tahun 2001-2003 forum ini diadakan di Brazil sedangkan pada tahun 2004 giliran Mumbai, India sebagai tuan rumahnya, kemudian Venezuela, Kenya, dan Mali. Dari semua pertemuan tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi maupun aksi secara langsung seperti demonstrasi menentang perang Irak secara global dan pembuatan forum-forum alternatif di setiap pertemuan yang dihadiri pemimpin dunia. Secara umum FSD telah melahirkan beberapa harapan bagi masyarakat seluruh dunia khususnya dalam hal kritik terhadap kebijakan pemerintah yang membela kepentingan korporasi dan ekonomi kapitalisme.
Struktur dalam FSD sendiri tidak memiliki sebuah jenjang hirarkis melainkan bergerak secara desentralisasi atau tidak mempunyai pemimpin individu. Keputusan pertemuan berdasarkan pada komite Internasional di mana badan ini dibentuk sebagai penanggung jawab dari berjalannya forum ini, setiap anggota komite terdiri dari perwakilan organisasi-organisasi internasional yang bergerak secara lintas sektoral. Komite ini bekerja secara sektoral artinya terdiri dari organisasi yang membawahi berbagai macam isu kemudian mengadakan rapat setiap tiga bulan sekali untuk menentukan permasalahan apa yang dibicarakan pada FSD. Setelah itu komite memberikan arahan kepada Organizing Committee (OC) yaitu komite yang dibentuk oleh negara penyelenggara yang telah ditunjuk oleh internasional.
Antusias ribuan orang dari seluruh dunia untuk hadir dalam FSD dari tahun ke tahun terus meningkat, pada awal penyelenggaraan tahun 2001 tidak kurang dihadiri 2000 orang sedangkan pada pertemuan terakhir tahun 2009 tercatat 100.000 orang mengikuti berbagai seminar, workshop, dan penampilan kebudayaan. Meningkatnya peserta yang hadir tidak lepas dari makin meluasnya isu dan juga permasalahan dunia yang diakibatkan oleh tidak adilnya ekonomi dunia akibat dominasi kapitalisme. Jumlah peserta yang meningkat juga diiringi oleh makin meluasnya isu-isu yang dibahas pada pertemuan ini, pada setiap tahunnya FSD juga banyak merespon permasalahan yang sedang berkembang di dunia seperti perang, resesi ekonomi, dan pemanasan global.
Globalisasi merupakan suatu bagian sistem internasional di mana ciri utamanya adalah bentuk perdagangan bebas melalui bentuk badan-badan moneter maupun berbentuk kawasan regional. Didalam sistem tersebut dominasi dari perusahaan korporasi begitu menguat dan menyebabkan kapitalisme terus mengakar menyebabkan ketidakadilan di masyarakat khususnya kelas pekerja, kaum miskin, dan petani. Sistem yang kemudian berkembang menjadi sebuah aliran Neoliberalisme ini semakin lama membuat situasi dunia tidak menentu, dengan berbagai perangkatnya kemudian Globalisasi melegalkan praktek-praktek seperti privatisasi pelayanan publik, invasi perdagangan, dan perang. Situasi demikian hampir serupa dengan model kolonial yang dilakukan oleh Negara-negara barat terhadap Negara berkembang pada akhir abad 19 hingga pertengahan abad 20 dan Negara seperti Inggris, Perancis, Belanda, dan Amerika Serikat. Berbagai bentuk perlawanan pada sistem ini maupun kolonialisme terjadi di berbagai Negara saat itu tidak terkecuali dengan menggunakan perang sebagai taktik yang sangat disukai oleh kapitalisme untuk memperluas pasar. Pada saat ini agresifitas ekonomi neoliberalisme dibawah label globalisasi telah menyebabkan kesenjangan yang tinggi bukan hanya antara barat dan timur melainkan juga orang kaya dan miskin. Karena pengalaman dan faktor itulah maka pada masa sekarang banyak masyarakat mulai merasakan penindasan korporasi tersebut, atas inisiatif beberapa organisasi membuat berbagai forum maupun jenis aksi massa untuk melawan dominasi tersebut. FSD yang bagi para aktivis anti globalisasi adalah ruang untuk tempat bertukar pikiran sekaligus tempat membentuk jaringan diharapkan bias mewujudkan masyarakat dunia yang adil dalam sistem globalisasi ini.
Hasil-hasil yang telah dikeluarkan oleh forum ini masih di dominasi oleh organisasi NGO dan beberapa grup lainnya, tetapi meskipun demikian FSD juga sempat mengeluarkan suatu agenda besar yaitu aksi global menentang perang Irak pada tahun 2003 dan juga pertemuan ini dijadikan ajang legitimasi politik seperti yang dilakukan oleh Hugo Chavez di mana Venezuela menyelenggarakan FSD tahun 2005. Harapan akan hasil yang bisa membawa perubahan dunia merupakan keinginan dari para peserta yang hadir, sehingga banyak peserta forum ini membawa berbagai permasalahan untuk di perbincangkan dan mendapatkan respon dari masyarakat dunia. Meski hasil pertemuan ini hanya bersifat sektoral seperti isu peburuhan, air, lingkungan hidup, perdagangan, anti perang, masyarakat adat, dan lain sebagainya namun daya jangkaunya tergantung dari sosialisasi yang dilakukan oleh organisasi-organisasi yang hadir dalam FSD.
Setelah eforia di kalangan aktivis anti globalisasi dalam menyikapi FSD dan semangat mereka pada setiap pertemuan terdapat sebuah pertanyaan besar yaitu bagaimana efektifitas dari forum ini. Walaupun hasil kesimpulan dari FSD berbuah secara sektoral dan lebih menyempit tetapi masih banyak yang perlu dipertanyakan mengenai perkembangannya terakhir, di mana sosialisasi mengenai program aksi dan kerja organisasi tidak begitu diketahui oleh publik secara luas. Sebab dengan jumlah peserta dan beberapa Negara yang telah menjadi penyelenggara seharusnya sudah dapat membuahkan hasil yang dirasakan oleh masyarakat dunia. Tidak hanya itu para organisasi peserta yang selalu mengikuti FSD pun mulai Nampak eksklusif dari gerakan sosial ataupun masyarakat. Bahkan ketidakjelasan organisasi sudah terlihat beberapa tahun belakangan di mana komite internasional meniadakan forum pada tahun 2008 dan digantikan dengan aksi global di seluruh dunia sebagai pengganti pertemuan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan pendapat antara para aktivis pengusung FSD dalam komite internasional, secara spekulasi bisa dikatakan bahwa banyaknya organisasi di komite menyebabkan perpecahan ini.
Tantangan yang dihadapi oleh FSD ini merupakan suatu tekanan bagi gerakan sosial yang beberapa tahun ini telah menjadikan forum tersebut sebagai dasar nilai perjuangan. Karena fondasi seluruh gerakan sosial yang kritis terhadap Globalisasi mengumpulkan energinya dalam pertemuan ini, bukan hanya itu dari sini pula mereka mendapatkan jaringan. Jaringan yang mereka dapatkan bisa berupa pelatihan ataupun sumbangan dana, untuk hal yang terakhir ini merupakan permasalahan pokok yang selalu memecahkan gerakan.
Seperti di jelaskan sebelumnya bahwa ratusan organisasi bergabung dalam komite internasional FSD sebagai pusat dari informasi pertemuan tersebut. Perpecahan isu ataupun struktur yang kini terjadi dalam FSD menjadikan forum ini kemudian tidak begitu mendapatkan respon luas dari masyarakat dunia, para organisasi yang bergabung dalam forum ini kemudian terjebak oleh jaringan pendanaan untuk membiayai gerakan-gerakan sosial. Indikasi ini sangat kuat sebab setiap pertemuan tersebut para aktivis maupun organisasi yang hadir selain berharap mendapatkan jaringan juga dana untuk melaksanakan aksi-aksi di tingkatan lokal. Beberapa organisasi besar yang duduk dalam komposisi komite adalah Oxfam, Action Aid, Greenpeace, Caritas International, dan masih banyak lainnya. Beberapa organisasi yang cukup besar diatas banyak memiliki andil kerjasama dengan perusahaan maupun mendapatkan pendanaan juga dari pemerintahan suatu Negara dan korporasi.
Maka tidak bisa dipungkiri bagaimana peran beberapa korporasi sangat penting guna memetakan gerakan sosial dalam forum tersebut. Karena waktu penyelenggaraan yang bersamaan dengan Forum Ekonomi Dunia menguatkan indikasi tersebut, meski para aktivis berargumentasi bahwa pertemuan ini sebagai tandingan namun beberapa delegasi dari organisasi tersebut juga ada dalam. Kepentingan dari Negara maju dan perusahaan korporasinya sangat berperan besar untuk melihat sejauh mana para aktivis sosial ini bergerak dan bekerja, dengan memanfaatkan organisasi-organisasi untuk menjadikan agen kedalam gerakan sosial tersebut.
Perpecahan dalam FSD yang menyebabkan tidak menguatnya isu dalam mengkritik globalisasi tersebut telah membawa perdebatan dikalangan akademisi pengkritik globalisasi. Bukan hanya itu dalam gerakan sosial pun kini mengalami perdebatan dan perpecahan untuk menyamakan isu pada setiap aksi-aksi internasional. Pada tubuh komite FSD sendiri perdebatan terjadi antara organisasi yang meninginkan adanya struktur hirarkis agar hasil-hasil pertemuan bisa menjadi lebih tersentral sedangkan dari kelompok yang tetap FSD sebagai forum kolektif ingin agar semua kelompok yang terlibat dalam FSD mempunyai hasil rekomendasi sendiri. Pertemuan yang berlangsung di beberapa Negara belakangan ini sudah mulai tidak diikuti oleh beberapa organisasi yang kritis terhadap kebijakan komite internasional, kemudian kelompok-kelompok tersebut membuat forum serupa dengan FSD yang biasanya diadakan dekat dari lokasi pertemuan FSD.
Kurangnya sosialisasi akan isu-isu sektoral ke masyarakat seluruh dunia dan juga tidak populisnya peran FSD kepada dunia menyebabkan pertemuan ini hanya dimiliki oleh segelintir organisasi non profit yang notabene memiliki hubungan dekat dengan korporasi dan Negara maju. Karl Marx bersama Engels pada tahun 1848 membentuk suatu kumpulan organisasi internasional pertama untuk kelompok buruh yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal lahirnya sosialisme bertujuan untuk melawan hegemoni kapitalisme kala itu meski perkembangannya menjadi mati suri. FSD pun memiliki prinsip dan terinspirasi oleh internasionalisme tersebut namun faktor funding dan dana yang perkembangannya semakin pesat menghalangi nilai perjuangan tersebut. FSD harus belajar dari beberapa pengalaman yang dimana dana selalu menjadi pokok persoalan kepentingan dari korporasi untuk memecah belah, apapun yang terjadi di tubuh FSD pertemuan ini harus dapat menginspirasi seluruh gerakan sosial dunia. Sehingga pertanyaan mendasar yang saat ini terjadi dalam akademisi gerakan sosial dapat terjawab.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Menulis Dengan Rasa
Menulis dengan rasa, inilah behind the scene dari proses menulis opini untuk Harian Kompas yang terbit (27/05/23). Pagi itu saya sehabis la...